MIMORA, MEMORY
By : Accie Cassiopeia
20 Juni 2011…
Percakapan ini tercipta begitu saja ketika aku bertemu dengannya pertama kali.
Sebelumnya, aku adalah orang yang jarang tersenyum. Iya, aku bisa tersenyum. Tetapi sangat jarang. Aku masih bisa mengingat dengan jelas ketika aku dimarahi oleh ayah dan ibu karena memberikan tampang jutek pada rekan bisnis ayah. Aku memberikan senyuman terpaksaku dikeesokan harinya. Itu sudah lama. Dan aku masih ingat senyumanku yang dipuji oleh nenek dari ayahku. Itu, juga sudah lama…
“Hey!! Kau mengambil milikku!” Aku tidak terlalu terkejut ketika seseorang mengejutkanku. Itu karena aku sudah biasa mengagetkan seseorang.
“Ini??” Aku mengangkat sebuah miniature bel berwarna kuning keemasan. Begitu aku menggoyangkan belnya, terdengar bunyi gemericik yang tidak menyenangkan. “Aku melihatnya di jalan, jadi aku mengambilnya!” ujarku. “Jadi ini milikmu? Sangat tidak bagus” Aku mengambil tangan orang itu dan meletakkan bel itu diatasnya.
Itu adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Tidak ada sesuatu pun yang aku ingat tentang pertemuan itu. Tetapi ketika ia mendatangiku, eh, bisa dikatakan kami bertemu lagi, aku mengingat semuanya…
“Aku membeli miniature yang sama dengan yang waktu itu” Dia masih mengingat wajahku padahal sudah sangat lama sejak pertemuan kami yang pertama, kira-kira dua hari yang lalu.
Aku hanya menatapnya dengan bingung tetapi mencoba untuk mengenalinya. “Kenapa kau harus membeli lagi?” Yup! Pertanyaan menjebak.
“Aku menjatuhkannya lagi !” Aku mulai berkesimpulan bahwa aku menemukan belnya yang jatuh. Sedikit senyum mulai menyungging dihatiku ketika aku tahu aku cukup baik.
“Dimana kau membelinya?” Dia memainkan bel itu sehingga menimbulkan bunyi gemericik yang tidak menyenangkan.
“Toko Hadiah natal” Dia terlihat sangat menyukai bunyi bel itu.
“Kau menyukainya?” tanyaku. “Bel kecil itu”.
Dia menggeleng sambil meletakkan bel itu ke atas meja. “Aku menghargainya”.
”Apaaa?!” Aku bertanya dengan nada setengah mengejek dan tidak percaya.
“Seseorang telah memberikan ini padaku, dan aku menjatuhkannya. Lalu seseorang menemukannya untukku tapi aku menjatuhkannya lagi”
“Kau tidak seharusnya membeli itu lagi”
“Kenapa?” Jujur, aku terkejut karena dia penasaran dengan apa yang akan aku katakan.
“Kau tidak bisa menjaganya”
***
Aku bertemu dengannya lagi. Tetapi aku ingin sekali menghindarinya. Terakhir kali aku bertemu dengannya, aku tertawa terbahak-bahak. Dan itu telah melanggar prinsip hidupku.
“Apa itu??” Aku menunjuk sebuah bungkusan besar di tangannya.
“Aku akan ke desa nenekku selama dua minggu. Ini oleh-oleh untuknya”
“Benarkah?? Ini bukan berita bagus!”, batinku. “Baik. Hati-hati di jalan” Beberapa saat kemudian aku merasa ada yang salah dengan ucapanku. Lidahku seperti terbakar saat aku mengatakan perkataanku barusan. Dia benar, aku tidak seperti ini sebelumnya.
“Kau terlihat berbeda” ujar Heiru heran, kawanku yang baru kusadari berada bersama kami sejak tadi. Tatapanku tertuju padanya, menyuruhnya untuk diam. Tetapi sesungguhnya aku mengiyakan perkataanya.
“Aku akan mengantarmu ke dokter. Kau membutuhkannya” Aku mengangguk dan segera beranjak mendengar ide bodoh Heiru. Meninggalkan Jae dalam kebingungannya.
Aku sudah lupa berapa kali kami telah bertemu dan saling menyapa, tapi aku tidak lupa semua perubahan yang terjadi padaku. Hanya saja perubahan itu tidak begitu menyiksaku, aku cukup menikmatinya. Dan menurut Heiru, aku benar-benar butuh obat!
“Kau sedang menghitung apa?” Beberapa menit, Heiru menunggu jawabanku, tetapi aku sengaja membuatnya untuk menunggu, bukan, aku bukan sengaja tetapi itulah aku. Heiru, satu-satunya cowok yang mau berteman denganku karena semua sikapku yang menyebalkan. Aku tidak heran, sebab kata Heiru ia tidak suka melihatku dibenci semua orang. Dia hanya ingin bersikap adil terhadap semua makhluk yang ada di dunia. Menurutku, ia terlalu berlebihan.
“Sudah seminggu tetapi kami tidak bertemu lagi” ujarku kemudian. Mataku masih tetap menghitung hari dalam kalender handphoneku. “Apa ia melupakanku?” bisikku lirih sambil melirik Heiru takut-takut. Dari sudut mataku aku tidak yakin Heiru terkejut, tetapi ia seperti tidak mendengar ucapanku.
“Kau bilang apa tadi?” Tuh kan!
“Karina tidak datang kemarin” jawabku asal. Tetapi cukup benar, Karina tidak datang mengunjungiku, dan itu bukan kemarin. Melainkan hari minggu. Karina adalah pacar Heiru, ia sangat baik kepadaku dan aku sangat jutek kepadanya. Dia jelas-jelas mengatakan padaku bahwa ia cemburu Heiru terlalu dekat denganku. Itu tidak salah.
“Apa kau sedang mencarinya?” Aku mengangguk saja. Tidak peduli pada yang dipikirkan Heiru. Pikiranku hanya tertuju padanya….
Karina yang kubicarakan datang hari ini. Aku memutuskan ia diberitahu Heiru tentang ini, maka aku menolaknnya datang. Di depan pintu dengan memegang sebuah bungkusan besar, ia tersenyum padaku. Sahabatku, begitu kata tatapannya.
“Aku menemukan ini di depan” Karina sudah biasa berada di rumahku dalam waktu lama. Ia sangat cerewet dan kadang melunturkan keangkuhanku.
“Sampah siapa yang kau katakan ada di depan rumahku?” kataku ketus. “Cepat buang!”
“Sampah?? Ini sepertinya bukan sampah” Karina menceritakan bagaimana ia bisa menemukan benda itu dengan gayanya yang kocak. Tuh kan! Karina sukses membuatku tersenyum, sedikit. Hanya satu orang yang sukses membuatku tertawa lebar. Itu dia…
Aku pura-pura tidak peduli dengan benda yang sudah diletakkan Karina di dapur. Di dekat tempat sampah agar pembantu di rumahku langsung membuangnya. Sesungguhnya aku seperti mengenali benda itu. Bungkusan hitam besar seperti di dalamnya sedang memuat sebuah kotak besar dengan isi yang sangat membuatku penasaran. Tapi aku sulit mengingat benda itu sebelumnya. Anemiaku membuatku cepat melupakan sesuatu. Sepenting apapun itu.
Ngomong-ngomong tentang anemia, penyakit ini memaksaku untuk terlihat bingung membedakan antara nyata dan tidak nyata. Dokter yang selalu memeriksaku mengatakan aku tidak apa-apa karena aku hanya butuh tablet penambah darah. Tetapi aku rasa dokter itu yang kenapa-kenapa. Bagaimana bisa aku yang jelas-jelas sakit hanya perlu mengkonsumsi tablet. Sudahlah… Aku sedikit tidak peduli dengan hidupku mengingat aku sangat dibenci oleh semua orang. Dan kupikir ayah dan ibuku juga. Jika mereka menyayangiku, aku yakin mereka akan datang malam ini sebab aku mengirim keadaan daruratku melalui fax dikantornya. Aku tidak berharap dia akan membacanya dan segera meluncur ke rumah. Aku hanya ingin setidaknya dia membacanya dan jika ia tidak bisa datang ia akan menyinggungnya jika kami bertemu.
“Apa kau sudah membuang semua sampah hari ini?” tanyaku dengan suara cukup ketus. Pembantu wanita itu melihat ke arahku dengan tatapan heran. Aku tahu kenapa! Suaraku tidak begitu tinggi seperti biasanya. “Ehh.. aku mencari sesuatu!” Kupikir dengan memperbaiki kalimatku akan terdengar lebih baik.
“Sebuah plastic besar di dekat tempat sampah? Maaf, nona. Aku tidak melihatnya” Jawabannya yang bagus bukan. Dan aku harus merelakan untuk mati penasaran jika aku tidak menemukan plastic itu!
Kewenangan yang aku miliki cukup untuk membuat kedua pembantuku mencari plastic itu. Aku tidak akan begitu kesal jika plastic itu ternyata sudah sampai di tempat yang seharusnya, tetapi aku akan sangat kesal jika plastic itu benar berisi… sampah!
***
“Kau dimana tadi? Aku mencarimu di kelas” Heiru selalu datang dengan segala perhatiannya. Jika aku jadi Karina, aku akan segera mencari pria lain yang lebih memperhatikan aku. Tapi karena mahasiswa psikologi itu sangat ingin sekali mempelajariku, maka meninggalkanku adalah masalah.
“Aku dengar kau membuat semua sibuk tadi malam. Ada apa??” lanjut Heiru seolah ia akan tetap mendapatkan perhatianku.
“Aku mencari baju pemberianmu” Sekali lagi aku mengatakan yang sembarangan. Memang benar jika aku menghilangkan hadiah baju dari Heiru, tapi itu sudah lama dan aku tidak sama sekali berniat untuk mencarinya. Inilah alasan yang bisa dipakai Karina untuk tetap menyukai Heiru. Aku tidak peduli dengan Heiru.
Menjauh dari Heiru adalah kegiatan baru yang senang kulakukan. Sejak aku tidak tahu dimana keberadaan dia, aku jadi ingin sendiri, tidak, aku jadi ingin pergi ke sebuah tempat. Hanya saja aku lupa nama tempat itu. Dia mengajakku berbicara terlalu lama dan tahu-tahunya aku sudah ada disana, di tempat yang ingin aku kunjungi.
“Anda ingin kemana, nona?” teguran itu seperti suara titik-titik hujan yang jatuh tiba-tiba di atas genteng. Seorang supir taksi sedang berbicara padaku dibalik kemudinya. Aku melihat jam tanganku.
“Aku akan turun disini”
Tidak masuk jam kuliah hari ini hanya untuk tertidur di dalam taksi. Benar-benar hal bodoh. Dan sekarang aku terjebak di sebuah tempat yang…
“Oh My God!!!” Aku terkejut menyadari aku sedang berada di tempat aku dan dia sering bertemu. Sebuah taman yang terletak setengah kilometer dari rumahku. Aku berdiri tepat di bawah sebuah pohon dimana aku menemukan sebuah bel kecil kepunyaannya.
Aku akan berpikir ini takdir yang akan menjodohkan aku dengannya. Lima menit adalah waktu yang paling lama kugunakan untuk menunggu seseorang. Dan aku sudah duduk dibawah pohon ini sejak, satu jam yang lalu.
Rasanya sangat aneh jika dibilang aku mungkin jatuh cinta dengannya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana itu cinta. Ayah dan ibuku tidak pernah menunjukkannya padaku. Bahkan saat aku kecil, setiap anak yang kutemui akan menceritakan tentang liburan mereka di desa neneknya. Aku harus puas dengan liburan dengan menonton semua film anak-anak.
Yang kunantikan saat ini adalah bertemu dengannya dan mulai melanggar prinsip-prinsip hidupku. Itu saja! Dan semua akan menyenangkan bagiku.
“Narsha?? Apa yang sedang kau lakukan disini?” Aku tidak mengharapkannya datang. Sungguh! Ini seperti memakan pisang berasa jeruk. Karina selalu saja menemukanku. Ia memiliki penciuman yang hebat untuk menemukan kelinci percobaannya. “Heiru mengatakan kau kabur darinya. Ada apa??”
Aku tidak ingin menjawab pertanyaannya. Karina pasti sudah tahu jawabanku. Hanya buang-buang waktu saja jika aku harus menjawabnya. Perlu kalian tahu, percakapanku dengan Karina sangat membosankan, tetapi aku betah denganya.
“Kau masih ingat tentangnya kan?” Tanya Karina kemudian. Ia mengeluarkan sebuah plastic hitam besar dari balik bangku taman.
“Siapa??” aku bertanya kebingungan, sementara mataku tertarik untuk memperhatikan plastic hitam besar itu. Astaga! Jangan bilang itu adalah plastic yang aku cari semalam. “Ternyata ada padamu? Apa isinya??!” tanyaku penuh rasa ingin tahu. Aku tidak peduli dengan tanggapan Karina. Ia akan mengatakan bahwa aku telah menjilat ludahku sendiri.
“Ini?? Ini kan..” Karina berhenti sejenak saat hendak menjelaskan padaku. Dia menatapku bingung tetapi terdapat sedikit senyum dibibirnya. “Tunggu! Apa yang sedang kau bicarakan?”
Membingungkan!! Karina bersikap seolah dia telah tidur selama 100 tahun dan baru bangun setelah seorang pangeran menciumnya kemudian ia menjadi lupa semuanya. Benar-benar aneh! Aku menjelaskan semuanya tentang plastic hitam itu dan pertemuanku dengan Jae hingga terakhir kali kami bertemu saat ia memegang plastic hitam yang sama kemudian aku mulai berpikir untuk menyambung-nyambungkan plastic hitam itu dengan ketidakmunculan Jae setelah seminggu meninggalkanku.
“Heiru! Aku butuh kau disini!” Karina malah menghubungi Heiru hanya untuk menjelaskan apa isi plastic itu??, batinku kesal. Aku mencoba menahan amarahku. Sementara hatiku berdebar untuk mengetahui apa isi plastic itu dan hubungannya dengan tidak datangnya Jae.
Karina mengajakku untuk membuka plastic itu bersama-sama. Aku semakin berdebar karenanya. Debaran jantungku seperti membuat jantungku akan meledak. Dan, jantungku benar-benar akan meledak!
Mataku kemudian berkaca-kaca, denyut jantungku semakin tidak terkendali, bibirku gemetaran, dan aku ingin.. jatuh.
Pertama kali aku berbicara dengannya adalah saat malam natal, kami bertemu ketika aku menemukan belnya yang jatuh. Bel kecil yang apabila digerakkan akan menimbulkan bunyi gemericik yang tidak menyenangkan.
Kemudian ia menghilang, meninggalkanku dalam kesepian seolah ia datang hanya untuk merebut semua kebahagiaanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, saat aku bangun aku bertemu Heiru dan Karina. Aku menceritakan semuanya pada mereka, tidak, pada orangtuaku lalu kemudian orang tuaku memanggil mereka. Mereka adalah dokter, tetapi aku menggapkan mereka adalah.. teman-temanku.
Kotak besar itu kini sudah tidak terbungkus plastic. Siapa saja akan mudah melihat apa isi di dalam kotak itu. Termasuk aku. Itu adalah sebuah… foto. Sebuah kenangan kembali hadir dalam memori otakku.
“Aku akan ke desa nenekku selama dua minggu. Ini oleh-oleh untuknya”. “Kau ingin melihatnya?” Jae membuka plastic itu. Aku melihat diriku dan Jae di foto itu kemudian tersenyum. Aku sangat senang. Meskipun ternyata itu adalah saat terakhir kami bertemu. 20 Juni 2008. ~END~

Comments