Sunday, June 30, 2013

Posted by shy_ | File under : , ,



            Kita mengenal bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa penyatu international. Beragam bahasa di dunia disatukan dengan bahasa Inggris. Setiap negara wajib mengetahui bahasa Inggris. Bahasa Inggris dipelajari hampir disetiap sekolah di negara-negara dunia. Bahkan dari kecil kita sudah mulai belajar bahasa Inggris.

            Bahasa Inggris yang menyatukan ribuan bahasa di dunia memang sangat fenomenal. Tetapi, ada bahasa yang lain yang juga tak kalah hebat dari bahasa Inggris. Itulah Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesie berasal dari bahasa melayu kuno yang diperbaharui hingga tiba pada suatu kamus besar bahasa indonesia. Bahasa Indonesia digunakan untuk menyatukan lebih dari 700 lebih bahasa Ibu di Indonesia.

            Indonesia dengan 17000 pulau yang terbentang luas dari sabang sampai merauke memiliki banyak suku. Masing-masing suku memiliki bahasa sendiri. Misalnya di Sulawesi Tenggara, selain bahasa Indonesia masing-masing suku yang ada memiliki bahasa sendiri. Memang tidak berbeda jauh antara suku yang satu dengan suku yang lain. Namun, perbedaan terletak pada logat dan ciri khas masing-masing suku. Menurut wikipedia, total bahasa Ibu yang ada di Indonesia sekitar 748 bahasa Ibu. Dengan bahasa yang banyak dan berbeda tersebut, sangat tidak mungkin jika kita tidak memiliki bahasa persatuan. Untuk itulah bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia.

            Bahasa Indonesia diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1928 tepat pada hari sumpah pemuda. Seperti salah satu bait dari sumpah pemuda, “Bangsa Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia.” Dari sudut pandang linguistik, bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang). dari abad ke-19. Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan "Bahasa Indonesia" diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan "imperialisme bahasa" apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

            Meskipun sebagai bahasa utama, tidak banyak dari warga Indonesia yang mengetahui bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia belum menyentuh seluruh pelosok Indonesia. Seperti di sebuah Desa di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan, Desa Towata yang banyak penduduknya tidak bisa mengucapkan bahasa Indonesia namun masih sedikit paham jika ada yang berbicara menggunakan bahasa indonesia. 

            Bahasa Indonesia menjadi sangat penting untuk dipelajari ketimbang bahasa Inggris jika kita melihat keadaan ini. Banyak masyarakat Indonesia yang tinggal dipedalaman ternyata tidak mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangankan bahasa Indonesia yang baik dan benar, bisa berbicara yang baik saja tidak benar. Untuk itulah sangat penting mempelajari bahasa Indonesia.

            Banyak dari kita yang menganggap remeh untuk mempelajari bahasa Indonesia. Menganggap tidak penting karena kita juga selalu menggunakan bahasa itu. Padahal penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari menjadi titik penting mengapa bahasa Indonesia penting untuk dipelajari. Dengan fasih dan mencintai bahasa Indonesia, maka bangsa lain akan menganggap penuh takjub atas kecintaan kita pada bahasa sendiri. Seperti negara Jepang yang sangat menjunjung tinggi bahasa mereka sehingga banyak negara yang ingin tahu dan mempelajari bahasa Jepang.

            Hari Sumpah Pemuda memang masih lama. Namun, mari kita tetap sebarkan semangat mencintai Bahasa Indonesia tanpa melupakan bahasa Ibu juga donk. Aku Bangga Dengan Bahasa Indonesia. 

C

Friday, June 14, 2013

Posted by shy_ | File under : , ,


13 Juni 2013
            Dihiasi dengan angka ‘sial’ menurut mitos, mahasiswa peserta KKN-PK (Profesi Kesehatan) berangkat dari kampus menuju kabupaten Takalar. Di dalam kepalaku, Takalar adalah sebuah kota yang sering didengar tapi abstrak. Samar-samar saya membayangkan, mengimajinasikan kota Takalar mungkin tidak jauh berbeda dengan kota Bau-bau.
            Alhamdulillah, barang bawaan yang begitu banyak sedikit bisa dibantu oleh kawan-kawan yang baik hati. Terima kasih buat Ainum yang dengan berbaik hati memberikan tumpangan padaku. Juga buat adiknya yang membantu membawakan tas besarku. Sejak malam, sudah tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini yang akan begitu berat. Air mata jatuh diam-diam takkala menerima telepon dari mama dan bude yang melepas kepergianku dengan doa. Ah~ saya berusaha tegar untuk tidak menjadi manja. Setelah memutuskan untuk kuliah di luar kota, hal-hal seperti ini akan selalu terjadi. Mengurus diri sendiri. Mengepak barang sendiri. Tanpa bantuan dari orang tua. Sedih? Iya sih. Tetapi, kita harus bertambah dewasa dan mandiri. Bukankah itu tujuan dari kuliah jauh dengan orang tua.
            Berangkat yang awalnya bersama teman-teman di bus batal. Ainum menjemputku terlalu lama dan tentu saja saya menunggu. Meskipun saya tidak suka menunggu, tapi saya tetap akan menunggu. Bus nya penuh dan saya menerima anugerah Allah yang lain. berangkat semobil dengan kiki. Terima kasih Kiki. Ya~ setidaknya tidak perlu berdesak-desakkan di bis. Lagi pula terlalu banyak orang dan barang. Jadi, ini sebuah anugerah.
            Tiba di kantor Bupati Takalar, kami menunggu diluar karena hanya kordes dan korkab yang mengikuti acara pelepasan. Di sana, setidaknya bertemu dengan teman-teman seposko dan juga sahabat-sahabatku. Tapi, saya nggak lihat Fara. Belum bisa move on dari posko PBL itu tema saat bertemu teman-teman posko. Yupp~ 6 minggu bersama di PBL membuat suatu keeratan di dalam hati kami (iyakah? Haha!). Ya~ setidaknya sangat menyenangkan bersama kalian Tammuaach! Sulit menemukan yang seperti kalian : D
            Perjalanan berikutnya mencari posko KKN. Bertemu dengan seorang karyawan di kantor kecamatan. Mereka semua mengatakan kasihan pada kami yang mendapat desa paling ujung di Takalar, Desa Towata. Kepala Desanya belum datang dan kami hanya bisa berspekulasi tentang kondisi tempat kami akan belajar lapangan nanti. Syukurlah Bapak Kepala Desa segera tiba dengan dua mobil untuk kami. Beliau pun menjelaskan bahwa kondisi jalan ke desa kami bagus. Alhamdulillah. Kedua, lokasi kami dekat dengan kota Makassar lewat daerah Sungguminasa Gowa. Alhamdulillah.
            Perjalanan kami terus melaju melalui daerah Gowa. Sebenarnya banyak jalan menuju Desa Towata berhubung desa tersebut dekat dengan perbatasan Gowa-Takalar. Tetapi, rute yang dianjurkan oleh Kades ini...sangat jauhh! Diperjalanan saya bahkan sempat tertidur. Semakin lama, warung-warung makan dan alfa-alfa mart yang bertebaran di jalan mulai menghilang digantikan hamparan sawah yang menghijau. Khas Indonesia sekali. Sawah berganti dengan bendungan panjang di sisi jalan. Juga hamparan kebun tebu dan jagung. Hingga kami masuk ke daerah Desa Towata.
            Sepi. Sunyi. Senyap. Damai. Itu adalah kesan pertama ketika memasuki kawasan Towata. Kami akui memang jalanan desa ini mulus lancar, tetapi apa bedanya jalanan mulus dengan daerah yang tanpa kendaraan umum. Sepi sekali. Saya dan teman-teman hanya bisa menahan napas melihat daerah yang mulai menjadi desa sekali. Tetapi, syukurlah kami diterima dengan baik oleh Ibu Desa dan juga tetangga-tetangganya.
            Satu hal yang perlu disyukuri adalah air yang tidak perlu ditimba. Meskipun keruh tetapi setidaknya kami bisa mandi. Karena ada teman kampus yang hidupnya selama dua bulan akan menimba air.
            Well~ meskipun bunyi jangkrik di malam hari akan terdengar nyaring, tetapi harus tetap dijalani dengan semangat!! Semangat! Masih ada dua bulan lagi -___-
            See yaa, tomorrow! *bow*
Posted by shy_ | File under : ,

Bukan Untuk Diulang
By : Achy

            Semester empat berakhir dengan kesibukan. Setelah mata kuliah-mata kuliah yang melelahkan, mulai dari praktik survailans yang menguras tenaga, waktu dan hati. Juga praktek survai epidemiologi yang mengubahmu sekejap menjadi peneror lewat telepon. Semester empat yang sibuk ternyata tidak diakhiri dengan santai. Sebuah momen yang tak diharapkan menanti di ujung semester ini. PBL...

            Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) menjadi misteri bagi setiap mahasiswa baru. Seperti apa mata kuliah lapangan yang dilaksanakan tiga kali ini? Apakah akan susah sekali? Berhubung kita diwajibkan tinggal bersama mahasiswa lain dari jurusan berbeda di satu atap selama dua minggu. Misteri itu mulai terpecahkan seiring waktu pemberangkatan mulai dekat.

            Di sinilah di sebuah kecamatan di pinggir kota Makassar, kami melakukan pendekatan dengan teman-teman lainnya dan juga masyarakat sekitar. Kelurahan Tammua Kecamatan Tallo. Bersama dengan 17 orang lainnya, kami duduk bersama di bawah satu atap. Berbagi pikiran bersama untuk mewujudkan satu tujuan bersama “Tammua Lebih Bersih”.

            Delapan Belas pejuang kesehatan itu datang dari jurusan berbeda, dengan karakter yang berbeda-beda, dengan sifat dan tindakan yang beda, lucu, unik dan tidak ada duanya. Bersama dengan pembekalan selama empat bulan berjuang untuk merubah perilaku masyarakat Tammua menjadi lebih baik.
PBL 1 penuh dengan kerja keras!

            Tidak pernah kami bayangkan untuk selelah ini dalam pengumpulan data. Pergi pagi, panas-panasan, mengetok rumah ke rumah yang lain bak peminta sumbangan, pulang di sore hari dengan bermandikan peluh. Belum lagi jika hari itu adalah hari piketmu, maka semakin beratlah beban Anda. 

            Sore hari bukan untuk bersantai. Perjuangan belum selesai. Onggokan kertas seolah memanggil kami dengan suara keras untuk segera diselesaikan. SPSS adalah sebuah software yang menakutkan. Menginput data memang terlihat mudah, tetapi sebenarnya sangat membosankan. Membutuhkan ketelitian agar tidak ada data yang missing dan tentu saja benar dalam penginputan. Hasil input data itu sangat berpengaruh dalam hasil seminar nanti. Ini karena para RW dan RT serta Kader yang siap membantah jika data ternyata salah.

PBL 2 Penuh Penolakan!
            Ternyata dalam kesulitan mengumpul data kemarin, lebih sulit lagi dalam melakukan penyuluhan. Ini bukan soal rasa malu, ini tentang harga diri. Dipandang pintar karena menjadi mahasiswa bukan berarti menjadi perhatian dalam masyarakat di kota besar. Penyuluhan HIV/AIDS kami yang diadakan di SMA Muhammadiyah 7 memang disambut baik oleh siswa-siswi. Penyuluhan di sekolah Dasar juga tidak begitu menyedihkan. Namun, penyuluhan di masyarakat luas adalah sebuah tantangan yang menguras emosi.

            Penyuluhan tentang Bahaya Rokok di lakukan di RW 01, RW 02 dan RW 05. Di sinilah kami belajar bahwa meskipun kami mahasiswa, yang merupakan sosok intelektual, tetap saja kami hanya manusia biasa yang butuh perjuangan untuk mengumpulkan warga agar mau mendengar kami.

            Hal serupa juga terjadi pada penyuluhan sampah. Kami sangat kecewa karena partisipasi masyarakat yang kurang. Meski begitu kami tetap memakluminya karena bagaimanapun ini adalah salah kami dalam kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

            Untuk penyuluhan ASI Eksklusif membutuhkan tenaga ekstra untuk menari perhatian para ibu-ibu yang membawa bayinya untuk diimunisasi. Mengumpulkan mereka memang tidak susah sebab tempat kami mengadakan penyuluhan adalah posyandu dimana mereka akan datang dengan sendirinya. Namun, kesulitan terjadi pada saat penyampaian materi dimana mereka lebih fokus untuk menjaga bayinya dibandingkan mendengarkan kami yang datang dengan sepenuh hati untuk menyebarkan informasi kesehatan setulus hati.

            Pemberian informasi kesehatan pada masyarakat sebanding dengan kesulitan mendapatkan hasil yang di inginkan, perubahan perilaku masyarakat dari negatif menjadi positif. Namun, perhatian yang kurang dari masyarakat menjadi sebuah tantangan tersendiri yang di hadapi. Kenapa? Karena meskipun kita sudah datang dengan suka cita dan disambut oleh tetua kelurahan dengan hangat, tidak berarti dengan masyarakat sekitar. Permasalahannya adalah kita berada di kota besar!

            Perbedaan mendasar dari pembimbingan pada kota dan desa pada letak partisipasi masyarakat. Di kota besar dengan banyaknya penduduk yang berpendidikan tentu akan sulit untuk memberikan informasi kesehatan dalam satu kali penyuluhan. Orang berpendidikan belum tentu tidak memiliki masalah kesehatan. Oleh karena itu, mereka tidak luput dari sasaran. Masalahnya adalah orang-orang yang tinggal di kota berada dalam tahap ‘tahu-tidak mau’. Maksudnya, orang-orang berpendidikan sadar akan bahaya kesehatan yang mengintai, namun mereka enggan untuk memeriksakan kesehatan pribadi. 

            Berbeda dengan orang-orang yang tinggal di desa, mereka berada dalam tahap ‘tidak tahu-mau’. Dengan begitu, proses pemberian informasi dan juga bimbingan akan lebih mudah. 

            Melihat kondisi di atas, kami hanya bisa berusaha semampunya dengan mengandalkan tetua RW/RT untuk membantu mengumpulkan warga. Tiga puluh hingga empat puluh orang adalah hal yang maksimal bagi kami. Tetapi, untuk menilai status kesehatan dan peningkatan pengetahuan warga sejumlah ribuan orang dengan sampel tidak sampai 50 orang adalah sebuah kesulitan.

            Oleh karena itu, kami kesulitan untuk memberikan sebuah interpretasi yang sesuai bagi warga Tammua.

PBL 3 Santai Tapi Serius??
            Pernah mendengar tentang sebuah pepatah yang mengatakan ‘bisa santai asal serius?’. Tentu ada yang pernah mendengar. Pepatah itu sangat terbalik dengan kami pada PBL 3. PBL 3 berisi kegiatan evaluasi. Dimana kami akan mengevaluasi berbagai intervensi yang pernah kami lakukan di PBL 2. Di sinilah letak kesulitan itu.

            Jika hasil yang kami dapatkan gagal, maka semua warga akan bertanya ‘kenapa bisa gagal?’ Lalu apa yang bisa kami lakukan dengan pertanyaan tersebut jika jawabannya pasti adalah ‘kurang partisipasi warga.’

            Kami memang sangat santai, tetapi tidak serius. Kami hanya bekerja asal-asalan. Maaf teman-teman saya harus menuliskan ini.  Karena memang inilah hasilnya. Sebuah kegagalan.


THE ENDING
            Kita memang tidak pernah berharap untuk bersama-sama di PBL ini. Namun, Allah menjadikan kita bersama dalam suatu kelompok yang sama. Bersama kita berusaha saling mengenal, saling memahami dan mencoba untuk meredam aneka rasa di dalam hati, entah itu benci, marah, sedih bahkan suka mungkin. Kita sudah bagaikan saudara. Tinggal di bawah atap yang sama menjadikan kita menjadi lebih erat. Sayang, itu hanya di PBL. Di kehidupan nyata kehidupan kampus , kita kembali dalam kehidupan yang lama. Meski begitu, tetap akan sulit menemukan yang seperti kalian. 

            PBL membuat hidupmu seperti pelangi ^^

            Untuk Chan, Kak Dian, Yusit, Aing, Mei, Muli, Ulma, Dwi, Wiwiek, Ade, Cida, Nisa, Diana, Khaidir, Panji, Zul, dan Haslam. 

Bukan Untuk Diulang :























C

           
                         

Wednesday, June 12, 2013

Posted by shy_ | File under : ,


            Besok, Kamis 13 Juni 2013, 630 mahasiswa dari FKM, Fakultas Kedokteran, Fak. Kedokteran Gigi, Fisioterapi, Fak. Keperawatan, dan Fak. Farmasi dari Universitas Hasanuddin akan melakukan sebuah perjalanan panjang selama 2 bulan di sebuah daerah di selatan sulawesi, Kab. Takalar dalam rangka melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan Angkatan 44.
            Bukan sebuah hal luar biasa memang, tetapi bagi kami mahasiswa yang akan ber-KKN ini merupakan sebuah pengalaman yang akan memberi warna dalam tahun-tahun terakhir kami di bangku kuliah. Wow~ selama kurang lebih 2 bulan kami akan hidup jauh dari kampus, dari orang tua, dari hingar bingar kota besar, menuju pada desa-desa di kab. Takalar yang masih menjadi tanya besar bagi kami mahasiswa.
            Satu hal yang menjadi masalah bagi saya adalah tidak adanya jaringan internet! DUH! Bagi saya yang blogger ‘setengah-aktif’. Internet adalah sebuah keharusan yang ada dimana pun saya berada. Kenapa? Siapa sih yang sanggup hidup tanpa internet. Bayangkan hidup kalian tanpa internet, tanpa facebook, tanpa twitter, tanpa searching informasi di seluruh belahan dunia? Mungkin terlalu berlebihan kekhawatiran saya, tetapi tetap saja di dunia modern ini internet merupakan sebuah kebutuhan lagi bukan sebuah keinginan.
            Dengan internet, segala sesuatu menjadi lebih mudah. Dengan internet, segala sesuatu menjadi lebih gampang. *apa bedanya?* Pokoknya, internet itu penting! Iya kan? Maka, jika dalam 2 bulan hidup saya tanpa internet, di bulan puasa lagi. Apa yang harus saya lakukan di hari-hari membosankan nanti? *eh?*
            Well, semoga masyarakat dimana saya akan ber-KKN merupakan orang-orang yang ramah, baik, dan suka menyediakan banyak makanan :D *aamiiin*
            Selamat ber-KKN buat teman-teman KKN-PK UNHAS angkatan 44!!! KKN untuk dikenang bukan untuk diulang.