Pendamping Hidup


          Tangga menurun ke air terjun Tawangmangu masih banyak. Kakiku sudah mulai gemetaran. Ternyata memang tidak mudah menuruni ribuan anak tangga dengan kaki kiri dipasangi pen. Nami, temanku, terus menggapai genggamanku. Kami menyusuri tiap anak tangga bersama. Berkali-kali kami juga berhenti untuk ber-selfie ria. Hari itu kami seangkatan pergi berwisata ke Tawangmangu. Melepas penat sambil melihat air terjun setinggi 81 m. Melupakan sejenak kumpulan tugas-tugas yang menari-nari di udara. Dinginnya udara pegunungan, mengusir sejenak tarian tugas-tugas. Meskipun lelah yang kami dapatkan juga. Tapi tak mengapa, kami bahagia. Aku bahagia, walau melangkah dengan kaki yang belum sembuh benar.
            Aku memang masih membutuhkan bantuan orang lain. Dan itu seperti waktu-waktu lainnya, sangat membuatku tidak enak hati. Seperti hari ini, aku berpegang kuat pada lengan Nami, agar kakiku bisa menjajaki tangga pelan-pelan. Lalu, tiba-tiba Nami menyeletuk. Sebuah celetukan yang membuat terdiam setelah tertawa lepas. Karena mungkin dia benar.
            “Kayaknya kamu harus segera menikah, deh. Kamu butuh pendamping.”
            Sebenarnya celetukkan seperti itu pernah aku dengar. Lalu aku mendengar lagi. Kemudian beberapa minggu kemudian aku dengar lagi. Namun bukan sekedar atau seperti celetukan “Kapan nikah?” yang sering didengungkan banyak orang dan dijadikan lelucon. Lebih dari itu, seperti sebuah anjuran.
            Suatu hari di Lippo Plaza. Demi menonton aksi para minion kami nekad menerobos padatnya kota Jogja. Hari itu aku baru tiga minggu pasca operasi. Luka operasiku bahkan belum kering. Sepanjang perjalanan aku selalu memikirkan apa yang orang-orang pikirkan tentangku. Bukankah orang sepertiku pantasnya di rumah mengurung diri? Tapi tidak untukku. Hilang sudah rasa maluku. Aku memang memiliki rasa malu yang berlebihan sehingga tidak heran kalau kadang malu-maluin (?). Berjalan di antara orang-orang normal, aku tampil beda dengan kedua tongkat dan kaki dibalut perban, tak bersepatu lagi. Sebelah kakiku aku angkat saat berjalan. Sungguh ‘tidak biasa’ penampilanku saat itu. Tapi aku tidak malu, mungkin karena bersama mereka. Teman.
            Kesulitan yang paling luar biasa adalah saat menaiki eksalator. Sungguh sangat disayangkan karena cinema di Lippo Plaza perlu menaiki eskalator (no lift). Jadi, mau tak mau aku dihadapkan pada dua pilihan. Go home or try it. Can you imagine that? Mereka membantuku naik tiga eskalator dan turun tiga eskalator. Oh my....
            Hari ini di Lippo Plaza. Kami kembali melepas penat di cinema. Bedanya, saat ini aku telah melepas tongkat. Aku bisa berjalan seperti biasa. Masalahnya adalah kakiku masih kaku sehingga tampak pincang. Sehingga untuk naik eskalator masih membutuhkan bantuan orang lain. Saat itulah, Sinta menyeletuk. Ketika kami sudah di lantai atas. Setelah melewati beberapa eskalator.
            “Kamu harus punya pendamping hidup, Ci.”
            Aku tertawa. Begitu pun Nita. Tidak lucu. Tapi nyesek.
            Pendamping hidup. Dia yang akan melengkapi dan juga melindungi. Tapi memiliki pendamping hidup bagiku adalah menikah. Sementara menikah bukanlah perkara yang mudah. Perlu persiapan. Terutama persiapan mencari calon (ini yang susah). Haha!
            Sehingga semua celetukan teman-teman baikku itu hanya menjadi sebuah kesesekan di dada. Apalagi melihat bagaimana jomblo di bully di zaman ini.  Sedih.
Rasanya seperti aku ingin berlari tapi tak bisa lari. Ingin menyanyi tapi tak bisa nyanyi. Tidak ingin menjomblo tapi kok malah bisa jomblo??
Sekian deh. Mari berlari ke analisis masalah kesehatan. Analisis masalah pendamping hidup di list berikutnya saja.

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y