SINGKAT AJA : KEREEN! AKU SENANG
Kalau
ditanya kenapa aku suka novel, aku akan menjawab karena dengan menulis novel
aku jadi punya alasan untuk tidak tinggal sejenak di bumi. Berlari sejenak dari
dunia nyata yang menyita sebagian otakku dengan rumus biostatistik yang
memusingkan dan sulitnya untuk mempelajari perilaku orang lain bahkan untuk
merubahnya. Tapi bukan berarti aku suka lari kenyataan. Aku suka dilan! *gak
nyambung* Aku suka rehatku dengan seperti itu.
Semua
novel bagiku bagus, terlepas bagaimana itu dimana pasar. Novel bagiku dengan
cerita-ceritanya selalu menyediakan tempat baru yang bisa aku kunjungi ketika
lelah. Seperti saat membaca Daun Yang Jatuh Tak Membenci Angin, aku merasa
sedang pindah ke daerah Jakarta hingga Singapura. Menyaksikan bagaimana
kehidupan seorang penulis baik hati dengan anak remaja yang dia cintai
diam-diam. Lalu tentang Aku dan Sepucuk Angpao Merah. Aku merasa terbang
tinggal di Pontianak dan setiap hari menggunakan sepit yang sampai sekarang aku
belum tahu bentuknya apakah seperti perahu dengan motor benar-benar seperti speedboat. Hahah
Lalu
kali ini, di tengah-tengah ‘liburan’ dari jadwal kuliah yang menegangkan hati
dan pikiran, aku akhirnya sempat untuk menjadi bagian dari cerita Dilan dan Milea.
Tidaak!! Bisakah sekarang aku menjadi Milea yang dicintai Dilan dengan begitu
tulus dan sederhana?? Hahahaha.
Aku
senang! Bisa membaca novel di zaman sekarang yang seolah aku sedang membaca
karya sastra tahun 90-an. Ceritanya mengalir begitu sederhana tapi menyentuh. Aku
ingin jadi Milea dan jatuh cinta dengan Dilan. Jika tidak, aku ingin bertemu
dengan Dilan dan bilang suka padanya. *sama aja! gilaak!*
Aku
pernah kenal seseorang seperti Dilan. Yang syukurnya dia bukan genk motor. Tapi
dia memiliki kemampuan membuat seseorang bisa tertawa dengan tanggapannya yang
diluar dugaan. Atau jangan-jangan orang yang pernah aku kenal itu Dilan? Tidak.
Mungkin itu benar. Sebab dia tidak memberi aku kado TTS yang sudah terisi atau
mengirimkan tukang pijit saat aku sakit. Atau mengirimiku puisi :
Kalau aku jadi
Presiden dan harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku tidak bisa
karena aku cuma suka sama Milea.—Dilan
Keren! Aku senang. Jadi mungkin itu
benar. Kalau aku mungkin sedang bermimpi dan mengira itu benar. Ayo bangun! Hahaha
Sejak
awal aku membaca Dilan di Google Play Book yang contoh gratisnya aja karena gak
punya kartu kredit buat beli online dan juga belum punya waktu untuk mengagumi
Dilan sebab masih disita perhatianku kepada Prof Sis dengan biosnya dan
serentetan materi kuliah yang lama-lama ‘menyenangkan’, aku tahu kalau Milea
dan Dilan mungkin tidak akan bersama akhirnya. Mungkin. Karena ada sebuah
kalimat yang mengatakan “karena
yang nyaman belum tentu bisa bersama.” Hahaahaha.
Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena
menikah, bisa karena berpisah—Pidi Baiq
Jadi,
kalau aku boleh katakan. Aku ingin Dilan dan Milea putus. 60% karena menikah,
40% karena berpisah, setelah itu Dilan ke aku. Tapi nyatanya tidak. Dia tidak
ke aku. Jadi aku sedih. Dan menulis di blog ku ini. Bahwa dia keren dan aku
senang! *loohh
Suatu
hari sebelum aku hanyut ke dalam pemikiran agar Dilan itu maunya ke aku bukan
Milea, temanku sudah lebih dahulu punya pemikiran seperti itu. Dia bilang padaku:
“Aku
ingin ke Bandung.”
“Ngapain??”
“Ketemu
Dilan.”
“Emang
Dilan di Bandung?”
“Settingnya
kan di Bandung.”
“Settingnya
doang, aslinya dia sedang menuju ke hatiku.”
Oke. Abaikan kalau tidak lucu. Hahahahah
Aku
membenarkan pemikirannya. Mungkin saja Dilan di Bandung. Dan sedang menunggu
kedatangan para fansnya. Tapi aku sudah sedikit
mengepoi (<--bahasa apa ini?) twitter dari pemilik buku harian Milea dan
belum yakin kalau Dilan masih ada di Bandung. Karena Milea pun sekarang ada di
Jakarta, tapi.. ehh.. terpaksa aku bilang.. kalau dia tidak sedang dengan
Milea. Jadi kusimpulkan guyonanku benar. Dia tidak di Bandung dan sedang menuju
hati... seseorang. Yang jelas bukan aku. Walaupun aku ingin itu aku. Tapi aku
sadar diri. Aku bukan Milea Adnan Hussein.
Aku
hanyalah seseorang yang ingin bisa menulis seperti penulis-penulis yang sudah
menerbitkan buku. Aku hanyalah seseorang yang senang karena Dilan keren. Dan
senang karena kerennya dia membuatku tamat dua buku dalam sehari. Sehingga satu
hari itu aku untuk dia dan bukan untuk tugas kuliah dulu.
Dia keren dan aku senang. Singkat aja!!
“Terima
kasih Bunda sudah melahirkan Dilan”
Good
Job Ayah (jadi dia dipanggil gitu hihii) Pidi Baiq untuk menghadirkan
Dilan.
Kaliurang KM 4,5
Jogja
Sore dan belum
mandi.

Comments