Tentang Sahabat #1


Waktu kecil kalian pasti memiliki banyak teman. Teman di kompleks, teman di kampung halaman, teman di sekolah, bahkan teman di tempat kursus. Tapi, hany beberapa orang yang berteman dengan kalian begitu dekat. Apakah mereka bisa dikatakan sahabat?? Hmm... tergantung bagaimana kita menilai mereka sih...

Saat kecil, aku bukan orang yang berani. Sekarang juga sih. Aku selalu bersembunyi di belakang orang lain. Anehnya, saat aku menjadi anak baru di sebuah sekolah dasar. Tanpa aku minta dan aku tunjukkan, seorang murid perempuan sangat melindungiku. Ia menjadi teman pertamaku di sekolah. Apapun, kemanapun. Ia seperti bodyguard untukku. Sementara, aku bukan anak siapa-siapa. Aku hanya anak biasa aja. Nggak cerdas-cerdas amat walau selalu dapat juara satu.

Kami memanggilnya, Uli. Nama lengkapnya Muliana. Anaknya tinggi, besar, dan cantik. Beda banget sama aku. Kecil, kurus dan biasa aja. Aku tidak tahu apa yang ia lihat dariku. Tapi, aku menghargai usahanya. Kami pun berteman dekat. Aku selalu mengunjungi rumahnya. Begitupun dengannya. 

Hingga suatu hari. Di usia kami yang baru menginjak 10 tahun. Uli mengatakan bahwa ia ingin menginap di rumahku. Aku sih mengiyakan. Karena toh cuma menginap. Setelah dua hari menginap. Uli tidak menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Aku pun mulai menyadari bahwa Uli kabur dari rumah. Ibunya bahkan menemukan rumahku dan menyeretnya pulang. Orangtuaku marah-marah. Tidak mau rumahnya menjadi tempat pelarian seorang anak yang kabur.

Hubunganku dengan Uli renggang. Mungkin dia malu bertemu denganku. Mungkin dia malu ketika aku tahu bagaimana kondisi keluarganya sehingga ia ingin segera lari dari sana. Aku kasihan sama Uli. Tapi, ia berubah. Ia bukan tumbuh menjadi gadis yang baik hati. Ia terlalu 'centil' saat kami duduk di kelas enam SD. 

Ah... pertemanan masa kecil. Penuh warna karena kami belum mengenal apapun. Hanya teman.

Saat aku SMP, aku mendengar ia putus sekolah. Ibunya meninggal dunia. Kakaknya pergi entah kemana. Ingin sekali aku pergi menemuinya. Membantunya. Karena aku tahu Uli gadis yang pintar. Tapi, tak pernah aku lakukan.

Suatu hari di pusat perbelanjaan, aku yakin sekali melihatnya. Ia juga melihatku. Tapi, kami sama-sama tidak berani menegur. Ia yang harusnya sekolah di SMA, malah menjadi seorang pramuniaga atau penjaga toko. Dandanannya pun seperti orang dewasa karena ia menjada toko kosmetik.

Sahabat...
Aku tidak tahu maknanya...
Namun,
Karena kau adalah teman pertamaku di kota itu...
Kau adalah sahabatku juga...
Semoga kita bisa ketemu lagi ^^

Dari gadis yang mengutamakan "kenyamanan"

0 komentar: