My Lovely Sister (cerpen terpanjang yang pernah kubuat)
<3 MY LOVELY SISTER <3
Rashy Riyetha ^^
===========================================================
SHINDY Alberty, putri bungsu yang ditakdirkan terlahir di tengah-tengah keluarga Alberty memiliki sifat-sifat yang sungguh berbeda dengan kedua orangtuanya serta kakak tercintanya.
Jika setiap pukul empat pagi seluruh anggota keluarga sudah bangun untuk beribadah pagi, Shin masih tertidur pulas. Bersatu dalam mimpi. Hihiy! Sebenarnya, waktu Shin berusia 5 tahun. Shin sudah terbiasa shalat shubuh serta bangun pagi. Bahkan bisa di bilang kelewat rajin. Pukul tiga pagi saja, mata bulat kecilnya sudah melek sebelum ayam-ayam piaraan kakeknya berkokok. Shin juga menjadi salah satu anak yang saleh di kampung asal Ayahnya, Probolinggo. Ia juga sempat berkerudung, lho.
Namun, semenjak pindah ke kota pada usia 14 tahun. Shin sudah mulai terpengaruh oleh arus-arus iblis yang menyesatkan anak-anak remaja. Shin memang tidak bergaul dengan remaja-remaja perempuan yang gemar belajar malam di bar-bar, cafe-cafe dan diskotik-diskotik. Melainkan, Shin bergaul dengan remaja-remaja lelaki yang gemar bermain sepakbola, berpanas-panasan di bawah terik matahari kompleks perumahannya. Sehingga, kulit putihnya yang dulu menutupi kulitnya berangsur-angsur sedikit menjadi coklat muda seperti kulit pohon mangga di samping rumah kakeknya di kampung.
Penutup kepala yang sering di sebut kerudung oleh orang islam yang dulu selalu dikenakannya pun mulai ia tinggalkan. Dan parahnya, ia menjadi sulit bangun pagi seperti dulu kala sebab keseringan melek di depan tivi layar datar Ayahnya guna menonton pertandingan sepakbola grup kesayangannya, yaitu Chelsea!
Teman-teman bermain Shin sebenarnya tak buruk-buruk amat akhlaknya. Mereka rata-rata adalah calon-calon atlet remaja yang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Rajin mengunjungi masjid di hari jum’at siang walau hanya untuk mejeng. Hehehe...
Anehnya, Shin seperti terhipnotis sesuatu yang tak terlihat oleh mata tapi tersentuh oleh perasaan sehingga merubah sifat alimnya selama ini. Entah apa sesuatu itu. Yang jelas, sesuatu itu telah membuat Shindy menjadi remaja yang menakutkan dimata remaja lainnya. Sifat apatis terhadap sesama semakin menonjol ketika ia duduk di bangku SMA. Ia juga berubah menjadi anak yang ringan tangan dan sukar mengendalikan diri.
Shin pernah menghajar tukang bakso keliling yang mangkal di halaman sekolahnya sebab ia mencampurkan saos ke dalam bakso pesanan Shin tanpa menggantinya. Shin juga pernah menampar guru bahasa indonesia saat ia SMP dulu, sebab ibuguru muda itu menolak menulis ulang catatan yang telah ia hapus dari papan. Ckckck... Alhasil, Shin terpaksa pindah sekolah.
Kedua orangtuanya sangat amat sering memarahinya. Tapi anehnya, telinga Shin seperti tertutup oleh selaput setebal 20 cm sehingga ia tak mendengar siapapun yang menasehatinya. Begitu masuk mental kembali!.
Seperti siang ini, Shin baru saja menjabak rambut seorang anak kecil. Anak kecil ?? Iya, seorang anak kecil yang tidak sengaja menumpahkan es cendol yang baru dibelinya sepulang sekolah sehingga mengenai ujung tali sepatu Shin. Ckck.. Ujung tali sepatu ?? Iya!
“Kakak jahaaatttt!!” histeris anak kecil tak berdosa itu ketika tangan Shin tiba-tiba mendarat di kepala anak kecil itu dan menarik segempal rambutnya sambil berkata dengan murka “Kalau jalan pake mata anak jelek!”.
Untungnya, anak tersebut tak melapor kepada orangtuanya sebab Shin telah menyogoknya dengan melemparkan uang sepuluh ribu rupiah di depan wajah murung anak kecil tersebut. Namun, kejadian itu terlihat langsung oleh Ibu Shin yang kebetulan hendak berkunjung ke tetangga.
“Shin! Apa-apaan kamu ?! Anak kecil kok dikasarin ? Nggak punya hati kamu ya ?!” hardik Ibunya penuh emosi ketika Shin masuk ke dalam rumah. Shin hanya berjalan melewati Ibunya. Wajah Ibunya benar-benar merah padam menahan amarah akan tingkah Shin yang sungguh kelewatan. Entah setan apa yang kini merasuki pikiran Shin sehingga ia tega menyakiti seorang anak kecil.
“Tangan aku nggak bisa kompromi, Yah!” jawab Shin singkat begitu laporan sang Ibu tiba di telinga Ayahnya. Ayah Shin menghela napas berat. Ia tak meradang seperti reaksi Ibunya tadi. Ia sudah lelah menghardik anaknya ini. Sebab, ratusan kali ia menghardik ratusan kali pula tak ada yang di dengar.
Hingga suatu ketika, kakak Shin yang bernama Meggie datang dari Probolinggo. Ayahnya berniat memindahkan kuliahnya ke Jakarta sebab mereka akan sibuk tahun ini. Ayah Shin berniat mengikuti tender kapal pesiar. Yang tentunya membuat mereka akan sibuk untuk memenangkan tender tersebut. Mereka khawatir Shin tak ada yang menjaga. Dan mereka juga berharap agar Shin dapat mencontoh sifat Meggie yang kelewat baik serta tak brutal dan ringan tangan seperti Shin. Kebaikan Meggie membuat ia tak tega memebunuh nyamuk sekalipun. Leubay! Hahay!
* * *
Pelan tapi pasti, aku melangkahkan kaki-kaki tirusku menyusuri halaman rumah menuju pintu. Belum sempat aku mengetuk pintu, seseorang dengan kasar membuka daun pintu sehingga aku spontan memegang dadaku. Aku terkejut sehingga jantungku berdegup kencang.
Shin terpana melihat sosokku yang anggun berdiri di depan pintu rumah walaupun dengan mimik terkejut. Perlahan Shin mulai mengembangkan sebuah senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya. Senyuman bahagia menungguku seharian. Sinar matanya menunjukan sinar anak-anak kesepian Namun, senyuman Shin nampak tidak sempurna seperti dulu. Sehingga aku melihatnya sebagai senyuman keheranan bukan senyuman kebahagiaan.
Aku mengernyitkan dahi. Tak mengenal gadis yang berdiri di hadapanku ini. Seorang gadis kasar dengan senyuman yang tak sempurna di mataku.
“Kakak ??” panggil Shin memecah keherananku. Tapi yang terjadi, aku malah bertambah heran.
“Kok bengong kak ? Kakak nggak senang ya datang ke Jakarta?” sosor Shin dengan pertanyaan-pertanyaan. Ia tak menyadari bahwa aku tak mengenalinya sama sekali. Raut wajahnya memang terlihat ‘agak’ mirip denganku. Hanya saja kesan pertama bertemu meruntuhkan ke agak miripan itu.
Aku masih terpaku. Aku tak berpikir sedikitpun bahwa gadis ini adalah adikku. Meskipun aku sudah mendengar tentang kebandelan adikku dari kedua orangtuaku. Namun, sosok Shin yang ku bayangkan bukanlah seperti ini. Berkulit gelap akibat panas matahari, berambut pendek berwarna hitam kepirangan, dan ughhh, pakaian yang sama sekali tak pantas digunakan seorang wanita. Kaos oblong dan celana pendek yang bagian bawahnya tersisa kain-kain celana yang entah di sengaja atau memang seperti itulah celana itu. Sangat kontras denganku yang mengenakan baju panjang, rok panjang hingga mata lutut serta kain kerudung hitam yang menutupi kepalaku. Aku akhirnya berkesimpulan bahwa aku salah rumah. Aku menengok kanan kiri mencari nomor rumah. Tapi tak kutemukan.
“Maaf. Apa ini rumah keluarga Anton?” tanya ku sopan. Shin terkejut mendengar pertanyaanku. Ia sadar sekarang kenapa aku bersikap seperti itu padanya.
“Tentu saja benar! Dan aku adalah anaknya. Shindy!” jawab Shin ketus. Aku meringgis keheranan. Ternyata bayanganku tentang adikku sama sekali tak tepat.
“Shindy ? Itukah kau ? Oohh...” ujar ku mencoba senang sambil memeluk Shin. Shin terlihat kesal dengan sikapku yang tak mengenalinya. Ia kemudian melepas pelukanku dengan kasar.
“Aku mau mandi dulu! Masuklah dan cari kamarmu sendiri!” jelas Shin kasar. Aku melongo keheranan di depan pintu.
“Apa Ayah dan Ibu sudah pergi ?” tanya ku sambil mendekati Shin yang sudah menaiki anak tangga.
“Mereka tak pernah di rumah!” jawab Shin masih ketus. Ia terus ke lantai dua tanpa menoleh.
Sebenarnya Shin sempat tergerak hatinya begitu melihat sosok kakaknya yang sangat anggun. Sosok yang tak pernah di lihatnya selama berada di Jakarta. Namun, sikap kakaknya membuatnya mual. Ia marah sebab Meggie tak mengenalinya.
Shin berdiri di depan kaca lemari pakaiannya. Lama ia memandangi dirinya. Ia ingin mengetahui apa yang membuat kakaknya tak mengenalinya. Tapi, ia tak juga menemukan jawaban itu sebab ia sendiri sudah lupa sosok masa lalunya.
Meggie termenung di dalam kamar. Ia memandangi foto Shin dan dirinya sewaktu masih kecil. Sungguh berbeda dengan kenyataan di masa depan.
* * *
Meggie menjalani hari-harinya di Jakarta sebagai mahasiswa Universitas Negeri di Jakarta. Ia cepat mendapat teman sebab sikapnya yang ramah. Bahkan, baru sebulan berkuliah. Ia sudah di daftarkan sebagai salah satu sekretaris di Badan Eksekutif Mahasiswa. Menggantikan sekretaris yang sudah di wisuda seminggu yang lalu.
Sayangnya, kehidupannya dengan Shin benar-benar renggang sebulan ini. Ia tak pernah melihat Shin di rumah. Begitu di telepon, Shin selalu berkata ketus. “Jangan sok peduli!”. “Apaan sih loe ? Sok sibuk!”. Begitulah jawaban-jawaban Shin selama Meggie meneleponnya.
Meggie sangat sedih melihat keadaan adikku. Mungkin, Shin adalah korban kesibukan orangtua. Atau mungkin Shin adalah anak-anak kurang perhatian.
“Shin!! Shin!! Kakak boleh masuk nggak ?” sapa ku suatu hari. Aku merasa inilah kesempatan bercerita dengan Shin. Sebab Shin sedang berada di rumah.
Shin tak menjawab. Di dalam Shin justru menutup kupingnya dengan headset.
“Shin!! Kakak masuk ya!” ulang ku lagi. Aku mencoba membuka pintu Shin. Pintunya ternyata tak dikunci. Mungkin Shin lupa atau mungkin juga Shin sengaja.
Aku mendapati Shin yang tertidur sambil mendengarkan lagu. Aku tersenyum. Aku menyesal telah mengganggu tidur Shin. Kudekati Shin dan mencium pipi adik yang sangat aku rindukan. Sebulir air mataku jatuh membasahi pipi adikku. Segelintir kenangan masa lalu hinggap di benakku. Aku terharu akan kenangan bersama adikku di kampung dulu.
Aku masih ingat ketika mereka akan berpisah. Ibu terpaksa hanya membawa Shin sebab kakek ingin tinggal bersama cucunya. Dan Ibu akhirnya memilihku untuk tinggal. Aku setuju. Walaupun tentu aku sangat sedih berpisah dengan adik tercinta.
Kami takkan bersama-sama lagi pergi ke surau bersama kakek untuk mengaji. Bermain air di sumur samping rumah kakek atau mencuci pakaian di sungai bersama nenek. Itu tak akan terjadi lagi untuk hari-hariku ke depan.
Shin juga sangat sedih berpisah denganku. Ia sangat menyayangiku. Ia nampak tak setuju dengan kedatangan Ibu yang secara tiba-tiba memintanya ikut bersama Ibu setelah sekian tahun Ibu membiarkana kami tinggal dan dibesarkan oleh Kakek dan Nenek. Shin sempat menunjukan kekecewaanya pada keputusan Ibu. Sehari sebelum Ibu datang untuk menjemputnya. Shin mengurung diri di kamar. Ia menangis dan memohon pada kakek untuk tetap mengizinkannya tinggal bersama kakek.
“Kakeeekkk!! Jangan biarkan Ibu membawaku. Aku ingin tinggal bersama Kakek, Kak Meggie, dan Nenek! Aku mohooonn!!” rengek Shin dengan mata membengkak. Aku berlutut sambil memeluk tubuh Shin yang hangat. Ia benar-benar tidak ingin ikut bersama Ibu.
“Shin! Kakek pasti mengunjungimu di kota! Jangan cengenglah anak manis. Ayo! Kemari! Biar nenek gendong” ujar nenek mencoba menenangkan Shin. Tapi Shin malah semakin erat memelukku.
“Shin tidak mauuu!! Shin mau tinggal sama kakak disini. Shin tidak mau ikut Ibu!!” teriak Shin sehingga aku terpaksa menutup mulutnya. Kakek terkejut akan sikap Shin. Begitupun aku dan nenek. Untuk pertama kalinya Shin berteriak kasar pada kami. Ia adalah anak yang lembut sebelumnya.
Tak ada satupun yang mengerti sikap Shin. Jika aku jadi dirinya tentu aku sangat senang tinggal bersama Ibu. Melepas semua kerinduan selama Ibu tinggal di Kota dan kami di desa. Namun, ternyata Shin memiliki pandangan berbeda yang hanya di mengerti olehnya.
Shin yang begitu ngotot tidak mau ikut Ibu juga terjadi ketika Ibu datang menjemputnya. Kontan saja, Ibu sangat terkejut.
“Shin? Ini ibu nak. Shin tidak mau ikut Ibu ?” tanya Ibu heran ketika Shin menolak keluar kamar. Shin menggeleng mantap.
“Shin tidak rindu sama Ibu yaa ?” goda Ibu mencoba menarik perhatian Shin. Tapi Shin malah menatap Ibu tajam. Tatapan yang menunjukan sikap tidak suka terhadap seseorang. Senyuman hangat ibu lalu berubah menjadi masam. Hatinya tentu sakit melihat kenyataan ini.
Ibu keluar dari kamar Shin dan menemui Kakek. Ia berbicara empat mata dengan kakek. Sempat Kakek berbicara dengan nada tinggi hingga terdengar ke luar kamar. Kemudian mereda kembali. Ibu menangis sedih karena Shin seolah tak menganggapnya Ibu. Kakek menghela nafas panjang. Ia berusaha menasehati Ibu bahwa Shin mungkin belum ingin pergi. Ibu malah bertambah sedih.
“Ayaah!! Apa Ayah tega melihat aku hidup berpisah dengan anak-anakku?” Kakek terlihat marah dengan ucapan Ibu. Tapi ia mencoba menahan diri.
“Apa kau juga tega melihat gadis kecil itu menangis histeris?” balas kakek.
“Ayaaahh! Dia anakku, ayah! Bantu aku Ayah! Shin harus tinggal bersamaku. Aku juga ingin membesarkannya” Kakek masih marah dengan sikap Ibu. Dan Ia benar-benar marah kali ini. Apalagi setelah Ibu mengucapkan beberapa kata yang sungguh melukai hati kakek. Kakek mencoba terus menahan diri sebab ia tak tega melihat anak dan cucunya menangis.
“Bawa dia! Dan bilang padanya, jika kau tak ikut Ibu, kakek tak akan berbicara padamu!”
Shin benar-benar terpukul dengan keputusan Kakek. Ia berlari menuju Ibu dan tak menoleh sedikitpun kepada kami. Ia masuk kedalam mobil dengan wajah yang murung dan penuh kemarahan. Aku tidak mengerti sikap Shin. Namun dapat kubayangkan betapa sakit hatinya. Ia bahkan tak mengucapkan selamat tinggal padaku.
Kakek juga terlihat sedih. Ia menjadi diam dalam beberapa hari. Aku mencoba mengorek informasi dari nenek. Tapi nenek tak pernah mau menceritakan alasan kakek membiarkan Shin pergi. Padahal kakek sangat menyayangi Shin.
Aku keluar dari kamar Shin. Shin mulai membuka matanya dan menyadari ada tetesan air mata di wajahnya. Hati Shin bergetar. Ia merasakan sesuatu yang menyesakkan di hatinya. Sesuatu yang seperti ia rasakan dulu. Sesuatu yang membuat ia merubah semua sikapnya.
“Kakak!!” panggil Shin pelan. Ku menoleh tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Shin? Kau sudah bangun ?” tanya ku senang karena Shin mau menyapanya.
“Aku rindu kakak! “ ujar Shin sambil beranjak memelukku. Untuk pertama kali setelah kepindahannya. Shin menangis tersedu-sedu. Ia menumpahkan semua yang di pendamnya sejak saat itu dengan air matanya.
“Kakak juga Shin. Maaf ya, kakak benar-benar minta maaf padamu” ujar Ku terharu.
“Aku sayang kakak” ujar Shin lagi. Ia tak ingin melepas pelukannya. Seperti saat ia meminta pada kakek untuk membantunya. Ia memelukku erat
Shin kini ingat sosok dirinya dulu. Gadis kecil penurut dan penuh kelembutan. Dan ia juga ingat saat-saat ia memutuskan untuk berubah. Hatinya benar-benar sakit sehingga ia bingung menetukan arah. Ia menjadi sangat kasar untuk menahan sakit hatinya.
“Ceritakan padaku tentang Desa kak” pinta Shin sambil mengajakku duduk di tempat tidur.
“Kau ingin dengar tentang apa ?”
“Semua!!” Aku senang akan perubahan Shin. Aku mulai mencertakakn semua tentang Desa. Bagaimana indahnya metahari terbit di balik sawah, di balik gunung. Tentang pelangi yang menghiasi hijaunya desa. Tentang sungai yang dialiri air jernih. Tentang semua yang masih kuingat.
Ku lihat Shin menangis lagi. Begitu terisak. Sepertinya ia benar-benar terharu. Entah karena apa.
“Kau tidak menanyakan kabar Kakek, Shin ?” Shin berhenti menangis dan menatapku tajam. Sudah kuduga. Shin marah pada kakek atas keputusannya.
“Shin. Kau tidak tahu kan ?”
“Apa ?”
“Kakek sangat merindukanmu”
“Bohong !!”
“Kau tak pernah menghubunginya”
“Itu karena ia mengusirku!”
“Kakek tak pernah mengusirmu, Shin!”
“Ia mengusirku!”
“Itu semua demi kamu Shin. Mengertilah!”
“Ia mengusirku karena Ibu sangat menginginkanku untuk tinggal bersamanya. Tapi, ia tak pernah berpikir bahwa Ibu tak pantas mengasuhku. Sejak kecil Ibu sudah membuang kita padanya. Kenapa ia masih tega memberikanku pada Ibu. Ibu tak pernah menyanyangiku sepertinya. Tapi ia tega mengusirku...”ujar Shin dengan suara bergetar. “Bahkan mengancamku.”lanjut Shin lirih.
Aku terkejut mendengar cerita Shin. Aku benar-benar tidak menyangka ia berpikir seperti itu. Hatinya tentu sangat sakit karena semua ini..
“Katakan padaku Shin. Kau menolak ikut Ibu karena ini ?”
“Iya! Apa kakak tidak pernah berpikir tentang ini! Tentang Ibu yang hanya sibuk dengan dunianya! Ia tak pernah menginginkanku dan kau. Ia hanya menjadikanku boneka disini. Kenapa Kakek tak memikirkan itu, kak !!” Shin menumpahkan semua yang dipendamnya. Ia menangis sedih. Aku kini mengenalinya lagi. Aku tak sanggup menahan keharuanku.
“Kau salah Shin” Shin melihatku heran.
“Kakek sudah memikirkan semua itu. Tapi ...” Aku mengingat saat nenek mau bercerita padaku.
“Kakek marah pada Ibumu, Meggie” ujar Nenek ketika kucertitakan bahwa Shin sangat bandel di Jakarta.
“Kenapa nek ? Apa salah Ibu ?” tanyaku ingin tahu.
“Ibumu mengancam Kakek. Ia berkata akan melapor pada polisi sebab Kakek menghalangi bersatunya anak dan ibu”
“Itu tak mungkin Nek!” aku tak percaya.
“Itu memang tidak mungkin. Tapi itu terjadi. Aisyah benar-benar sudah berubah. Ibumu itu sudah bukan yang dulu lagi”
“Kakek sebenarnya tak ingin memberi Shin pada Ibumu. Tapi, kakek tak berhak menghalangi Shin dan Ibumu. Hah.. semua sudah terjadi. Jika Shin berubah, Itu salah Ibumu. Bukan kakek, Meggie”
Aku mengerti sekarang. Aku mencoba menghubungi Ibu. Tapi tak diangkat. Aku mulai kesal padanya. Benar kata Shin, ia tak pernah menginginkan kami. Ia hanya ingin menjadikan kami boneka yang di pajang di kamar miliknya.
* * *
Suatu hari,
“Shin! Ibu mengizinkan kita berlibur ke kampung. Apa kau mau ikut ?”
“Tentu aku mau!” ujar Shin senang.
Aku memberinya sepasang pakaian dan selembar kain kerudung padanya.
“Kakek akan senang melihatmu” ujarku sambil menyerahkan pakaian yang baru kubeli untuknya. Shin hanya diam dan membawa pakaian itu ke dalam kamarnya.
Tanpa kusadari ternyata Shin menolak mengenakananya. Ia keluar kamar hanya dengan kaos dan jeans. Ia menatapku dengan tatapan layaknya seorang pria. Mungkin ini akibat sifat kelaki-lakiannya. Aku terkejut tapi ku coba untuk menerimanya.
“Ayo!” ajakku.
Sebulan aku dan Shin berlibur di Probolinggo. Kami menikmati semua kenangan kami dulu. Sebelum kami pergi ke Probolinggo. Aku mengatakan sesuatu pada Shin.
“Aisyah adalah Ibu kita. Bagaimanapun juga ia pasti menyanyangi kita. Jadi kakak mohon. Jangan ulangi kesalahan masa lalu”
“Tentu tidak, Kak! Aku pasti kembali ke Jakarta. Karena kakak ikut bersamaku” jawabnya senang.
“Aku akan membuat Ibu sayang pada kita Kak!” ujarnya lagi.
Shin kini menjadi seperti dulu. Aku sangat rindu padanya. Begitupun kakek dan nenek. Kami menghabiskan liburan di kampung dengan sebaik-baiknya. Memanfaatkan kesempatan yang di beri Allah pada kami untuk berbaikan. Apalagi Allah memberikan umur panjang pada kakek dan nenek sehingga dalam usia rentanya, mereka masih bisa melihat kedua cucunya tertawa riang bersama.
Menjelang kepulangan kami ke Jakarta, aku terkejut mendengar bisikan Shin padaku sebelum kami tidur.
“Aku mencintaimu Kak” aku bergidik mendengar itu. Ku coba berpikir positif, tapi pelukan Shin membuatku tak tenang.
“Aku mencintaimu Kak” ulang Shin.
“Rupanya Shin belum berubab total” gumanku sambil berbisik padanya.
“Kita mencintai Allah, adikku”.s Kuharap Shin mengerti maksudku.
>>> THE END <<<

Comments