Kajjimara!!!
Dunia ini begitu memusingkanku. Sudah berkali-kali aku mendatanginya di rumah. Hingga semua orang yang tinggal di sekitar rumah itu mengenalku. Setiap aku datang, belum sampai aku di halaman rumah, tetangganya akan berkata,”Pak Noor belum pulang, Dek!.”. Aku hanya melemparkan senyum terima kasih, namun kakiku terus melangkah hingga pintu rumah. Menekan bel tiga kali. Lalu, beranjak menuju pintu belakang. Kemudian, kembali melewati orang-orang yang menegurku. Memberi nasihat agar aku berhenti melakukan hal-hal yang tidak berguna. membuang-buang waktu padahal jelas mereka memberiku keterangan akan tidak adanya orang yang aku cari.
Aku bukanlah orang yang tidak peduli dengan nasehat-nasehat mereka. Hanya saja, setiap aku datang. Setiap aku menekan bel. Setiap aku mengetuk pintu belakang. AKu mendengar desahan nafas seseorang dari dalam rumah. Menahan nafas sebisa mungkin agar aku tidak mendengarnya. Maka, ketika aku melangkahkan kaki keluar halaman, beberapa orang segera berlari ke belakang rumah masing-masing. Yang lainnya tersenyum. Entah apa maksud dari senyuman mereka.
Hari itu, kuputuskan sebagai hari terakhir aku mengunjungi rumahnya. SUngguh. AKu tidak menyerah. Tetapi, aku akan mengungkap semua perasaanku. Semua kecurigaanku tentang mereka semua. Rumah itu, orang yang aku cari, para tetangga, semuanya!
Pertama, seperti biasa. Melemparkan senyum atas nasehat mereka yang tidak berubah dari nada bicara hingga urutan kata-kata. Kedua, menekan bel. Satu. Diam. Dua. Diam. Tiga. Aku mendengar langkah.
Langkah sepatu perlahan mendekatiku. Jantungku berdebar. Bukan karena senang aku benar. Aku sedikit khawatir. Langkah kaki itu berasal dari belakangku. Perlahan-lahan kuputar kepalaku. Melihat apa yang tengah mendekatiku. Manusiakah?
Mereka menyebutnya Dewi. Dewi, sebuah nama. Bukan serupa wanita-wanita khayangan. Ia manusia. Manusia yang memiliki kecantikan khayangan. Senyuman para malaikat. Kelembutan para bidadari. Dewi pujaan hatiku.
“Berapa lama kau akan terus begini?” Suaranya yang lembut seperti karbondioksa yang kuhirup setiap hari. Menghambat aliran darahku. Membuat jantungku berdegup lebih kencang.
“Tidak lama lagi. Karena kau telah datang”, jawabku tanpa berhenti menatap wajahnya yang seperti nikotin yang selalu menyertai udara yang kuhirup. Membuat pikiranku selalu tidak bisa jauh darinya.
Dewi meringgis mendengar jawabanku. Aura penyesalan terlihat dari wajahnya. Menyesal karena telah datang menegurku. Menyesal karean kedatangannya membuat kegilaanku kambuh. Membuat aku semakin tidak dapat berpikir jernih. Membuat aku semakin tidak bisa kembali ke dunia normal.
“Pulanglah!”
Aku menggeleng. Mantap. Dewi yang kucari selama sebulan penuh kini berdiri di hadapanku. Kenapa aku harus pulang? Ingin sekali aku mengatakan itu. Tetapi semua tertahan di ujung tenggorokan. Berubah menjadi ludah yang harus kutelan. Seperti menelan kenyataan pahit. Dewi mengusirku!
Aku menunduk sedih. Dan ketika aku mengangkat kembali kepalaku, kulihat Dewi telah beranjak menuju gerbang. Berjalan gontai tanpa menoleh sedikitpun padaku. Ia terus melangkah tanpa peduli beberapa kendaraan yang lalu-lalang di jalan depan rumah. Menembus badan-badan kendaraan itu tanpa takut terluka. Hingga ia hilang dari pandanganku.
Kakiku ingin mengikutinya. Menembus badan-badan kendaraan itu. Tetapi, aku belum melakukan kegiatan rutinku yang ketiga. Perlukah aku melakukan itu sekarang? Airmataku tidak terasa terjatuh membasahi wajah lesuku.Dalam hati kusebut terus namanya, “Dewi, Kajjimara!”.
PS:
- Kajjimara = Jangan Pergi (Bahasa Korea)
Aku bukanlah orang yang tidak peduli dengan nasehat-nasehat mereka. Hanya saja, setiap aku datang. Setiap aku menekan bel. Setiap aku mengetuk pintu belakang. AKu mendengar desahan nafas seseorang dari dalam rumah. Menahan nafas sebisa mungkin agar aku tidak mendengarnya. Maka, ketika aku melangkahkan kaki keluar halaman, beberapa orang segera berlari ke belakang rumah masing-masing. Yang lainnya tersenyum. Entah apa maksud dari senyuman mereka.
Hari itu, kuputuskan sebagai hari terakhir aku mengunjungi rumahnya. SUngguh. AKu tidak menyerah. Tetapi, aku akan mengungkap semua perasaanku. Semua kecurigaanku tentang mereka semua. Rumah itu, orang yang aku cari, para tetangga, semuanya!
Pertama, seperti biasa. Melemparkan senyum atas nasehat mereka yang tidak berubah dari nada bicara hingga urutan kata-kata. Kedua, menekan bel. Satu. Diam. Dua. Diam. Tiga. Aku mendengar langkah.
Langkah sepatu perlahan mendekatiku. Jantungku berdebar. Bukan karena senang aku benar. Aku sedikit khawatir. Langkah kaki itu berasal dari belakangku. Perlahan-lahan kuputar kepalaku. Melihat apa yang tengah mendekatiku. Manusiakah?
Mereka menyebutnya Dewi. Dewi, sebuah nama. Bukan serupa wanita-wanita khayangan. Ia manusia. Manusia yang memiliki kecantikan khayangan. Senyuman para malaikat. Kelembutan para bidadari. Dewi pujaan hatiku.
“Berapa lama kau akan terus begini?” Suaranya yang lembut seperti karbondioksa yang kuhirup setiap hari. Menghambat aliran darahku. Membuat jantungku berdegup lebih kencang.
“Tidak lama lagi. Karena kau telah datang”, jawabku tanpa berhenti menatap wajahnya yang seperti nikotin yang selalu menyertai udara yang kuhirup. Membuat pikiranku selalu tidak bisa jauh darinya.
Dewi meringgis mendengar jawabanku. Aura penyesalan terlihat dari wajahnya. Menyesal karena telah datang menegurku. Menyesal karean kedatangannya membuat kegilaanku kambuh. Membuat aku semakin tidak dapat berpikir jernih. Membuat aku semakin tidak bisa kembali ke dunia normal.
“Pulanglah!”
Aku menggeleng. Mantap. Dewi yang kucari selama sebulan penuh kini berdiri di hadapanku. Kenapa aku harus pulang? Ingin sekali aku mengatakan itu. Tetapi semua tertahan di ujung tenggorokan. Berubah menjadi ludah yang harus kutelan. Seperti menelan kenyataan pahit. Dewi mengusirku!
Aku menunduk sedih. Dan ketika aku mengangkat kembali kepalaku, kulihat Dewi telah beranjak menuju gerbang. Berjalan gontai tanpa menoleh sedikitpun padaku. Ia terus melangkah tanpa peduli beberapa kendaraan yang lalu-lalang di jalan depan rumah. Menembus badan-badan kendaraan itu tanpa takut terluka. Hingga ia hilang dari pandanganku.
Kakiku ingin mengikutinya. Menembus badan-badan kendaraan itu. Tetapi, aku belum melakukan kegiatan rutinku yang ketiga. Perlukah aku melakukan itu sekarang? Airmataku tidak terasa terjatuh membasahi wajah lesuku.Dalam hati kusebut terus namanya, “Dewi, Kajjimara!”.
PS:
- Kajjimara = Jangan Pergi (Bahasa Korea)

Comments