BERBUAH KISAH (Bagian IV-End)
By : Rashy Riyetha
“Kak”, ucapku memelas. Memintanya bicara.
“Dania. Adikku. Sayang. Kamu tahu aku sangat sayang sama kamu. Dan aku juga tahu kamu sayang banget sama aku. Tapi, aku nggak pernah membayangkan hal ini terjadi saat kau dan aku hampir bersatu, Dan. Aku bingung, Dan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan...”, ujar Rian mencurahkan isi hatinya. Aku mendengar tanpa bergeming sedikitpun. Sesuatu seperti menusuk hatiku dan membisikkan sesuatu yang sungguh telah mengusikku sejak malam-malam yang lalu. Aku menanti lanjutan cerita Rian.
“Dan. Kamu masih ingat Zasky ?”, aku terperanjat mendengar pertanyaan Rian. Zasky ? Wanita yang kupikirkan selama ini ? Wanita yang tadi kulihat di Mall?”, batinku keget. Aku mengangguk pelan dan berharap agar yang akan Rian ucapkan jauh dari apa yang sedang kupikirkan. Rian menatapku lagi seperti tak tega melanjutkan ceritanya.
“Dia datang, Dan. Dia kembali di saat yang nggak tepat. Dan aku nggak tahu harus berbuat apa. Karena kini dia...”, aku tambah terperanjat. Mataku melotot menanti lanjutan kata-kata Rian. Ingin kugerakkan tanganku tuk menutupi telingaku. Tapi aku tak sanggup.
“Dia kenapa, Kak ?’. tanyaku penuh rasa penasaran. Rian diam. Dan aku terus mendesak padahal aku sudah bisa menerka jawabannya.
“Dia mengandung anakku, Dan”,
“Aaapaaa ???”, pekikku seraya memastikan pendengaranku. Seharusnya aku tak perlu terkejut karena aku sudah tahu keadaannya. Namun, ucapan Rian barusan sungguh membuatku terkejut. Sungguh di luar dugaanku. Aku benar-benar tidak menyangka Rian tega melakukan hal ini padaku.
“Tapi ini nggak seperti yang kamu bayangin, Dan. Aku nggak ngerti dengan jalan pikirannya. Dulu, dia yang menginkan pergi dari hidupku padahal aku mau bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi. Sekarang, saat aku bisa melupakannya, dia malah kembali dan memaksaku masuk kembali ke dalam hidupnya. Aku nggak tahu Dan apa yang harus aku lakuin. Apalagi, Papa udah tahu tentang hal ini”, ujar Rian seraya memegang kedua tangaanku dan berusaha membuatku tegar. “Aku ngungkapin semua ini bukan untuk buat kamu sedih, Dan. Aku sayang sama kamu. Aku mohon, Dan, Bantu aku keluar dari masalah ini”, lanjutnya dengan suara parau.Ia menangis. Begitupun aku. Air mataku sejak tadi i sudah tumpah ruah.
“Kamu tega, Kak. Kenapa nggak bilang dari dulu tentang Zsaky. Sekarang gimana ? Aku juga nggak tahu, Kak. Aku benci kakak !!”, ujarku seraya masuk ke dalam. Aku sempat melihat Ibu memeperhatikan kami dari ruang tamu.Aku langsung masuk ke dalam kamar mengunci pintu dan menangis sesukaku. Aku tahu kini jawaban atas pertanyanya tentang Zasky. Tuhan kini telah menjawabnya. Walau perih. Tapi inilah jawabannya.
Aku beranjak menuju jendela kamar. Aku melihat Rian masih terpekur sedih di sana. Ia menangis. Aku seperti bisa merasakan kesedihan dan kebingungannya. Kini aku menatap langit. Bintang-bintang tak cukup banyak malam ini. Aku memanggil nama Irwan. Aku ingin ia ada disini dan membantuku keluar dari masalah ini.
“Ir, aku bingung. Aku bingung !! Saat dulu aku yakin Allah menciptakan kau untukku, kita malah dipisahkkan. Dan sekarang, apa aku harus dipisahkan lagi dengan Rian. Aku sayang dia, Ir. Dia bisa bahagiakan aku saat kamu nggak ada. Dia selalu ada untuk aku. Tapi kenapa, masalah ini datang disaat aku yakin akan Rian”, curhatku sedih. Hatiku seperti hancur lebur. Walaupun Rian berkata ia menyayangiku. Aku tetap tak bisa tenang. Karena wanita itu, sedang mengandung. Dan aku merasa kalau aku tak mungkin terus mempertahankan Rian. Aku tak bisa terus bersamanya seperti harapanku selama ini. Aku bodoh!! Kenapa aku nggak penah nanya tentang Zasky ?, batinku menyesal.
Semalaman, aku tak bisa tidur. Ibu terus memeriksa keadaaku di kamar. Tapi kukatakan aku baik-baik saja. Aku masih bisa tersenyum. Tak ada masalah tanpa jalan keluar. Aku yakin itu.
* * *
Sepagi ini, aku belum bangun. Rian sudah berkali-kali mengedor pintu kamarku, tapi aku belum mau bangun. Baru pukul delapan aku berani keluar kamar. Rian masih duduk di depan kamarku. Aku beranjak menuju kamar mandi tanpa meperhatikannya. Sampai aku selesai mandi, ia masih berada di rumah. Aku mencoba tersenyum saat ia menatapku. Sulit memang memaksa hati ini untuk tersenyum.
“Kakak belum pergi, entar telat loh”, ujarku sambil mengunyah nasi goreng buatan Mbak Desi.
“Aku pengen pergi sama kamu. Boleh kan ?’, jawabnya sambil memintaku menyuapinya nasi. Aku tersenyum melihat ulahnnya. Masih sama tapi entah kenapa dia tampak jauh dari hatiku.
Di kantor, Rian selalu berada di dekatku. Sebenarnya kami medapat tugas di tempat yang berbeda, tapi Rian nekat mengikutiku meliput. “Aku ingin menjagamu”, bisiknya.
“Untuk yang terakhir kali ?”, tanyaku asal. Ia langsung menarikku ke arah taman. Ia menatapku. Namun, menatapnya justru membuatku sakit. Dia seperti sebuah harapan palsu yang tak pernah akan jadi nyata.
“Aku janji, aku nggak akan ninggalin kamu”, ujarnya serius.
“Nggak usah bicarain sesuatu yang nggak mungkin, Kak. Bukan kamu yang akan menemaniku sampai akhir. Kita jalanin aja kak. Kita lihat sampai kapan aku bisa bertahan, kamu bisa bertahan, dan dia bisa menahan. Jangan lupa, kak. Kata-katamu bisa membuat orang terluka. Jangan lupa untuk bertanggung jawab dan bila perlu lupakan rasa cintamu. Itu akan lebih baik untuk orang lain”, ujarku lirih.
Seharian aku berusaha menghindar darinya. Aku tahu cepat atau lambat aku dan dia akan berpisah. Ini hanya masalah waktu. Dan semakin lama aku bersamanya, semakin sulit aku tuk melupakannya. Biarkan Tuhan yang bertindak atas semua rencanaku. Sebaik-baiknya rencana kami, rencana Tuhanlah yang lebih baik.
Minggu pagi yang suram. Aku melihat dr.Amir sedang berbicara dengan Ibu di depan. Di halaman rumah dokter, sebuah mobil kijang terparkir rapi. Suasana rumah Rianpun cukup ramai. Aku melihat seorang wanita yang sedang ngobrol dengan Rian. Wanita itu berbadan gempal dan tinggi. Kulitnya putih dan rambutnya sebahu. Dan dengan perut membuncit. Ia adalah Zasky. Ia adalah wanita yang kulihat di Mall dulu. Tapi aku tak tahu ia menunggu siapa dulu. Tak penting lagi bagiku. Wajahnnya kini sedikit berubah, padahal baru setahun aku tak melihatnnya. Aku tak ingin memperhatikannya lagi, karena sejak tadi Rian selalu melirik ke jendela kamarku.
Aku seperti bisa menebak apa yang terjadi. Aku langsung melihat jadwalku hari ini. Tak banyak memang, tapi cukuplah untuk pergi mengasingkan diri. Aku melewati Mbak Desi yang sedang menonton tivi di ruang tengah ketika ku hendak pergi. Dia melirikku. Aku mendekatinya dan bersiap pamit.
“Jangan lari dari kenyataan, Dek. Kamu sudah cukup kuat kemarin, jangan sampai rapuh lagi”, nasehat Mbak Desi seraya memelukku haru. Aku menggangguk mengerti. Kuurungkan niatku untuk pergi. Tapi tak juga aku berani keluar.
Aku melihat dr.Amir masuk ke ruang tengah. Ia mengambil tempat di sampingku. Ia memang memiliki jiwa seorang Bapak. “Dan, kamu pasti sudah tahukan. Allah menciptakan kita berpasang-pasangan, dan Dia yang menentukan siapa pasangan kita. Kita hanya bisa menerima semua itu dengan ikhlas. Papa tahu, kamu sudah kuat sejak dulu. Kita nggak mungkin bisa menolak takdir, tapi mungkin kita bisa sedikit merubahnnya dengan menjadi yang terbaik di mata Yang Maha Kuasa. Sabar, ya, Nak”, nasehat dr.Amir. Ibu langsung memelukku, mencoba menenangkanku.
“Iya, Pah. Insya Allah Dania kuat. Doain yah”, jawabku haru. Aku menyeka air mataku. Perlahan aku tersenyum menguatkan hati ini.
Sudah sebulan sejak Rian memeberitahuku semua ini. Keluargannya pun memutuskan untuk menikahkan mereka setelah bayi Zasky lahir. Bayi mungil itu lahir tepat di hari Sabtu 19 Desember. Bayi laki-laki itu manis dan imut. Bayi tak berdosa korban kebodohan orang tua itu menangis kecil. Aku memperhatikannya dari balik kaca. Ia menangis dan aku pun menangis. Di sampingku, Rian memegang bahuku mencoba menenangkanku.
“Dia lucu sekali, ya, Kak ?”, ujarku basa-basi. Rian kemudian memegang tanganku seraya berkata “Aku sudah janji kalau aku akan buatmu bahagia, walaupun keadaan ini sulit. Jadi jangan menangis lagi. Bukankah kamu yang bilang bahwa ini yang terbaik untuk kita semua. Bukankan cinta itu tak harus memilki ? Berikanlah kebahagiaan pada orang lain meskipun harus merelakan cintamu. Aku harap kau dan aku ikhlas. Ini bukan cerita di film-film, ini takdir Tuhan. Tapi aku mohon, jangan siksa dirimu dengan menjauh dariku. Tetaplah di dekatku, Dan. Agar kau dan aku bahagia”, ujar Rian dengan penuh harap.
Untuk terakhir kalinya, aku memeluknya. Aku menangis di pundaknya. Ibu melihaku dari jauh, ia juga menangis. Menangisi nasib putri kecilnya yang penuh liku dan tangisan. Dan aku yakin, di atas sana, Irwan bersedih untukku. Mereka berdua pasti berharap aku akan menemukan pasanganku dari Tuhan, seperti harapku selama ini.
Aku beranjak meninggalkan rumah sakit. Air mataku sudah tak terlihat lagi, senyumlah yang kini menghiasi wajahku. Pertanda aku siap lalui hariku tanpa siapapun di dekatku. Tanpa Irwan dan Rian. Semua yang terjadi di dunia sudah ditentukan oleh Allah swt. Dan semua kejadian yang kita lewati pasti membuahkan kisah senang, sedih, haru maupun bahagia di akhir cerita.
~THE END~
Comments