BERBUAH KISAH (Bagian II)
By : Rashy Riyetha
Kulihat Ibu memeluk Ibu Irwan erat. Mereka tampak berbicara serius. Air mata Ibu pun tumpah. Mbak Desi, tahu-tahu sudah ada di belakangku. Ia memegang pundakku. Aku menatapnya. Sebulir air mata menanti tuk turun di kelopak matanya sendunya. Tak berapa lama, iring-iringan mobil polisi dan ambulans memasuki halaman rumahku. Aku tak kuasa lagi menahan gejolak dalam hatiku. Air mataku tertumpah. Aku menghambur keluar. Tapi, Rian dan Mbak Desi menahanku. Mbak Desi memelukku. Ia sedikit berbisik di telingaku,”Sabar, Dan. Sabar Dania...”. Ku lihat Ibu menangis. Ia mulai memelukku dan membawaku ke dalam kamar. Tapi, belum sempat aku dibawa kekamar, aku lunglai. Jatuh dan tak sadar diri. Hingga aku tersadar di kamar rumah sakit ini.
“Mah, aku haus !”, ujarku pelan.
“Haus ? kamu mau minum apa ?”, ujar Mbak Desi sambil mengelus rambutku.
“Ini”, ujar Rian menyodorkan segelas susu hangat. Aku segera meneguknya. Habis. Senyumku mengembang lagi. Dr. Amir berkata bahwa aku sudah sehat. Dan aku menyakinkan Ibu agar aku di izinkan pulang. Kamipun beranjak meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Rian terus menghiburku. Memang sejak aku tiba di kota, Rian adalah sahabat terbaik untukku.
“Terus, pak tua itu malah ngomel-ngomel. Kebayangkan gimana saltingnya orang itu,” cerita Rian disusul tawa dariku. Begitupun Ibu, dr. Amir dan Mbak Desi mendengar guyonan Rian.
“Kamu ini, pintar sekali ngarang”, ledek Mbak Desi. Suasana dalam mobil masih penuh tawa. Ketika melewati sebuah rumah bercat coklat. Tawaku berhenti. Raut wajahku berubah. Tapi, aku harus biasa melewati semua ini. Mobil berhenti di halaman depan. Aku langsung turun dan menghambur kedalam.
“Huahhhh.. Kangen aku sama kamu, Min “, ujarku seraya memeluk Minnie, kucing piaraanku. “Eh, kamu kok kotor, jangan-jangan Mbok nggak mandiin kamu yah ? Aduh, sayang. Mmm.. bau.. Nggak mandi sih..”, candaku pada Minnie. Ibu tersenyum melihat ulahku. Sambil menggendong Minnie, aku kembali ke ruang tamu.
“Gimana keadaan kantor, Kak ? Aku belum di keluarkan kan ?”, candaku pada Rian yang sedang meneguk segelas es jeruk.
“Nggak di keluarkan sih. Cuma hampir di DO!”, ledek Rian kemudian. Kami pun tertawa lagi.
“Baiklah, Bu Rose, Des, Dania..”, ujar dr Amir kemudian. “Kami pamit dulu, masih banyak kerjaan ..”, lanjutnya kemudian..
* * *
Sebulan sudah aku menjalani hidup baruku tanpa Irwan. Aku sudah memulai aktivitasku seperti biasa di Gedung Mahakarya lantai 5 sebagai wartawan TV swasta seminggu yang lalu. Hari ini, aku baru pulang dari Gedung DPR Pusat untuk meliput jalannya rapat paripurna yang membicarakan masalah angket salah satu bank swasta di Indonesia. Aku ingin langsung pulang, tapi melewati Jalan Merdeka, aku membelokkan motor Honda Beat yang selalu menemaniku ini ke TPU Damai Sejahtera. Seperti suasana TPU pada umumnya, TPU ini cukup sepi, hanya beberapa penjaga makan yang sibuk membersihkan makam.
Aku berhenti di sebuah makam yang tanahnya belum terlalu kering. Aku mulai memanjatkan doa-doa untuk penghuni makam ini. Tak ku pungkiri , aku menangis lagi. Tapi, tak lama. Hanya sekedar pelampias perasaan yang tersiksa setelah kepergiannya. “Ir, aku pulang yah. Aku pasti kesini lagi untuk kamu. Dan aku janji, aku nggak akan nangis terus”, ucapku lirih seraya meninggalkan makam Irwan. Ketika ku tiba di parkiran, aku melihat mobil Rian terpakir di ujung tempat parkir. Sementara pemiliknya sibuk mengawasiku dari pos penjaga makam. Aku menatapnya sinis, sementara Rian terus tertawa lebar.
“Kakak ngikutin aku yah ? Nakal !!”, ujarku pura-pura marah.
“Yaa, aku kan khawatir, Dan. Masa cewek sore-sore gini malah nongkrong di kuburan”, godanya sambil mengacak-acak rambutku.
“Yee.. suka-suka. Jangan ngiri deh !!”, balasku.
“Ya udah, ayo pulang !”, hardiknya. Aku mengikuti heran. Aneh. Sikap Rian padaku akhir-akhir ini memang beda. Tidak seperti dulu. Mungkin, ia memang ingin lebih manjagaku.
Dirumah, Rian terus menggodaku. Ia bahkan menjadikanku bahan lelucon untuk Ibu dan Mbak Desi.
“Iehh, Kakak !! Jangan ledekin aku terus ahh !!”, ujarku marah. Tapi mereka malah tertawa melihatku cemberut. “Aku kan kangen”, lanjutku lirih. Aku beranjak meninggalkan mereka menuju serambi depan. Aku mulai menatap bintang. Mengulang kebiasaanku bersama Irwan.
“Dan, kamu tahu kenapa aku suka sama bintang?”, aku menggeleng kala Irwan menyakan hal itu padaku.
“Karena, mereka selalu ceria. Selalu berkelap-kelip. Selalu tertawa dan tak pernah sedih”, jelasnya,”Tuh, kamu lihat bintang di sebelah sana. Dia tampak ceria sekali ya”, lanjutnya seraya menunjuk sebuah bintang yang paling cerah malam itu.
“Iya, Ir. Mungkin dia baru aja dapat duit banyak. Hahahaha”, jawabku asal.
“Makanya, kamu jangan sering nangis, Dan. Biar kayak bintang-bintang itu. Selalu bersinar”, nasehat Irwan kemudian. Aku mengangguk semangat. “Janji ?’, lanjutnya lagi.
“Janji !!”, jawabku mantap. Aku selalu tersenyum saat mengingat pesan-pesannya. Apalagi saat aku melihat bintang. Seolah, dia sedang tertawa ceria bersama bintang-bintang diatas sana seraya berteriak menyerukan namaku,”Daaanniaa... Jangan nangis !!!”.
* * *
Minggu pagi yang cerah membangkitkan semangatku untuk lari pagi. Aku mencoba membangunkan Mbak Desi, tapi sejak tadi ia tak kunjung bangun. Kuputuskan untuk pergi tanpa Mbak Desi. Dengan berbekal handuk kecil dan sepeda, ku awali hari libur ini dengan bersepeda ria. Melewati rumah dr.Amir, aku berhenti sejenak. Biasanya Rian selalu bangun pagi, mungkin dia mau menemaniku, batinku mulai berharap. Benar saja, beberapa menit kemudian, Rian sudah ada di belakangku dengan sepeda berwarna hitamnya.
“Dan, tumben sendirian ? Mbak Desi mana ?”, tanyanya sambil memintaku berhenti.
“Masih molor dia. Hehehehe... Lanjut yuk !”, jawabku tanpa berhenti. Aku lagi asyik menikmati udara segar ini. Jarang-jarang kan kita bisa menikmati udara segar di kota besar. Rian tampak mengejarku, walaupun dia selalu tertinggal jauh. Mendekati seorang tukang es, aku memperlambat laju sepedaku.
“Bang, esnya satu”, pesanku pada tukang es yang berkumis di depanku. Sementara tanganku sibuk mengelap keringat yang sudah mengucur deras akibat pembakaran kalori.
“Makasih Bang “, tanpa ba-bi-bu lagi segera ku sedot habis es teh itu. Seegaarr, batinku menyeruak. Dari jauh aku mendengar suara seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke belakang.
“Astaga, aku hampir lupa kalau aku bersama Rian”, batinku kaget. Aku tertawa lepas melihatnya yang tampak lelah. Aku tahu, Rian memang tak jago bersepeda, jadi wajar dia selalu ketinggalan bila bersepeda dengan aku dan Mbak Desi. Tidak seperti Rian, Irwan lebih jago dariku. Sejak dulu, kami selalu menyediakan waktu khusus untuk bersepeda bersama. Tapi, itu dulu.
“Dan !! Kamu ini !! Udah tahu aku nggak bisa balap, eh kamunya malah cepet-cepet!”, gerutunya jengkel. Tangannya langsung mengambil sebungkus es dari meja tukang es dan meminumnya habis.
“ Ehm.. Capek yah, Mas ?”, goda Tukang es itu melihat ulah Rian.
“Nggak usah basa-basi, bang. Nih duitnya”, ujar Rian. Aku pun langsung melajukan sepedaku lagi disusul Rian dari belakang.
Akhir-akhir ini, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama Rian. Sebenarnya sejak aku bekerja sekantor dengan Rian, aku sudah dekat dengannya. Apalagi, kami bertetangga. Tapi, kedekatan kami saat ini beda. Kami dulu jarang sekali ngobrol di rumah atau sekedar jalan-jalan. Tapi kini, setiap malam, Rian selalu tak lupa menghampiriku. Bahkan, hanya untuk sekedar mengucapkan selamat malam.
* * *
“Mah, aku pergi.. Assalamualaikum”, pamitku pada Ibu yang sibuk membersihkan hama dari bunga-bunga mawar di halaman. Aku langsung duduk di atas motor Honda Beatku seraya menunggu Mbak Desi. Aku melihat Mbak Desi keluar tanpa helm. Ia tersenyum-senyum penuh arti. Setelah pamitan pada Ibu, dia menghampiriku. Masih dengan senyam-senyum penuh arti.
“Mbak kenapa sih ?? Kesambet ?? Ayo buruan, entar telat nih “, selidikku seraya langsung menstarter motor.
“Dek, mulai hari ini. Kamu nggak usah lagi jadi ojek aku. Soalnya, aku udah punya ojek baru”, jelasnya malu-malu.
“Yang bener, Mbak ? Alhamdulillah”, ujarku sambil mengusapkan kedua telapak tanganku pada wajahku kemudian tertawa lepas. Dari jauh, Ibu juga tersenyum. Sebuah mobil berwarna biru berhenti di depan rumah. Dari balik kaca, seorang lelaki tampak tersenyum. Kemudian, lelaki berdasi itu keluar dan menghampiri kami.
“Selamat pagi, Dan, Des, Tante”, sapanya pada kami satu-persatu. Mbak Desi, memukul kepalaku ketika melihatku tersenyum kecil.
“Pagi, Kak Joe. Waduh, pakaiannya rapi amat. Kayak mau ngelamar aja”, candaku. Joe, lelaki itu tampak tertawa kecil.
“Ah, Dania, kamu ini. Emang paling bisa ledekin orang. Saudaranya Rian sih”, balasnya. Aku tertawa lebar mendengar lelucon Joe.
“Udah, nggak usah basa-basi. Buruan deh, ajak kakakku tercantik ini pergi. Nanti Ratu berubah pikran loh”, ujarku sambil melirik Ibu yang sejak tadi tertawa melihat ulahku. Sejak dulu, Joe memang menyukai Mbak Desi. Tapi, ia selalu tak berani mengungkapkannya. Tapi, kejadian pagi ini, membuatku sedikit berpikir. Bagaimana Kak Joe mengungkapkannya, ya ?
Bersambung ke part III
Comments