UNTUK MENJADI BERBEDA
Aku pernah kecewa. Semua orang pernah kecewa. Tidak
sedikit orang yang marah karena kecewa. Tidak sedikit juga yang hanya diam.
Banyak yang bercerita kepada teman tentang kekecewaannya. Banyak juga yang
hanya diam. Namun ada juga yang menulis ke dalam sebuah cerita. Tujuannya
setali tiga uang. Curhat sekaligus melatih kebiasaan menulis. Seperti aku...
Malam ini aku kecewa. Sebenarnya bukan satu kali
saja. Tetapi banyak. Hanya saja tidak semua bisa aku tulis di sini. Di sini,
aku hanya ingin berbagi mengenai kekecewaan yang sebenarnya bisa di atas dengan
mengikhaskan. Tapi menjadi ikhlas itu susah. Bahkan ketika mengatakan ikhlas
pun, tidak akan pure ketika kita
masih terus mengungkitnya.
Kembali ke malam ini. Malam dimana aku merasa
kecewa. Kecewa pada diriku sendiri. Karena terlalu cepat memutuskan untuk
kesal. Padahal itu merupakan sebuah hal yang dilakukan karena mereka semua
sayang padaku. Hehe
Dua hari sebelum pergantian hari Natal, temanku
mengirimi pesan setelah melihat profile
picture-ku.
“Kamu udah sehat?”
“Iya.”
“Wah bagus kalau gitu, besok kita mau ke
Bandung. Anak-anak berempat. Kamu kesini aja besok. Ntar dijemput.”
“Oh ya? Wow! Tapi dadakan sih bilang. Tiket
mahal.”
“Iya.. sorry soalnya kami kira kamu masih
sakit.”
Orang sakit tinggalnya di rumah saja. Istirahat. Aku
setuju sekali sama ini. Kalau lagi sakit memang aku juga lebih suka di rumah.
Dan aku sangat senang karena teman-temanku mengerti akan hal itu.
Hanya aja aku kecewa dengan diriku sendiri. Karena
keadaan ini, aku harus menjadi orang yang selalu harus tinggal di rumah saja.
Begitu banyak kesempatan yang terpaksa aku lewatkan karena ‘ketidakbisaan’
untuk ikut. Dan menyimpan dalam-dalam keinginanku untuk memaksa ingin ikut.
Suatu hari di tempat tugas lapangan. Aku magangnya
di dinas kesehatan bagian survailans. Di dalam ilmu kesehatan masyarakat,
bagian Survailans sangat penting perannya dalam penyelidikan epidemiologi untuk
menemukan penyebab terjadinya suatu masalah kesehatan di dalam masyarakat yang
tidak hanya dilihat dari sisi klinis tapi juga sosial. Sehingga begitu ada
kasus yang seperti angka kesakitan yang membludak atau kematian karena suatu
kasus yang jarang maka petugas survailans akan langsung turun ke lapangan.
Hari itu, aku sedang melengkapi data untuk analisis
masalah kesehatan ketika sebuah kasus meninggalnya seseorang karena sebuah
penyakit yang jarang mengegerkan dinas kesehatan. Karena sedang di bagian
program lain untuk meminta data, aku jadi tidak tahu kalau ada sebuah kasus
yang butuh penelitian epidemiologi. Makanya setelah balik ke ruangan aku merasa
curiga karena semua staf survailans tidak di tempat. Ternyata benar. Sebuah kasus
sedang terjadi dan mereka harus segera menginvestigasi hal tersebut.
Di dalam ruangan aku begitu gelisah. Sibuk mencari
nomor staf yang hilang saat hapeku error kemarin. Dengan penuh keinginan untuk
belajar di lapangan aku menghubungi satu per satu staf. Berharap mereka memang
berniat mengajakku turun namun karena aku tidak ada dan sifat kejadiannya
urgent maka tidak ada waktu untuk mencariku. Berharap setelah aku hubungi
mereka akan mengajakku.
Beberapa menit kemudian, aku mendapatkan informasi
untuk meminta izin kepada kepala survailans dulu. Akhirnya aku menghubunginya.
Dengan was-was dan harap-harap pengen menanti balasannya. Namun sampai saat
makan siang aku tidak mendapatkan balasan. Aku penasaran sekali.
Ada tiga pemikiran di kepalaku. Pertama, beliau
sibuk. Kedua, begitu banyak yang harus diperiksa. Ketiga, beliau tidak berniat
mengajakku. Ini ngeri. Hingga selesai makan siang aku baru sadar kalau nomor
yang aku punya kelebihan satu angka. Hiks! Karena sudah terlalu siang, aku
mengurungkan niat besarku untuk belajar di lapangan. Hiburan aku dapat dari
teman dan diriku sendiri. Semoga masih kesempatan yang lain. Maka aku kembali
larut dalam analisis masalah.
Lusanya, kepala Survailans yang sudah tidak sibuk
lagi itu menemuiku. Bercerita singkat tentang kejadian kemarin dan juga
mengutarakan alasannya mengapa aku tidak diajak. Alasana itu yang menjadi
sumber kekecewaanku dan berhubungan dengan kejadian-kejadian selama ini.
Dan setelah sekian banyak alasan yang masuk akal
seperti fokus dulu analisis dan kejadian yang tidak butuh banyak investigator,
beliau akhirnya berkata yang menjadi sumber kekecewaan akan diriku sendiri.
“Medannya itu sulit, dek. Naik turun gunung. Jadi,
kasihan kan kalau ikut dengan kondisi
yang seperti ini.”
Aku mangguk-mangguk. Tersenyum pura-pura. Seperti malam ini. Dan kesempatan-kesempatan yang lain.
Dan pada orang-orang yang terlalu sayang padaku sampai tidak tega melihatku
kesulitan.
Sementara aku hanyut dalam kekecewaan akan diri
sendiri. Seperti malam ini.
Dan ketika aku menulis ini, aku akhirnya sadar. Bahwa kekurangan tidak boleh menjadi keterbatasan. Kita harus membuktikan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang besar meskipun memiliki kekurangan.
Dan ketika aku menulis ini, aku akhirnya sadar. Bahwa kekurangan tidak boleh menjadi keterbatasan. Kita harus membuktikan bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang besar meskipun memiliki kekurangan.
Kalian mengerti sekarang kan tentang untuk menjadi
berbeda?
Kaliurang km 4,5 Jogja
Sudah mandi dan wangi, tapi malam minggu di rumah

Comments