Kejutan Akhir Tahun Di Jogja
Akhirnya Tuhan mengabulkan impianku untuk
berkuliah di salah satu universitas ternama Indonesia. Perjuanganku untuk
sampai di sini tidak mudah. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadi berani
dari biasanya, percaya diri dari biasanya, dan tentu saja memakai topeng
ketegaran agar tidak terlihat lemah.
Hari ini, di akhir tahun 2015. Kejutan akhir
tahun itu seperti bom atom yang meluluh lantahkan semangatku yang sejak
beberapa bulan yang lalu sudah menyusut memang. Sepertinya sudah tidak ada yang
tersisa lagi, bahkan untuk makan (kebiasaanku) sudah tidak mampu lagi aku
lakukan. Apalagi tersenyum (yang memang jarang kulakukan) semakin sulit untuk
terlihat di wajahku. Aku sudah ingin
membatalkan kehadiranku di acara akhir tahun bersama teman-teman yang sekaligus
menraktir mereka karena kemarin aku ulang tahun. Aku tidak sanggup bertemu
mereka semua ketika aku sadar bahwa mungkin aku kurang hard work selama tiga
bulan ini sehingga hasil yang aku dapatkan sangat mengecewakan.
Down dan segelintir pertanyaan mengenai apa yang
telah kau perbuat hingga apakah ini adil dengan semua usaha yang telah aku
lakukan muncul di benakku. Jujur, bagiku mendapat nilai seperti ini sangat
mengecewakan dan hanya pernah terjadi sekali dalam sejarah hidupku. Aku tahu
aku tidak memiliki bakat di dunia medis dan tidak pandai dalam hal anatomi dan
fisiologi sehingga aku tidak terlalu sedih ketika kutahu aku mendapatkan nilai
seperti itu. hanya saja kali ini berbeda dan dalam tingkatan yang membuatku
berpikir bahwa untuk melanjutkan sekolah itu tidak mudah dan tidak boleh
bermain-main lagi seperti s1 dulu. Dan tentu saja untuk menjadi begitu kesal
karena mengapa nilai yang diberikan begitu pelit padahal tugas yang kita
lakukan sudah begitu banyak. Yeah walaupun aku sadar ngedumel di sini dan
dimana-mana tidak akan merubah huruf yang sudah tercetak dan wajib perbaikan
yang harus aku lakukan. Tapi hanya dengan cara seperti ini aku bisa mengurangi
sedikit gundah gulanaku. Sebab saat ini baru aku tahu rasanya tentang sesuatu
yang tidak bisa aku ceritakan di sini. Dan itu sangat memalukan, lebih
memalukan dari semua kelakuan yang memalukan yang aku lakukan selama ini.
Sehingga saat ini aku harus tetap berusaha mengangkat kepala dan berusaha
menjadi benar-benar tidak peduli pada omongan dan tanggapan orang.
Kau harus
bisa bisa berlapang dada
Kau harus
bisa bisa ambil hikmahnya
Dan mengapa selagi mengetik semua ini, alunan
lagu di band favoritku seperti menamparku dengan kata-kata lapang dada dan ambil hikmahnya. Hanya saja aku belum bisa ikhlas ketika dua
kejutan sekaligus dengan nilai yang sama mengejutkanku di penghujung tahun 2015
yang penuh cerita ini. Seperti ingin luruh bersama hujan tapi hanya panas yang
ada membuatku semakin kesal. Mengapa malam tahun baru tidak hujan deras saja
dengan petir menyambar-nyambar? Apakah alam tidak ikut sedih bersamaku? Atau
memang sejak awal alam bukanlah temanku sehingga ketika aku sedih alam akan
berkata “emang aku pikirin?” huaaaaa T___T *seperti alam-alam yang lain*
Sekian—
Comments