BOLERO
Well, guys. Now, saya mau share tentang sebuah tulisan saya yang sepertinya tidak ada harapan lagi untuk dimuat di majalah remaja. hahaha! Judul dan ide ceritanya saya dapat dari MV dan lagu BDSK yang berjudul BOLERO. Lagu ini diciptakan oleh bias saya Hero JaeJoong. Oke! Enjoy ^^
BOLERO
By : Rashy Riyetha
Aku mendapatinya duduk di sudut ruangan dengan wajah terpesona. Ia meringkuk dengan memegang setangkai sapu ijuk berwarna gelap. Matanya lurus memandang kami yang sedang berlatih. Aku melihat sinar yang memancarkan cahaya ketenangan dari mata kecilnya. Sambil tersenyum, ia menggoyangkan kepalanya mengikuti tarian kami. Sesekali, tangannya yang kecil berusaha mengikuti gerakan kami. Walaupun, ia terlihat seperti sedang melakukan gerakan ke senam jasmani. Hingga latihan kami berakhir, ia masih duduk di sana. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang dilakukan gadis kecil ini?
Ia segera menghambur ke tengah ruangan dengan sapu yang dipegangnnya sejak tadi. Perlahan ia mulai membersihkan lantai tempat kami berlatih. Kemudian, ia kembali menuju sudut ruangan dan kembali dengan kain pel dan air perasannya. Lalu, ia berjongkok dan mulai mengepel lantai itu perlahan-lahan. Peluh yang mulai bercucuran di wajahnya tidak ia hiraukan. Mata dan tangannya tampak berkolaborasi untuk membersihkan ruangan ini. Gerakannya yang perlahan itu, kini mulai terlihat cepat. Dan, keringatnya pun semakin deras mengalir. Wajahnya yang kecil tampak berkilauan dengan cucuran keringat itu. Satu jam kemudian, ia sudah berdiri di dekat pintu masuk. Menonggak pingggang. Menatap lurus ke tengah ruangan, sambil tersenyum.
“Paman, aku sudah membersihkannya!”, ujar gadis kecil itu pada Roy, pelatih kami. Tangan Roy merogoh saku jaket jeansnya dan mengeluarkan dua lembar uang lima ribuan. Kemudian dengan sopan diberikannya pada gadis kecil itu.
“Besok datang lagi, ya! Jangan telat!”, ujar Roy sambil memegang ujung rambut gadis kecil itu.
“Terima kasih, Paman!”. Ia mengambil uang dari tangan Rio. Matanya bercahaya melihat uang pemberian Roy. Ia kemudian segera berlari meninggalkan gedung. Menuju pintu gerbang, dan hilang di belokan menuju perkampungan.
@@@
Sejak hari itu, aku semakin sering melihatnya memperhatikan kami yang sedang berlatih. Bahkan, ia sekarang mulai berusaha mengikuti gerakan kami. Ia cukup pintar dalam belajar secara otodidak. Dalam dua hari, ia sudah bisa mengikuti sebagian gerakan kami. Tubuhnya cukup lentur untuk meliukkan badannya seperti kami.
Sore hari sehabis latihan, seperti biasa aku berbincang dengan Kak Roy sambil menunggu Hinca, gadis kecil itu, selesai membersihkan ruangan. Tiba-tiba, Hinca meletakkan sapu yang dipegangnnya ke lantai. Dengan berjinjit-jinjit, ia mulai menyalakan tape di samping jendela. Maka, musik pengiring tarian kami pun membahana di ruangan itu. Aku dan Kak Roy segera menoleh ke arahnya. Ia tersenyum pada dirinya sendiri. Matanya menerawang ke langit-langit, mencoba mengingat setiap gerakan yang telah direkam dalam memori otaknnya. Ia mengangkat kaki kanannya. Kemudian mencoba berdiri dengan kaki kirinya saja. Lalu, ia mengangkat kedua tangannya hingga membentuk lingkaran di atas kepalanya. Setelah itu, ia mulai berputar, perlahan-lahan. Hingga kemudian, ia mulai menari, berputar mengikuti irama musik.
Tetapi, beberapa menit kemudian, ia berhenti. Matanya menatap lurus pada kedua kakinya. Kaki kecil itu seperti berdenyut-denyut. Aku paham, kakiku juga terasa sakit ketika pertama kali aku berlatih. Ia kemudian mengambil kembali sapunya dan mulai menyapu kembali. Sesekali, ia berputar dengan bertumpu pada sapu mengikuti irama musik yang masih bersenandung.
Aku mulai menyukai perubahan Hinca. Dulu, ia selalu datang dengan kaos oblong dan celana jeans ketat, sehingga, meskipun ia menari dengan sangat bagus, namun style nya tidak mendukung tariannya. Hari ini, ia datang dengan rok putih setinggi lutut dengan kemeja lengan pendek berwarna merah muda yang sudah pucat. Ia tersenyum padaku ketika kami berpapasan di koridor.
“Kau cantik dengan busana itu”, pujiku tulus. Ia memperhatikan pakaiannya dan melihat ke arahku lagi.
“Ibu membelikan ini di kota. Bagus bukan?”, jawabyna sambil memegang ujung roknya dengan kedua tangannya, kemudian ia berputar ke kanan dan ke kiri dengan ceria. Aku mengangguk. Ia kemudian berlari menuju ruang penyimpan.
“Dua minggu lagi, ada event tahunan kota. Kita harus ada disana!”, ujar Kak Dewi, pelatih kami, dengan penuh semangat. Tepuk tangan dari para anak didiknya pun membahana. Ungkapan semangat kami yang membara setelah berlatih cukup lama. Aku pikir akulah yang paling berdebar di antara semua murid Kak Dewi dan Kak Roy. Kak Dewi pun menyadari hal itu. Ia memanggilku untuk berdiri di sampingnya.
“Ok, guys! Aku yakin, kalian belum pernah melihat Katty perform! So, do you want to see?”. Aku terkejut setengah mati mendengarnya. Benar, aku sama sekali belum pernah unjuk gigi di depan teman-temanku. Aku hanya berada di antara mereka, maka aku menjadi berani. Bagaimana jika aku sendiri?
“Kau siap, Katty?”. Aku menatap kesal pada Kak Dewi. Tapi gairahku untuk menari tetap tak bias kubendung lagi. Aku cinta tarian ini, maka aku akan menari. Melepaskan semua beban yang terkandung dalam tubuh dan pikiranku lewat tarian.
Aku melihat ke arah Kak Roy dan tersenyum. Aku cukup kaget dengan music yang kudengar kali ini. Seperti berbeda dari sebelumnya. Ini terdengar asing di telingaku. Aku tidak mengenali music ini. Kata-kata Kak Roy pun terngiang di telingaku.
“Jadikan music ini sahabatmu, Katty! Dan menarilah!”. Ya! Aku berusaha kembali untuk mengenali music ini, mencoba bersahabat dengannya. Kupejamkan kedua mataku. Pikiranku mulai menerawang ke langit biru yang luas. Di sini, hanya ada aku dan alam. Ditemani burung-burung yang berkicau ria. Aku merasakan aura ketenangan di sini. Desiran angin yang lembut menggugahku untuk bergerak, meliukkan tubuhku yang ringan seiring kicauan burung. Berputar mengitari alam dengan penuh senyuman, kebahagiaannya.
Prook prook proook proook! Aku terkejut dan membuka kedua mataku. Kudapati seorang gadis kecil berdiri di sudut sana sambil bertepuk tangan untukku. Masih dengan kedua tangan yang telentang, aku mendengar suara tepuk tangan itu cukup ramai. Namun yang aku lihat hanyalah Hinca. Ia tersenyum padaku dengan bangga. Aku seperti bangun dari mimpi. Aku menoleh ke belakang. Melihat Kak Dewi, Kak Roy, dan teman-temanku menyambutku dengan bangga. Mereka tersenyum padaku.
“Kau menari seorang diri. Apa kau tidak kesepian?”, Tanya Gishel, teman akrabku.
“Tentu, aku merasa asing menari sendirian”
“Tapi kau menikmatinya!”, sanggah Kak Dewi.
“Sungguh, aku ingin menari bersama kalian!”, ujarku mantap.
“Ya ya ya.. Kau perlu berlatih lebih keras”, jawab Kak Roy di susul tawa teman-temanku. Aku tidak dapat menilai diriku sendiri. Orang lainlah yang dapat melakukannya. Maka aku akan berusaha agar tarianku lebih bagus lagi dari ini.
@@@
“Kakak menari dengan indah. Sungguh memukau”. Hinca mendekatiku yang sedang berbenah. Ia menundukkan kepalanya untuk melihat wajahku dari dekat.
“Benarkah? Terima kasih, sayang”
“Aku ingin seperti kakak”. Aku terenyuh mendengarnya berkata seperti itu. Belum ada orang yang mengatakan bahwa aku adalah panutan untuknya. Aku menyadarai aku hanyalah remaja biasa. Kehebatanku dalam menari pun kuanggap karena karena aku menyukai tari. Bukan bakat terpendam dalam diriku.
“Kau harus jadi dirimu sendiri. Aku tak pantas kau contoh”, jawabku lirih. Ya, benar-benar tak pantas, batinku. Hinca berdiri kembali dan bersiap membersihkan ruangan kami. Aku tidak tahu apa ia tidak suka dengan jawabank atau tidak. Sebab aku masih melihanya tersenyum, menikmati pekerjaannya yang tak pantas ini. Aku mengeluarkan sepatu ballerina yang selalu menemaniku dari dalam tas. Kuletakkan di atas lantai dan melihat ke arahnya.
Aku tidak pernah tahu alasan Kak Roy memperkerjakan Hinca di sini. Ia masih terlalu kecil untuk bekerja sebagai Cleaning Service. Ia pantasnya berada di rumah dan belajar dengan giat agar menjadi bekalnya di masa depan. Namun, satu alasan yang aku tahu adalah karena uang. Menyadari hal itu, aku sadar bahwa aku sedikit beruntung darinya. Sungguh tidak pantas aku menyesali keberadaanku di tempat ini dengan segala kekurangan yang aku miliki. Bahkan, aku tidak bersyukur dengan bakat yang dianugrahkan Tuhan padaku. Sekarang, aku malah memberi sepatu ballerina satu-satunya pada Hinca. Padahal aku sadar, aku kesulitan membelinya dulu. Harapan yang besar ku lihat di mata Hinca. Kecintaannya pada tari seperti kecintaanku pada ballet. Ia menunjukan sosok diriku yang menyadari bahwa aku menyukai ballet, tapi tidak sadar bahwa itu adalah bakatku.
Inilah kesalahan terbesar dalam hidupku. Mengartikan bahwa kebahagiaan adalah alasan kita tersenyum ternyata keliru. Justru, kebahagiaan itu datang karena kita kita tersenyum.
Hinca sangat senang mendapati sepatu ballerina yang tertinggal di sana. Cukup lama ia memandangi sepatu itu. Tak lama ia tersenyum lagi sambil meraih sepatu itu dan meletakkannya di depan lokerku. Kemudian, ia menari kembali seperti biasanya.
@@@
Aku melihat ia datang dengan cepat hari ini. Dengan setengah berlari ia mendekatiku.
“Kakak melupakan sepatu ballerina di ruangan. Jadi, aku meletakkannya di depan loker kakak. Apa kakak menemukannya?”, tanyanya. Ia terdengar khawatir jika aku tidak menemukan sepatuku.
“Sebenarnya, aku ingin kau memilikinya. Tapi, aku lupa mengatakannya kemarin”. Ia terkejut mendengarku berkata bahwa aku memberinya sepatu. Matanya membesar tak percaya.
“Tapi untuk apa? Aku bukan ballerina!”, bantahnya. “Aku tak butuh sepatu, kak”, lanjutnya sambil tertawa kecil. Tawanya seolah membenarkan ucapannya. Membantah mentah-mentah bahwa ia menyukai tari. Aku turut tertawa menyadari kekeliruankua. Ia pasti tidak sadar bahwa kami selalu menonton pertunjukkannya setiap sore.
“Ya, kau benar”. Aku berjalan menuju tempat latihan sambil merenungi kesalahanku. Aku mungkin telah salah menilai Hinca. Kecintaanku pada balet dan harapan besarku pada Hinca telah menutup mataku untuk menilai Hinca dari sudut lain. Ia hanyalah seorang gadis kecil yang bekerja paruh waktu untuk membantu memenuhi kekurangan keluarganya. Aku jelas berbeda dengannya. Seharusnya aku lebih peka lagi dalam mengartikan situasi.
Hinca tetap antusias melihat kami berlatih. Ia masih tetap mengikuti gerakan kami dan mempraktekkanya ketika kami selesai berlatih. Begitu terus, tanpa ada perubahan. Aku sudah berhenti berlatih balet. Karena aku mulai sibuk dengan kuliah. Sesekali, aku datang mengunjungi Kak Dewi dan murid-murid barunya. Mereka sama seperti kami, penuh semangat dalam menghayati gerakan. Aku menyapukan pandangaku ke sudut ruangan. Namun, sudah tak ada Hinca lagi disana. Ia mungkin sudah mencari pekerjaan lain di luar sana.
Aku menemani Kak Roy berbincang-bincang sambil melihat junior-juniorku berlatih. Mataku kini tertuju pada seorang remaja yang selau saja mengambil tempat paling belakang. Ia selalu tersenyum ketika Kak Dewi menegurnya untuk tidak menghindar dari penonton. Aku seperti mendapatiku dalam masa lalu. Selalu tak berani berdiri di depan. Aku senang melihatnya.
“Aku harus pulang, Kak. Ada banyak tugas kuliah menantiku”, aku berpamitan pada Kak Roy dan Kak Dewi serta pada junior-juniorku. Sambil tersenyum, aku meninggalkan ruangan yang menjadi tempat berlatihku dan menenukan jati diriku ini. Menutup sejenak lembar kenanganku.
“Hinca! Ayo ke depan!”, perintah Kak Roy pada Hinca. Hinca tersenyum lagi dan dengan gugup berjalan ke depan.
^,^ SELESAI

Comments