TWINSTER (bagian II -End)



By :  Rashy Riyetha

            Sudah hampir setengah jam Grite berdiri di depan cermin kamar mandinya. Ia memang menatap lurus kepada pantulan dirinya di dalam cermin. Sehingga seolah ia sedang memperhatikan pantulannya. Namun, ia sebenarnya sedang berpikir. Ia tidak pernah berpikir akan melihat seseorang yang benar-benar mirip dengannya. Entah itu datang darimana. Yang ia tahu bahwa ia tidak pernah di lahirkan dengan saudara kembar. Jadi bagaimana orang itu hadir dengan wajah yang begitu mirip.
            Itu adalah masalah pertama yang datang padanya hari ini. Masalah kedua adalah lebih berat lagi. Baru saja Grite merasa bahagia dengan banyaknya penggemar yang menyampaikan rasa cintanya pada Grite dan karya-karyanya tentu. Tiba-tiba ada seorang penggemar yang menyalahkan sebuah karya Grite. Ia menangkap bahwa Grite hanyalah pembual yang mencoba memepengaruhi orang lain. Ia telah berusaha mengubah pikiran orang lain dengan semua bualannya. Padahal lepas dari itu semua, karya-karya Grite selama ini hanyalah fiksi belaka dan seharusnya semua pendengar mengerti akan itu.
            “Gritee! Grite!!!”. Suara Jerry terdengar dari luar apartment Grite. Grite tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya untuk menemui Jerry. Perasaannya sungguh benar-benar tersiksa. Perkataan yang dilontarkan penggemarnya itu begitu menusuk hati dan pikirannya. Grite bahkan tak sanggup menahan luapan air matanya di depan semua rekan-rekannya. Tidak ada yang pernah mengatakan bahkan menghina karyanya sekaligus pribadinya seperti yang dilakukan wanita itu. Ini sungguh menyakitkan untuk Grite.
            “Tenanglah dulu. Aku disini untukmu, Grite”. Jerry mengajak Grite untuk keluar dari kamar mandi. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Grite sampai sekritis ini. Sebab yang ia dengar dari teman-temannya tidaklah seperti respon Grite saat ini.
            “Aku tidak pernah mengatakan kebohongan, Jerry. Aku hanya ingin menghibur mereka. Kenapa ia menyalahkan ceritaku, Jerry!”, ujar Grite sambil sesenggukan.
            “Ia tidak paham bahwa itu hanya Fiksi, Grite!”. Jerry mencoba meniru kata-kata Joy padanya tadi. Permasalahannya hanya terletak pada wanita yang bernama  Ali itu mengerti bahwa cerita yang dibacakan Grite tiap sabtu adalh sebuah cerita Fiksi layaknya cerpen, novel, dan lain-lain. Keadaan semakin berkembang ketika yang dikatakan oleh Ali mulai mengarah kepada kehidupan Grite setelah ia menyadari kemiripan keduanya. Namun, bagaimana mereka bisa mirip???

            “Kau anak pertama Mama, Grite. Genie adikmu adalah anak bungsu. Apa yang kau bicarakan tentang saudara kembar?”. Grite dan Jerry saling bertatapan ketika mereka mendapat penjelasan dari, Risaen, Ibu Grite. Semua bisa di jelaskan dengan ilmu kesehatan ketika seseorang memiliki anak yang kembar. Namun, hal ini diluar logika jika Grite memiliki seorang saudara kembar yang tidak lahir dari rahim ibunya, kecuali ibunya berbohong.
            “Dia mengatakan bahwa aku memanfaatkan bentuk tubuhku yang langsing untuk menghina orang-orang sepertinya. Aku tidak tahu dimana letak kesalahan kata-kataku pada saat itu”. Jerry mengeluarkan sebuah album foto dari dalam lemari ibu yang diam-diam tengah kami geledah. Setiap misteri selalu memiliki titik terang, kata Jerry.
            “Coba lihat ini. Apa dia ibumu??”. Jerry menunjukan foto seorang wanita yang tengah mengendong seorang bayi.
            “Ya! Dan itu aku”, ujar Grite sambil menunjuk bayi yang sedang di gendong. Dari semua foto-foto yang mereka geledah, tidak ada satupun petunjuk tentang siapa Ali. Bagaimana ia bisa datang dan mengatakan bahwa mereka mungkin kembar??
           
@@@
            “Grite. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin. Aku sudah berbicara dengan Ali. Dan ku harap ia mengerti”. Grite menatap Joy dengan bingung.
            “Apa yang kau katakan, Joy?”. Joy mengantar Grite ke dalam studio. Ia telah menaruh sebuah poster untuk program barunya. Di situ terlihat gambar Daniela dengan banyak anak kecil.
            “Aku akan membuat sebuah program kemanusiaan yang dipimpin Daniela. Dan ini…”, jelas Joy sambil menunjukkan sebuah artikel dari internet.
            “Penghinaan yang diberikan seorang penyiar radio?? Omong kosong apa ini?”. Grite tidak bisa menahan rasa marahnya atas kedatangan Ali. Ia datang dengan membawa setitik nila dan mengancurkan segalanya. 
            “Aku minta maaf, Grite. Mungkin benar kata Jerry, kau seharusnya membukukan semua ceritamu. Itu akan lebih menyenangkan”. Seolah mendapatkan petir di siang hari yang terik. Grite berlari meninggalkan studio. Grite baru saja merasakan kebahagiaan karena cinta dari penggemarnya. Namun, secepat kilat, ia harus rela meninggalkan semuanya.
            “Dimana Grite?”, Tanya Jerry ketika Natalie menunjukkan poster progra      m baru Joy.

            Aku selalu mendapati diriku dalam sebuah kesempatan yang mengagumkan. Dengan berusaha sebaik mungkin, aku akan mengubah kesempatan itu menjadi keberhasilanku. Tapi tidak pernah aku merasa bahagia dengan apa yang aku capai. Sangat banyak orang sepertiku di dunia ini dengan tekad yang sama, pikiran yang sama, dan aku harus menyingkirkan mereka semua dengan tanganku sendiri. Dan aku tidak pernah berhasil. Aku akan mendapati diriku dalam lubang kegagalan. Namun tidak untuk ini, aku berhasil menancapkan tongkat keberhasilanku di atas gunung yang tinggi sehingga tidak ada lagi yang mampu menaiki puncak ketenaranku, setidaknya dalam sebuah bidang.
            “Aku akan mencari Ali, dan memintanya bertanggung jawab atas kelakuannya”, ujar Jerry pada Grite. Grite tidak menjawab. “Dia harus bertanggung jawab, kan?”, lanjut Jerry lagi. Grite melihat kea rah Jerry yang sedang mencari tahu dimana alamat Ali.
            “Aku bukan artis yang terkenal, Jerry. Aku hanyalah mahasiswa yang mencoba mencari pekerjaan untuk membantu orang tua. Aku melakukan itu karena disitulah bakatku. Jadi, jika suatu saat aku harus kehilangan pekerjaan itu, aku akan mencari pekerjaan lain untuk membantu Ibu”. Grite mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan pada Jerry.
            “Siapa Ali sebenarnya?”, Tanya Jerry semakin tidak mengerti.
            “Dia adalah anak dari pamanku di Chicago. Dia datang seperti dengan tujuan menghancurkan karirku di radio, tapi tidak seperti itu. Dia hanya emosi saat itu, Jerry”, ujar Grite. Ia menatap Jerry untuk memintanya percaya dengan apa yang ia katakan.
            “Aku harus segera sarjana, dan mencari kerja. Benar kan??”. Jerry menutup layar laptopnya dan mendekat kearah Grite.
            “Ohh.. tidak bisa. Kita akan sarjana bersama-sama!!”. Grite dan Jerry berkenalan saat mereka masih menjadi mahasiswa baru. Menjadi teman hingga saat akhir tidak membuat mereka menjadi sepasang kekasih. Grite harus mengakui bahwa Ia menyukai orang lain. Dan pertemuan yang mengesalkan dengan Ali membuatnya menjadi dekat dengan saudara-saudara dari ayahnya yang selama ini menghindar dari keluarga kecilnya.

ANNYEONG HASEYO !!!!
           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y