BERBUAH KISAH (Bagian I)



By : Rashy Riyetha
            Hari masih pagi ketika aku membuka kedua matanya setelah sekian lama ku tertidur tak sadar diri. Kepalaku sedikit pening dan pusing. Panglihatanku juga belum terlalu jelas. Masih kabur. Perlahan ku mulai mendengar suara-suara yang menyerukan namaku.
            “Dan. Dania.. “,
            Sejenak aku melihat jelas apa yang sejak tadi tampak di hadapanku. Ibu, Rian, Mbak Desi, Pak Amir, dan …. ?? Kurang seorang. Dan aku tahu siapa.
            ”Dania..!!”, ujar Mama seraya memelukku erat. Aku terharu. Padahal aku belum terlalu ingat mengapa aku berada disini. Namun air mataku tak mampu kubendung lagi.
            ”Ma... Dania baik-baik aja kan, Ma ?”, tanyaku. Tatapanku meminta penjelasan. Aku melihat dr. Amir yang sejak tadi berdiri di sampingku..Ia tersenyum. Begitu juga Mbak Desi dan Rian.
            ”Iya, Nak. Kamu baik-baik aja. Hanya sedikit lelah mungkin”, jawab Mama sambil menahan rasa harunya. Aku tersenyum mendengar jawaban Mama. Aku sedikit bahagia melihat senyum Ibu. Itu seperti menentramkan hatiku yang kosong. Tapi mengapa kini aku merasa sangat hampa. Tatapanku hanya tertuju pada pintu, berharap dia datang. Tapi, aku sadar itu hanya harapan hampa. Aku kini ingat kejadian itu. Kejadian yaang membuatku tak sadar diri selama seminggu. Aku tumbang dan aku rapuh kala itu.
            Sabtu, 12 Desember. Ribuan undangan telah tersebar. Semua keluarga yang ada di desa kelahiran aku dan Irwan telah aku undang untuk hadir dalam cara sakral yang akan ku gelar dengan Irwan. Tempatnya pun telah kami tentukan. Hari yang sakral itu juga sudah ditetapkan. Saat itu, aku merasa sangat bahagia. Bagiku tak ada yang sebahagia diriku kala itu. Walaupun aku dan Irwan bersahabat sejak kecil, kami selalu berharap agar dapat bersatu selamanya. Pasalnya, saat aku menginjak usia 17 tahun, aku harus berpisah dengannya. Aku dan Ibu hijrah ke Kota demi pengobatan Ibu. Aku ragu kalau kami dapat bertemu lagi.
            Namun, Tuhan sepertinya memang telah mengariskan Irwan sebagai jodohku. Saat lulus SMA, Irwan hijrah ke Kota dan menunutut ilmu di sini. Sejak saat itu, kami menjalin hubungan kami yang telah beralih haluan dari rasa persabatan ke rasa cinta.
            Jum’at 18 Desember. Hatiku tak tenang saat itu. Aku berdiri mondar-mandir di serambi rumah. Berkali-kali aku mengirim pesan sinkat ke ponsel Irwan. Ia menjawab memang, tapi aku masih tak tenang, Hatiku gelisah. Galau. Besok adalah hari pernikahan kami, tapi ia belum kembali dari pekerjaannya. Ia masih di desa yang terisolir akibat longsor yang menimbun jalan penghubung desa dan kota. Aku khawatir karena desa itu penuh tebing tinggi yang rawan lonsor. Apalagi di musim penghujan saat ini.
            Aku mengirim pesan singkat lagi. Berharap ia menjawab bahwa ia telah dalam perjalanan ke kota. Ia sangat ingin bertemu denganku. Ia ingin cepat pulang dan banyak jawaban yang aku ingin diberikan padaku. Tapi, ia tak membalasnya kali ini. Pukul 10 malam, aku di kagetkan oleh bunyi telepon.
            “Hallo, Irwan ? Kamu dimana sekarang ? Aku sms dari tadi kok nggak dibalas ?”, gerutuku cemas dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.
            “Sorry, sayang. Tadi nggak ada sinyal. Sekarang sih sudah ada. Lagi di perjalanan aku. Masih jauh dari kota sih, jadi sinyalnya rada ilang-ilang. Hahahaha..”, jelas irwan seraya tertawa senang. Aku tersenyum sedikit lega.
            “Ya udah kalau gitu. Kabarin aku yah kalau udah masuk kota. Aku khawatir banget”, ujarku lega.
            “Iyaa.. Tapi jangan sampai kamu nggak tidur. Istirahat yang cukup yah.. Aku sayang banget sama kamu. Aku ingin segera bertemu kamu. Jangan khawatir yaa, Allah pasti menjagaku. Dan aku...”, ujar Irwan terputus. Tiiit.. Tiiit...Entah kenapa, aku jadi begitu gelisah saat sambungan telepon kami putus. Ya, Allah.. Lindungi dia, Ya Allah, batinku berharap perlindungan Allah. Tubuhku bergetar hebat. Air mataku perlahan jatuh. Aku takut. Beberapa saat yang lalu, aku merasa sedikit lega mendengar suaranya tapi mengapa kini aku takut. Kucoba tuk menghubunginya kembali. Tapi tak ada sinyal. Aku panik. Ku hubungi semua keluargaku. Kubangunkan Ibu yang sedang tertidur lelah.
            “Mah, Mah... Irwan Mah...”, ujarku panik. Ibu yang masih setengah terjaga langung bangkit dari tempat tidur melihatku yang sedang panik.
            “Ada apa ?? Irwan kenapa ? Kenapa Nak ?”, tanya Ibu khawatir. Tangannya memegang tanganku yang bergetar ketakutan. Akupun langsung memeluknya. Air mataku terus terjatuh. Seolah aku telah tahu apa yang akan terjadi. Aku menceritakan saat-saat terakhir kami berbicara.
            “Ya sudah, kita berdoa saja. Semoga Allah melindunginya. Lagi pula kan tadi dia bilang di sana nggak ada sinyal. Jadi, kamu nggak usah sekhawatir itu. Yah ??”, ujar Ibu mencoba menenangkanku. “Sudah, kamu istirahat. Biar besok, kamu bisa tampil cantik. Terus berdoa pada Allah ya, Nak”, aku mengangguk. Jujur, aku masih gelisah. Tapi aku tidak mau membuat Ibu turut gelisah. Aku melewati sisa malam ini dengan gelisah. Hatiku terus berdoa agar Tuhan tak memisahkan kami lagi. Namun, ternyata takdir berkata lain.
            Sabtu, 19 Desember. Aku terjaga ketika bunyi alaramku berdering tuk yang kesekian kalinya. Sudah pukul tujuh pagi, tapi keadaan rumahku masih sepi. Bukankah ini hari yang akan sibuk ?, batinku heran. Aku mencoba menepis pearsaan-perasaan negatifku. Dirumah memang hanya ada aku, Ibu dan Mbak Desi. Jadi wajar sepi. Aku beranjak mandi. Aku harus yakin hari ini adalah hari dimana Allah mempersatukan kami dalam ikatan yang tak kan terpisahkan. Aku melihat Ibu dan Mbak Desi di ruang makan. Mereka tersenyum. Hangat, tapi tetap aku tak tenang. Ibu menyodorkan segelas susu hangat padaku. Aku mengambilnya, namun tak langsung kuminum. Suara ribut di luar rumah cukup mengusikku untuk tahu apa yang terjadi. Kulihat Rian dan dr. Amir serta beberapa lelaki di serambi rumahku. Aneh. Bukannya mereka harus ke Masjid Ar-Rahman. Begitu aku mendekat, Rian tampak kaget melihatku. Tapi, dia mencoba tersenyum.
            “Sudah bangun, Dan ?? Wah, sudah mandi pula”, goda Rian menyembunyikan kekagetannya. Aku tak langsung menyahutnya. Aku melihat sekeliling yang tampak aneh dari hari-hari sebelumnya. Pintu garasi tampak sedikit terbuka. Dari jauh aku bisa melihat beberapa rangkaian bunga. Tapi entahlah. Aku tak mengerti untuk apa. Ibu dan Mbak Desi menyusulku ke depan. Ibu terlihat memanggil dr.Amir. Mereka kemdian saling berbicara. Serius sekali. Mbak Desi dan Rian mulai mengalihkan perhatianku.
            “Rian, kenapa belum datang si Zasky ?? Katanya mau datang ke sini pagi-pagi ?”, ujar Mbak Desi
            “Gimana mau datang, Mbak. Dia kan minta dijemput, tapi si Rian ini malah belum menjemputnya”, tukasku menimpali. Rian tersenyum malu. Aku pun mulai terhanyut dalam percakapan ini. Sesekali aku tertawa lepas. Melepaskan beban yang ku tanggung semalam. Tapi mataku tak lepas dari pintu gerbang. Mengharapkan apa yang kuharapkan semalam suntuk.
            “Nia... Sarapan dulu !! Kamu ini, susunya juga sudah dingin tuh!!”, aku bergegas masuk mendengar omelan Ibu. Hatiku sudah mulai tenang. Ku lihat mobil keluarga Irwan datang. Dengan cepat, aku meneguk susu itu dan segera berlari keluar menyabut Irwan. Tapi, mana Irwan ?? Hatiku mulai bertanya-tanya lagi ketika ku lihat Ibu Irwan keluar dengan mata sembab. Aku memandang nanar pada mereka yang ada di situ. Semua membohongiku akan keadaan yang sebenarnya. Aku tahu, hatiku semalam berkata benar.. Ya Allah, Kuatkan aku, batinku galau. Gelas di tanganku bergetar hebat.
Bersambung ke part II

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y