Posts

Showing posts from January, 2016

UNTUK MENJADI BERBEDA

Image
Aku pernah kecewa. Semua orang pernah kecewa. Tidak sedikit orang yang marah karena kecewa. Tidak sedikit juga yang hanya diam. Banyak yang bercerita kepada teman tentang kekecewaannya. Banyak juga yang hanya diam. Namun ada juga yang menulis ke dalam sebuah cerita. Tujuannya setali tiga uang. Curhat sekaligus melatih kebiasaan menulis. Seperti aku... Malam ini aku kecewa. Sebenarnya bukan satu kali saja. Tetapi banyak. Hanya saja tidak semua bisa aku tulis di sini. Di sini, aku hanya ingin berbagi mengenai kekecewaan yang sebenarnya bisa di atas dengan mengikhaskan. Tapi menjadi ikhlas itu susah. Bahkan ketika mengatakan ikhlas pun, tidak akan pure ketika kita masih terus mengungkitnya. Kembali ke malam ini. Malam dimana aku merasa kecewa. Kecewa pada diriku sendiri. Karena terlalu cepat memutuskan untuk kesal. Padahal itu merupakan sebuah hal yang dilakukan karena mereka semua sayang padaku. Hehe Dua hari sebelum pergantian hari Natal, temanku mengirimi pesan...

SINGKAT AJA : KEREEN! AKU SENANG

Image
            Kalau ditanya kenapa aku suka novel, aku akan menjawab karena dengan menulis novel aku jadi punya alasan untuk tidak tinggal sejenak di bumi. Berlari sejenak dari dunia nyata yang menyita sebagian otakku dengan rumus biostatistik yang memusingkan dan sulitnya untuk mempelajari perilaku orang lain bahkan untuk merubahnya. Tapi bukan berarti aku suka lari kenyataan. Aku suka dilan! *gak nyambung* Aku suka rehatku dengan seperti itu.              Semua novel bagiku bagus, terlepas bagaimana itu dimana pasar. Novel bagiku dengan cerita-ceritanya selalu menyediakan tempat baru yang bisa aku kunjungi ketika lelah. Seperti saat membaca Daun Yang Jatuh Tak Membenci Angin, aku merasa sedang pindah ke daerah Jakarta hingga Singapura. Menyaksikan bagaimana kehidupan seorang penulis baik hati dengan anak remaja yang dia cintai diam-diam. Lalu tentang Aku dan Sepu...

Pendamping Hidup

          Tangga menurun ke air terjun Tawangmangu masih banyak. Kakiku sudah mulai gemetaran. Ternyata memang tidak mudah menuruni ribuan anak tangga dengan kaki kiri dipasangi pen. Nami, temanku, terus menggapai genggamanku. Kami menyusuri tiap anak tangga bersama. Berkali-kali kami juga berhenti untuk ber- selfie ria. Hari itu kami seangkatan pergi berwisata ke Tawangmangu. Melepas penat sambil melihat air terjun setinggi 81 m. Melupakan sejenak kumpulan tugas-tugas yang menari-nari di udara. Dinginnya udara pegunungan, mengusir sejenak tarian tugas-tugas. Meskipun lelah yang kami dapatkan juga. Tapi tak mengapa, kami bahagia. Aku bahagia, walau melangkah dengan kaki yang belum sembuh benar.             Aku memang masih membutuhkan bantuan orang lain. Dan itu seperti waktu-waktu lainnya, sangat membuatku tidak enak hati. Seperti hari ini, aku berpegang kuat pada lengan Nami, ag...

Kejutan Akhir Tahun Di Jogja

Akhirnya Tuhan mengabulkan impianku untuk berkuliah di salah satu universitas ternama Indonesia. Perjuanganku untuk sampai di sini tidak mudah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadi berani dari biasanya, percaya diri dari biasanya, dan tentu saja memakai topeng ketegaran agar tidak terlihat lemah.  Hari ini, di akhir tahun 2015. Kejutan akhir tahun itu seperti bom atom yang meluluh lantahkan semangatku yang sejak beberapa bulan yang lalu sudah menyusut memang. Sepertinya sudah tidak ada yang tersisa lagi, bahkan untuk makan (kebiasaanku) sudah tidak mampu lagi aku lakukan. Apalagi tersenyum (yang memang jarang kulakukan) semakin sulit untuk terlihat di wajahku.   Aku sudah ingin membatalkan kehadiranku di acara akhir tahun bersama teman-teman yang sekaligus menraktir mereka karena kemarin aku ulang tahun. Aku tidak sanggup bertemu mereka semua ketika aku sadar bahwa mungkin aku kurang hard work selama tiga bulan ini sehingga hasil yang aku dapatkan sangat mengecewa...