TWINSTER (bagian I)
By : Rashy Riyetha
Siap bilang gendut itu buruk?? Tidak ada yang pernah membuktikan bahwa memiliki tubuh gendut itu tidak menyenangkan. Setidaknya, tidak pernah ada yang membuktikan itu padaku. Aku hanya selalu mendengar dari cerita-cerita yang sering aku baca di buku-buku fiksi. Penulisnya benar-benar bodoh dengan mengatakan bahwa bertubuh gendut itu suatu kenyataan yang buruk dan biasanya mereka menulis kisah sang gendut dengan hal-hal sial yang menyakitkan. Dan aku pikir aku terobsesi dengan hal-hal semacam ini dari yang aku baca. Tapi jujur, aku tidak pernah mengalaminya.
“Bagus, Grite! Itu tadi cerita yang bagus! Kita tidak akan kehilangan pendengar karenamu. Kau… Pengarang yang Hebat!”. Grite tersenyum lebar setelah dipuji oleh bosnya untuk yang kesekian kalinya. Sejak ia bergabung dalam 90,1 Fm Harajuya’s Radio, ia hampir tiap hari mendapatkan pujian dari rekan-rekannya atas kepiawayannya membawakan program-program unggulan Harajuya.
“Thanks, Joy! Kepalaku terus membesar karena pujianmu!”, gurau Grite. “Aku harus kembali ke kampus. Sampai jumpa!!!”.
Joy tidak pernah berharap akan bertemu seseorang yang mampu menaikkan rating program-progran di radionya. Ia sudah memiliki orang-orang hebat yang akan membantu untuk melanjutkan usaha kakeknya. Tapi takdir untuk bertemu Grite pun tak pernah ia hindari. Hingga akhirnya ia mempercayai program terhebat yang hanya ada di 90,1 Fm untuk Grite.
“Joy! Ada seorang penggemar yang ingin bicara denganmu”, ujar Natalie seraya menggangkat gagang telepon dan memberikannya kepada Joy.
“Ohhh… Halo, 90,1 Fm. Ada yang bisa saya bantu?”.
“Aku mendengarkan program kalian di pukul 2 siang!”. Terdengar suara seorang wanita yang berbicara dengan sedikit lembut.
“Ya! Terima kasih. Itu adalah acara terbaik yang kami miliki”.
“Apa itu benar???”. Joy menutup telepon dengan mulut menganga. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Belum pernah seorang penggemar meneleponnya dan mengatakan hal ini padanya. Seperti di sengat petir di siang hari yang panas. Begitulah sikap Joy saat itu.
@@@
Inggrite Puspianita, mahasiswa jurusan komunikasi yang gemar membuat cerita pendek dan bahkan cerita-cerita bersambung sejak ia menginjak usia 10 tahun. Ia terlalu banyak memghayal untuk dapat melakukan hal-hal yang tak bisa ia lakukan sebagai manusia biasa. Sehingga keputusannya untuk menuangkan ide-ide gilanya membawanya menjadi seorang penulis amatir. Semua tahu akan karya-karyanya dalam bidang sastra, tapi hanya sedikit yang mengakuinya. Oleh karena itu, Grite merasa ia belum pantas dikatakan penulis. Ia lebih senang disebut orang yang menyukai penulis.
“Aku mendengarkan “Ruwina the Big People” tadi. Dan aku penasaran dengan endingnya. Apa bisa aku mendapatkan bocorannya?”. Siang ini, Grite sedang makan siang bersama Jerry, temannya di bawah pohon rindang yang berdiri koko di sekitar taman kampus.
“Aku masih berpikir kenapa orang-orang mau mendengarkan acara itu, Jerry! Dunia perfilman kita sudah bangkit. Film-film Hollywood semakin melebarkan sayapnya. Apa bagusnya jika dibandingkan dengan acaraku itu?”, Grite mengambil sebotol air putih dari dalam tasnya dan meminum airnya dengan cepat.
“Kau lebih terdengar menyombongkan diri daripada yang kau pikirkan?”. Grite menatap Jerry dengan tajam. Memaksanya untuk mengoreksi kata-kata yang baru saja diucapkannya.
“Okeh. Mungkin kau benar! Jadi, apa kelanjutan ceritamu?”. Grite mengeluarkan sebuah buku kecil dari dalam ranselnya. Buku tulis itu selalu dibawanya kemanapun untuk mencatat ide-ide gila yang timbul dalam otaknya. Grite memiliki kesulitan menghafal, ia sedikit lemah dalam hal itu sehingga tidak heran jika nilainya selalu saja pas-pasan. Namun, dengan catatan yang ia tulis di dalam buku itu, ia dapat sedikit mendongrak nilainya agar lulus di Universitas.
“Aku belum memikirkannya, Jerry. Sekarang aku akan mulai menggambarkan alur cerita yang menarik. Kau mau membantuku?”.
@@@
Tidak ada yang pernah mengetahui bahwa mencintai seseorang yang ada dalam hati serta pikiran kita itu adalah sesuatu yang benar. Hanya segelintir orang yang meyakininya. Keluar dari semua itu, banyak orang yang menyepelekan hati untuk mencintai lebih dahulu. Rasa gengsi itulah yang menjadi sebab banyak cinta yang harus dipendam oleh hati. Padahal, hati sudah cukup memiliki banyak tugas. Mengontrol racun yang masuk bersama makanan.
Grite menghentikan suaranya ketika ia melihat tanda yang diberikan Joy padanya. Beberapa saat kemudian, ia sudah keluar dari ruang rekaman.
“Maafkan aku mengganggu kerjaanmu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu”. Grite mengikuti Joy masuk ke dalam ruangan kerja Joy. Ruangan yang amat menarik ini disebut Joy sebagai laboratoriumnya. Joy tidak pernah menjadi sarjana meskipun ia pernah tercatat sebagai mahasiswa di jurusan teknik kimia. Ia memilih meneruskan usaha ayahnya karena ia merasa pandai di bidang ini. Namun, karena ia mencintai kimia, ia men-design ruang kerjanya menjadi seperti ini.
“Seorang wanita mencariku karena ceritaku yang bejudul “Rowina the Big People??”, Tanya Grite seolah tak percaya dengan pendengarannya. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti seorang terkenal yang dicari-cari oleh penggemarnya.
“Ya! Ia akan datang hari ini. Aku mohon kau perlakukan dia sebaik mungkin”.
“Sebaik mungkin? Memangnya ada apa?”. Perkataan Joy seolah menyembunyikan sebuah kenyataan tentang wanita yang mengaku penggemar Grite. Joy memberikan semangat pada Grite dengan menepuk perlahan pundak Grite sambil tersenyum simpul. Namun, wajahnya jelas menunjukkan sebuah kekhawatiran. Sebagai seorang produser, Joy pernah berhubungan dengan para penggemar artisnya. Dan itu sudah sangat lama ketika ia baru saja meninggalkan bangku kuliah. Namun, pengalaman itu sudah berlalu. Ia tidak pernah tahu lagi bagaimana mengumbar cerita-cerita pada fans agar mereka semakin mencintai idolanya.
“Siapa nama wanita itu, Daniela?”, Tanya Grite di sela-sela acaranya. Seperti kata Joy, mungkin wanita itu akan menelepon atau mungkin ia akan datang langsung kemari.
“Ali! Semoga sukses kawan!”, jawab Daniella melalui mikrofon dari luar. Beberapa saat kemudian, Grite membuka acara terbesarnya.
“Aku mengucapkan banyak terima kasih untuk para penggemar HaraJuya’s Radio yang selalu mendengarkan acara kami. Ini untuk kalian”. Setelah mengucapkan kata-kata itu, terdengar lagu yang dibawakan oleh Sheila On 7 bertajuk Radio.
“Oke, guys! Sebenarnya, hari ini aku akan membacakan kelanjutan cerita dari Fiksi “My Favorite”. Namun, ada beberapa penggemar yang menyarankan untuk membuka session on air. Maka aku pikir itu ide yang bagus”. Terdengar music pengiring sekilas. “Kalian dapat menghubungi kami di nomor telepon 021-56565656. I’ll wait you, guys!”. Grite melihat kearah Daniella yang sedang memberikan kode bahwa ada seorang penelepon. Grite membaca namanya dari layar computer. Jerry!
“Hallo, Jerry! Apa kabar? Aku tahu kau pendengar setiaku”, guyon Grite sambil tersenyum malu.
“Aku selalu mendengarkan ceritamu. Menarik. Kenapa kau tak menulisnya dalam novel, Mbak Grite?”.
“Aku akan kehilangan pendengar jika mereka semua membaca novelku. Hahaha….”. Jerry ikut tertawa mendengar jawaban Grite.
“Okeh, Jerry! Terima kasih untuk teleponnya. Sampai jumpa lagi!”. Daniela menutup telepon Jerry dan member tanda pada Grite untuk penelepon berikutnya.
“Aku Mishel, aku ingin mendengarkan kelanjutan ceritanya, tapi kenapa harus ada program ini. But, it’s oke-lah. Aku jadi ingin mengatakan bahwa aku senang menjadi penggemarmu, Mbak Grite”.
“Ohhh… thank you, Mishel. Stay tune with 90,1 Fm ya?!”.
Grite menyunggingkan senyum kebahagiaan ketika ia baru saja berbincang-bincang dengan para penggemarnya. Tidak pernah ia membayangkan hal ini sebelumnya. Ia memilki banyak fans di luar sana. Sejak kecil, impiannya adalah menjadi seorang yang terkenal. Dan ia telah menguburnya dalam-dalam ketika ia tahu ia tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang penulis. Bakat yang selama ini terpendam dalam hidupnya.
Joy masuk dengan cepat ke dalam studio dan menunjukkan wajah paniknya. Ia seperti baru saja melihat hantu. Begitu masuk, ia langsung mencari Grite.
“Apaa?”, Tanya Grite terkejut.
“Kau harus bertemu dengannya. Jelaskan padanya bahwa itu hanya fiksi!”. Grite menganga mendengarnya. Seorang penggemar datang dan meminta klarifikasi atas apa yang ia ucapkan seminggu yang lalu. Dan perkataannya itu membuat sang penggemar menjadi tidak tenang. Namun, berita buruk yang dibawa oleh Joy bukan hanya itu. Melainkan…..
Bersambung! Nantikan part II (end) nya yaa….
Comments