BERBUAH KISAH (Bagian III)
By : Rashy Riyetha
Suasana kantor sudah cukup ramai. Untung saja aku tidak telat jadi masih bisa menggoda Rian di ruangannya. Oops, menggoda ?”, batinku geli. Aku mengetuk pintu ruangan Rian pelan-pelan.
“Selamat pagi, Pak ?”, ujarku dengan suara agak parau dari balik pintu.
“Iya, masuk”, jawab Rian dengan suara sok tegasnya. Aku membuka pelan-pelan pintu ruangannya. Dia masih sibuk dengan tumpukan kertas di depannya sampai-sampai tak begitu peduli dengan siapa yang akan masuk di ruangannya.
“Ehm...”,
“Astaga, Dania !!”, ujarnya kaget melihatku sudah ada di dalam. “Aku kira siapa tadi”, jelasnya. Aku tertawa lepas melihat reaksinya.
“Hihihi.. Kakak sih, serius amat. Lagi ngerjain apa kak ?”, tanyaku sambil berdiri di dekatnya. Dia berbalik menatapku. Astaga, aku kenapa sih. Kenapa aku jadi berdebar-debar. Tidak.
“Eh, astaga aku lupa, aku harus meliput. Dah Kak”, pamitku . Aku berlari meninggalkan ruangan Rian. Aku rasa, aku sudah kembali seperti yang dulu. Ceria walaupun sering termenung. Tapi, aku tak yakin, apa aku bisa dengan cepat menggantikan Irwan dengan Rian ? Hah ? Tidak.. Tidak...”, pikirku. Memikirkan hal ini aku jadi kangen dengan Irwan. Langsung saja aku beranjak menuju TPU. Tanpa aku ketahui, seseorang tengah mengikutiku.
Aku membersihkan rumput-rumput yang mulai mengotori makam Irwan.
“Ir, sorry yah. Aku baru bisa datang sekarang. Aku sibuk. Oh ya, Ir. Aku mau nanya. Kalau misalnya aku nikah sama orang lain kamu nggak marah kan ? Aku lagi jatuh cinta Ir. Aku yakin kamu tahu orangnya. Dia berhasil ngejagain aku saat kamu nggak ada Ir. Dia baik banget Ir. Kamu nggak marah kan Ir. Aku tahu, kamu sayang banget sama aku. Aku juga. Tapi aku yakin, kamu nggak pengen aku terus sedih atas kepergian kamu. Kamu nggak suka kalau aku terus nangis. Iya kan, Ir? Jadi izinin aku buat buka hati aku kembali yah ?”, aku cerita panjang lebar pada Irwan. Walaupun hanya pada nisannya. Aku seolah dekat dengannya. Tanpa sadar aku menangis. Aku kembali teringat akan Irwan. Semua kebaikannya dan rasa sayangnya padaku. Apa aku tega menggantikan dirinya ?, pikirku lagi. Tanpa sadar, seseorang yang mengikutiku itu ada di belakangku sejak tadi. Dan ia terharu mendengar ceritaku.
“Ya Allah, sebegitu sayangkah Dania pada Irwan, sampai ia harus meminta zin pada nisan yang tak dapat bicara sekalipun. Biarkan aku bahagiakan dia, Ya Allah”, doa Rian dalam hati. Ia kemudian mengampiriku.
“Dan, udah sore. Nggak baik loh di kuburan sore-sore. Sendirian lagi. Pulang yuk”, ujar Rian. Aku kaget melihatnya, tapi sudah tak begitu penting karena sekarang aku sedang sedih memikirkan semua masalahku. Walaupun Irwan sudah tiada, ia masih tetap dihatiku. Dan tak mudah untuk menggantikan orang lain di tempatnya. Tapi tak dapat kupungkiri, kalau hati ini terus memanggil nama Rian. Sekarang, aku jadi dilema.
Malam ini, Rian mengajak ku pergi. Ini untuk pertama kalinya kami makan malam. Sebelumnya, aku selalu menolak dengan berbagai alasan. Tapi malam ini, beda. Rian mengungkapkan semua perasaannya padaku. Ia juga tak memaksaku untuk segera menjawab. Karena ia tahu hatiku selalu terikat pada Irwan.
“Aku nggak minta kamu jawab sekarang. Aku tahu sulit bagimu menganti dirinya. Tapi, please. Jangan terlarut sedih terlalu lama”, kata-kata Rian masih terngiang di benakku. Kata-katanya justru membuatku menangis haru. Tapi, aku sudah memutukan untuk membuka hati ini. Apalagi aku pikir, aku menyukainya.
“Oke, Ir. Aku siap untuk bahagia. Kamu juga kan ?”, ujarku semangat pada foto Irwan. Aku melihatnya tersenyum dalam foto itu seolah setuju padaku. Maka mulailah hari-hari baruku dengan Rian. Ibu dan Mbak Desi juga sudah tahu. Mereka turut bahagia. Begitupun dr.Amir. Namun, pikiranku bahwa masalah besar ku telah berakhir itu salah. Masalah sesungguhnya telah datang saat ku jatuh cinta pada Rian.
* * *
Ju’mat sore yang cukup berawan, aku menghabiskan waktuku di dalam kamar. Tumpukan album-album foto memenuhi kamarku sore ini. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke-24. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, aku selalu memasukkan foto-fotoku selama setahun sehari sebelum hari bahagia itu. Aku memang hobi berfoto, bukan narsis, aku hanya memotret siapa saja yang sedang tak sadar bahwa ia menjadi bidikan kameraku.
Aku tertawa geli melihat foto Rian yang sedang berusaha melepaskan daging ayam bakar dari tulangnya. Wajahnya begitu serius mengkulitinya. Apalagi ayam itu bandel, tak bisa di makan. Ada juga foto Mbak Desi dan Kak Joe yang lagi malu-malu kucing saat pesta ulang tahun Mbak Desi 4 bulan lalu. Hhh, lucu juga yah ekspresi orang-orang yang nggak sadar kalau mereka di foto, batinku seraya tertawa geli. Usai aku benahi foto dan alat-alat ku, aku melihat-lihat kembali foto-foto itu.
Kali ini aku membuka foto-foto saat tahun baru 2008. Kala itu masih ada Irwan. Kami merayakannya dengan doa bersama di rumah dr.Amir. Setelah itu, kami langsung menyalakan kembang api sebagai tanda menyambut datangnnya tahun baru. Rian yang menyalakan semua kembang api itu. Irwan sama sekali tak berani menyentuh kembang api karena ia memiliki cerita kelam tentang itu. Tangannya pernah terbakar waktu kecil. Dan, aku kini mengamati sebuah foto. Kami berfoto bersama. Ada Ibu, Mbak Desi, dr.Amir, Irwan, Aku, Rian dan... “Zasky?”, batinku kaget. Astaga, kenapa aku nggak pernah kepikiran tentang Zasky ? Aku juga nggak tahu gimana sebenarnya hubungan Rian dan Zasky. Tunggu.. tunggu, kalau nggak salah dulu Rian pernah bilang kalau Zasky itu pacarnya. Tapi, kapan mereka putus yah ? Apa waktu aku koma. Ah, nggak.. nggak.. Atau, jangan-jangan mereka belum putus. Tapi, nggak mungkin juga. Aku sudah hampir 4 bulan menjalin hubungan dengan Rian. Dan aku yakin, Rian udah putus dengan Zasky. Tapi jujur, ku nggak tahu kenapa”, pikirku. Entah kenapa aku jadi teringat akan Zasky, pacar Rian dulu. Wanita yang di kenal Rian saat ia kuliah dulu.
Hujan yang telah kuprediksikan datangnya mengucur deras dari langit. Layaknya rejeki yang dibagi-bagikan Allah kepada hamba-Nya. Aku bergegas meninggalkan kamar menuju dapur. Disana Ibu sibuk mengangkat pakaian. Aku pun membantunya dan membawanya k ruang tengah.
“Mbak Desi kemana Bu ?”, tanyaku yang sejak tadi tak melihat Mbak Desi.
“Ya, biasalah anak muda. Pacaran “, ujar Ibu sambil tertawa kecil. Aku mengangguk geli melihat ekspresi Ibu. Ibu memang selalu ceria. Sejak dulu, tak pernah aku melihatnya sedih. Bahkan saat Ayah pergi meninggalkan kami. Ia masih bisa tersenyum.
Hujan sudah reda ketika waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Tapi aku masih belum terpejam. Batinku sedikit galau. Tapi kenapa aku galau? Mungkin karena aku tak tahu jelas keadaan mereka dulu. Aku jadi sedikit takut. Takut untuk kehilangan lagi. Seiring otakku memikirkan Zasky dan Rian, mataku lelah juga terus terjaga. Perlahan aku mulai masuk ke alam mimpi.
* * *
Sudah seminggu aku tak bertemu Rian. Ia harus meliput acara Kepedulian Lingkungan di Bali. Rabu ini, ia kembali. Aku menjemputnya di Bandara, tapi ia sudah pergi sebelum aku tiba. Katanya ia pulang bersama Bosnya dan belum sempat memberitahuku. Akupun kembali ke kantor. Disana tak kudapati Rian, padahal Edrik dan Joana, teman yang pergi bersamanya ke Bali, sudah kembali. Aku ingin bertanya pada mereka, tapi kurungkan niatku karena ku pikir aku bisa menghubunginya sendiri. Di bilik kerjaku, aku sibuk mengotak-atik kata-kata untuk berita yang akan di terbitkan besok. Sampai-sampai aku lupa untuk menghubungi Rian. Sudah jam makan siang, ia juga belum datang. Bahkan smsku sejak pagi pun tak di balas.
Kuputuskan untuk makan siang sendiri. Kupilih sebuah resto yang agak jauh dari kantor, karena aku juga hendak membeli buku di toko buku. Maka ku pastikan aku pergi ke Mall di pusat kota. Setelah puas melihat-lihat buku, aku segera membayarnya dan bergegas memenuhi tuntutan perut. Setelah memesan makanan, aku memilih tempat yang agak di pojok. Kebetulan tempat itu dekat jendela jadi aku bisa melihat suasana siang di luar.
Di hadapanku tepat tempat parkir. Aku memperhatikan seorang wanita hamil yang sedang menunggu seseorang. Wajahnya tampak gelisah. Mungkin ia buru-buru, atau mungkin suaminya tak kunjung datang, atau mungkin aku nggak tahu. Wanita itu tinggi dengan kulit putih bersih dan berambut panjang. Dari jauh aku seperti mengenalnya. Iya, dia tampak seperti wanita yang menjadi kegalauan hatiku semalam. Zasky. Benar, ia Zasky. Aku terperanjat mengingat pikiran-pikiran bodohku semalam. Tapi kini, aku sedikit lega karena rupanya ia telah menikah. Terbukti kini ia sedang mengandung. Aku berpikir ingin melihat suaminya. Namun, seorang waitters datang dan memaksaku mengalihkan pandanganku. Sepiring nasi dan ayam goreng menggodaku untuk segera melahapnya. Lumayan untuk mengganjal perutku yang sejak tadi berdendang.
Begitu selesai makan, aku tak langsung kembali ke kantor. Kuputuskan untuk segera pulang. Mungkin Rian sudah di rumah. Benar saja, begitu ku parkirkan Honda beatku, hidung Rian sudah nampak di hadapanku. Tapi, aku melihatnya tampak gusar.
“Hei !! Udah lama kakak disini ? Kok nggak masuk ? Nggak ada Ibu ?”, selidikku sambil meletakkan helm di meja. Aku mendekatinya. Kuperhatikan wajahnya yang penuh tanda tanya kini. Bukan Rian yang ku kenal.
“Ada kok. Lagi pengen di luar aja. Sorry, tadi nggak dibalas, aku lagi istirahat. Capek !!!”, jelasnya tanpa melihatku sedikitpun. Aku berniat menanyakan apa yang ku lihat di Resto tadi, tapi kuurungkan karena ku lihat Ibu mendekati kami dengan dua gelas teh hangat.
“Duh, Nak Rian udah lama di sini, Ibu baru ngasih minum. Ora opo-opo tok ?”, celoteh Ibu. Aku langsung mengambil teh hangat itu dan menghirupnya. Dengan agak kikuk Rian mengambil teh itu dan menghirupnya. Begitu Ibu pergi, segera kutodong Rian dengan segelumit pertanyaan.
“Kakak kenapa sih ? Nggak kayak biasanya !!”, ujarku jengkel sebab sejak tadi ia hanya diam. Rian menatapku. Lama. Di matanya aku bisa melihat sesuatu yang mengganjal hatinya itu.
“Aku mau ngomong sama kamu, Dan. Tapi, please. Jangan nangis !”, ujar Rian pelan. Aku menelan ludah mendengar ucapannya barusan. Rian tidak pernah seserius ini sebelumnnya. Aku menggangguk tak percaya. Tapi Rian belum mau berkata. Matanya terus mentapku. Dan ku lihat ia menagis. Aku kaget. Ada apa ini ? Bukannya seharusnya aku yang menangis ?
Bersambung ke part IV-End
Comments