Gue Diputusin???



GUE DIPUTUSIN ???
            Jam tiga pagi aku dikejutkan dengan suara alarm jam bekerku. Sialan!, umpatku kesal. Mataku yang masih terbuka setengah enggan mengizinkan otakku untuk sekedar berpikir siapa yang menyetel alarm jam tiga dini hari. Bahkan, ayampun belum bangun dari tidur nyenyaknya.
            Hari minggu. Wah! Aku baru sadar. Semalam adalah malam minggu sehingga tidak heran jika hari ini aku bangun kesiangan. Alhasil, aku melewatkan menonton berita pagi ini. Itu adalah rutinitas penting pagi hari. Sembari menikmati sarapan, menonton headline News dari station televisI swasta favoritku. Sebagai mahasiswa fakultas Hukum, dunia politik tidak boleh terlewatkan. Kata Ayahku yang seorang pengacara, “Jangan sekali-kali kamu tidak tahu perkembangan politik hari ini!” Sehingga, pepatah tak rotan akar pun jadi harus digunakan. Aku beranjak menuju teras rumah dimana Ayah sedang sibuk membaca koran.
            “Tumben Ayah baca koran?”, celetukku kemudian menyesap teh panas buatanku. Ayah mendelik sebentar kemudian melanjutkan membaca. Jika Ayah telah membaca koran pagi, dapat dipastikan Ayah juga melewatkan berita pagi ini.
            “Gimana kuliahmu? Ayah dengar besok kamu praktek di pengadilan yah?”
            Aku terdiam sejenak. Mencoba mengingat jadwalku minggu ini. Minggu ini minggu yang padat. Mulai dari ujian praktek hingga pengurusan beasiswa keluar negeri yang diusulkan Ayah. Tetapi, ada satu hal yang tidak kuingat. Jadwal minggu ini….. Ah! Aku tidak bisa mengingatnya!
            “Ya!”
            Aku tak ingin menjawab dengan banyak kata. Terakhir kali aku mengatakan sesuatu tentang praktek, Ayah menceramahi kebodohanku hingga seminggu lamanya. Begitulah Ayah. Pengacara hebat yang sulit ditandingi ketika berargumen.
            Selain membaca koran, aktivitasku setiap hari minggu adalah TePe. Alias Tebar Pesona. Aku mewarisi kecantikan ibuku. Banyak gadis yang sampai berlutut memohon untuk memiliku. Tetapi, aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Hingga usiaku dua puluh tahun pun aku tidak pernah berpacaran.
Jony, sahabatku, pernah berkata untuk gadis yang kutolak tiga kali,”Hanya jika Cleopatra dilahirkan kembali, baru Sam punya pacar!”
Mungkin benar. Aku sangat sulit jatuh cinta. Bukan karena aku terlalu menancapkan standart yang tinggi. Hanya saja, belum ada wanita yang bisa membuatku berdebar-debar seperti cerita di novel-novel romantic.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar taman saja sembari melatih otot kakiku yang baru sembuh dari pengobatan akibat kecelakaan. Aku ditabrak loh! Sumpah! Aku adalah pengendara motor yang taat. Pakai helm dan ber-SIM. Hanya saja kala itu aku tidak fokus.
“Hey! Sam!” Seseorang berlari mendekatiku. Ia tersenyum lebar melihatku. Senyuman penuh arti. Aku bingung.
“Hey, Bro! What’s Up??”
Jonny menyeringai. AKu heran melihatnya. Untung saja aku segera menepis anggapan malam minggu kemarin Jonny habiskan bersama wanita setengah gila yang naksir berat sama Jonny sejak dua tahun yang lalu. Tapi, itu tidak mungkin terjadi. Jonny masih waras!
Kami berdua duduk di atas rumput yang tumbuh di pinggir danau buatan taman itu. Jonny mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyesapnya. Aku melihatnya risih.
“Berhentilah merokok!”, ujarku asal. Jonny dan rokok sudah bagaikan malam dan bulan. Tak akan terpisahkan. Seperti itulah kodratnya.
“Aku dengar, kau diputusin semalam?”
Bagaikan disambar petir, aku terkejut setengah mati mendengar pertanyaan Jonny. Aku bukan kaget bukan karena menyembunyikan statusku yang diputusin. Tetapi karena hingga detik ini aku masih tidak tahu jika aku pernah punya pacar dan, diputusin?
“Maksud Loe?”
Jonny berhenti merokok dan melihatku dengan heran.
“Jadi nggak bener, yee?”
Aku menggeleng. Bukan mengiyakan pertanyaan Jonny. Tetapi, aku tidak tahu.
“Jonn.. emang siapa pacar aku?” Pertanyaanku benar-benar seperti orang gila. Pacar sendiri masa tidak tahu. Kasihan benar yang jadi pacar aku.
“Tega ya loe! Mentang-mentang diputusin langsung dilupain begitu aja! Gitu-gitu dia cewek yang udah mematahkan prinsip hidup loe tau!”
“HEHHH??!!”
Aku terkejut setengah mati mendengar ceramahan Jonny. Jadi, aku punya pacar. Tapi, kok aku nggak tahu yaa?, batinku prihatin. Prihatin sama cewek yang jadi pacar aku (dulu) dan prihatin sama diriku yang ternyata tidak bisa bertemu Cleopatra. Tunggu! Jangan-jangan…
“Jonn… cewek aku itu… Cleopatra yaa?!”
Jonny terjatuh mendengar pertanyaanku. MUngkin di benak Jonny, ia berpikir aku adalah orang paling gila yang ia temui hari ini. Lebih gila dari tetangganya yang mengejarnya habis-habisan itu.
“Cleopatra dari Hongkong! Cewek elo itu si Dina, anak kampong sebelah!”
            Dina. Aku mencoba mengingat nama itu. Aku piker aku mengenalnya. Dina adalah mahasiswi fakultas sastra yang berjilbab dan jago berpuisi. Senyumnya manis dan suaranya lembut. Sangat enak jika mendengarnya berpuisi. Rasanya aku akan terbang ke surga bersamanya. Tanpa harus berhenti untuk melihat neraka. Ehh?
            Memory tentang Dina hanya seperti itu. Tidak ada memory yang menyebutkan bahwa kami berstatus menjalin hubungan. Aku pun tersenyum menyadari semuanya.
            “Kamu jangan buat aku Ge-Er dehh! Ya.. kalo bisa jadi pacar sih bagus!”, ujarku sambil cekikikan membayangkan sesuatu.
            PLAAAKKK!
Pukulan Jonny mendarat di kepalaku. Membuyarkan lamunanku yang sedang asyik berduaan dengan Dina. Tetapi, setelah itu. Jonny memegang jidatku dengan lembut. Hangat kepalaku pun merambah telapak tangannya.
            “Wahh! Loe sakit, Sam! Bener-bener sakit! Sini gue antar loe pulang!”
            Begitu mendapat berita dari Jonny. Ibu segera mengambilkan obat untukku. Belum sempat ibu kembali dengan obatnya, aku sudah menghilang dengan motorku. Menerobos jalan setapak di pinggir kali. Berbelok di perempatan jalan. Dan masuk ke dalam gang sempit yang membuatku memelankan laju motorku.
            Aku ingat semuanya! Malam itu, aku menjemput Dina dari perkumpulannya sesama pecinta Sastra. Di perjalanan pulang, Dina mengatakan sesuatu yang sangat tidak bagus. Dia mau kami putus. Hubungan ini terlarang, katanya. Padahal kami tidak melakukan hal-hal diluar batas selain bertatapan malu-malu. Dina merapatkan jilbabnya kemudian berpamitan dengan senyum manis terakhir yang kulihat. Aku ingin sekali mengejarnya masuk ke dalam rumah. Tetapi, saat itu kulihat Abahnya berdiri dengan memegang sapu. Bukan mau menyapu atau menyodok buah jambu di halaman. Tetapi memukulku jika saja aku berani mendekati rumahnya.
            Aku pulang dengan kecewa. Sangat kecewa. Sampai-sampai aku tidak melihat jika pintu rumahku tertutup rapat (Biasanya terbuka lebar karena adikku selalu maen game di dalam). Jidat kepalaku yang seperti landasan pesawat terbang ini pun tertabrak dengan mulus mengakibatkan memar yang tidak seberapa. Namun, efeknya sungguh parah. Ia menghapus memori tentang hubunganku dengan Dina. Alhasil, ketika jam bekerku berbunyi. Aku dengan mantap melanjutkan tidur. Padahal, setiap hari, sejak mengenal Dina, aku bangun jam tiga subuh dan segera meluncur ke rumah Dina. Berjalan beriringan menuju masjid.
            Rumah Dina sepi sekali. Pintu dan jendela tertutup rapat. Mobil abahnya pun tak ada. Mungkin ini adalah Doa Dina agar aku melupakan hubungan terlarang kami. Dan Allah mengabulkannya.
Kulajukan kembali motorku. Menelusuri jalan pulang ke rumah. Menanti lahirnya Cleopatra (lagi).


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y