EPIDEMIOLOGI KESEHATAN REPRODUKSI

ini salah satu tugasku untuk mata kuliha EPID KESPRO~~ 
Just Share ^^


Kelompok Beresiko Tinggi : Tingkat Pengetahuan Pekerja Seks Komersial Dalam Mencegah Penyakit Menular Seksual
A.    Pendahuluan
           
 Kesehatan reproduksi merupakan keadaan seksualitas yang sehat yang berhubungan dengan fungsi dan proses sistem reproduksi. Seksualitas dalam hal ini berkaitan erat dengan anatomi dan fungsional alat reproduksi atau alat kelamin manusia dan dampaknya bagi kehidupan fisik dan biologis manusia. Termasuk dalam menjaga kesehatannya dari gangguan seperti IMS dan HIV/AIDS (Herbaleng, 2001).

Penyakit menular seksual (PMS) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi permasalahan kesehatan secara global, karena pola penyakitnya hampir terjadi di semua negara. Pada dekade terakhir ini, insidens PMS diberbagai negara di seluruh dunia mengalami peningkatan yang cukup cepat. Peningkatan insidens PMS dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perubahan demografik, fasilitas kesehatan yang tersedia kurang memadai, pendidikan kesehatan dan pendidikan seksual kurang tersebar luas, kontrol PMS belum dapat berjalan baik serta adanya perubahan sikap dan perilaku (Daili, 2003). Salah satu tujuan dari Millenium Development Goals (MDGs) adalah menurunkan angka prevalensi penyakit menular seksual khususnya penyakit HIV/AIDS.

Dahulu kelompok penyakit ini dikenal sebagai penyakit kelamin yang hanya terdiri dari 5 jenis penyakit yaitu gonoroe (kencing nanah), sifilis (raja singa), ulkus mole, limfogranuloma inguinale (bungkul) dan granuloma inguinale. Namun pada akhir abad ke-20 dapat dibuktikan bahwa pada waktu mengadakan hubungan seksual dapat terjadi infeksi oleh lebih dari 20 jenis kuman, sehingga muncullah istilah Penyakit Menular Seksual (PMS). Pada tahun 1997 pada Kongres IUVDT (International Union of Venereal Diseases and Treponematosis) di Australia, istilah tersebut diubah menjadi IMS, oleh karena semua penyakit yang termasuk dalam kelompok tersebut merupakan penyakit infeksi (Djajakusumah, 2008).

Sexually Transmitted Infection (STI) dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) mencerminkan masalah terbesar dalam kesehatan masyarakat di negara berkembang. Pada seorang individu, penyakit IMS membuat individu tersebut rentan terhadap infeksi HIV. Penularan IMS melalui hubungan seksual diikuti dengan perilaku yang menempatkan individu dalam risiko  mencapai HIV, seperti mereka berperilaku bergantian pasangan seksual, dan tidak konsisten menggunakan kondom (BNN, 2004)
           
            Kelompok-kelompok beresiko tinggi yang dapat menjadi penyebar PMS adalah Pekerja Seks Komersial. PSK menjadi salah satu kelompok yang sepertinya tidak perlu ditanyakan lagi mengapa mereka dapat menjadi kelompok beresiko sangat tinggi. Karena sifat pekerjaan dan perilaku mereka, para PSK berpotensi tertular dan menularkan Infeksi Menular Seksual (IMS) (Kasnodihardjo, 2010). Pekerjaan yang dilakukan PSK dapat menjadi salah satu penyebar PMS seperti sifilis dan bahkan HIV/AIDS. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mengemukakan bahwa pengidap HIV/AIDS di Indonesia sebagian besar ditemukan diantara Pekerja Seks Komersial (PSK) yang jumlahnya diperkirakan berkisar 190.000-270.000 orang. Jumlah orang yang diperkirakan rawan tertular HIV sebanyak 13-20 juta orang.
           
            Melihat kepada kenyataan bahwa PSK adalah kelompok beresiko yang sangat tinggi dalam penyebaran penyakit IMS dan HIV/AIDS, maka perlu dilakukan berbagai hal untuk menekan angka penyebaran IMS dan HIV/AIDS dari kalangan Pekerja Seks Komersial. Cara yang paling penting untuk dilakukan adalah pendampingan atau penyuluhan untuk memberikan pengetahuan kepada PSK tentang penyakit menular seksual.

B.     Pekerja Seks Komersial Sebagai Kelompok Beresiko Tinggi

Pekerja Seks Komersial (PSK) adalah suatu pekejaan atau profesi dengan melacurkan diri, penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran, dengan alasan komersial mereka siap melakukan apa saja untuk kepuasan pelanggan sampai pada perilaku seks yang tidak sehat, sehingga kelompok ini beresiko untuk terkena infeksi menular seksual (IMS) (Kartono, 2003).

Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) pada Pekerja Seks Komersial (PSK) cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan hasil estimasi tahun 2006 menunjukkan bahwa Pekerja Seks Komersial (PSK) sebesar 221.000 orang dan pelanggan 3.160.000 orang dengan prevalensi IMS sangat tinggi di wilayah Bandung yaitu : gonoroe 37,4%, klamidia 34,5%, dan sifilis 25,2%. Selanjutnya diikuti kota Surabaya yaitu : klamidia 33,7%, sifilis 28,8%, dan dan gonoroe 19,8%. Lalu kota Jakarta yaitu : gonoroe 29,8%, sifilis 25,2% dan klamidia 22,7% dan Medan 5,3% klamidia dan 2,4% sifilis (Adhitama, 2008).

Pada tahun 2008 jumlah IMS di Sumatera Utara sebanyak 6.787 kasus dimana jumlah IMS di Medan sebanyak 3.095 kasus (Dinkes Sumut, 2009). PSK lebih berisiko menimbulkan IMS karena mereka sering bertukar pasangan seks. Semakin banyak jumlah pasangan seksnya semakin besar kesempatan terinfeksi IMS dan menularkan ke orang lain. Peran serta masyarakat dalam mengontrol IMS sangat penting, selama kelompok ini belum terjangkau dengan pencegahan dan layanan pengobatan yang berkualitas baik. Jangkauan yang efektif, pendidikan sebaya serta layanan klinik untuk pekerja seks telah dikembangkan dengan menggunakan klinik berjalan atau dengan menyediakan waktu khusus di klinik. Pelayanan seperti ini memberikan kontribusi untuk mengurangi prevalensi IMS di masyarakat (Depkes RI, 2006).

Seorang PSK seharusnya menyadari bahwa pekerjaannya beresiko terhadap penularan IMS, dan dengan resiko tersebut seharusnya sesering mungkin melakukan pemeriksaan, karena kelompok resiko tinggi seperti PSK harus selalu melakukan pemeriksaan sesering mungkin baik dilakukan dengan sendiri ataupun dengan bantuan pelayanan kesehatan (Daili, 2001).

C.    Pembimbingan Edukasi Untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

Pada dasarnya, seorang PSK harus memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi. Karena pada umumnya pengetahuan PSK tentang penyakit menular seksual hanya yang bersifat umum saja. Seperti hanya mengetahui nama penyakit tanpa tahu penyebabnya penyakit tersebut, cara penularan penyakit menular seksual hingga pencegahan dan pengobatannya. Rendahnya pengetahuan PSK menjadi sangat penting dalam menekan angka kejadian PMS. Dari beberapa penelitian diperoleh hasil bahwa pengetahuan dan sikap mempunyai hubungan yang bermakna dengan tindakan pencegahan penyakit menular seksual dengan nilai p<0,05.

Untuk itu banyak dilakukan kampanye dan konseling pada kalangan yang dianggap beresiko tinggi terhadap penyakit HIV / AIDS ini. Bermunculan LSM dan lembaga-lembaga milik pemerintah yang menekankan perilaku seksual sebagai penyebab utama penularan penyakit ini, dan ini masih berlangsung hingga sekarang. Mereka aktif melakukan penyuluhan-penyuluhan terutama di tempat lokalisasi tentang bagaimana melakukan “save seks” dengan menggunakan kondom.
Usaha-usaha yang telah dilakukan antara lain adalah :
1.      Peer Konseling,
2.      Penyuluhan Kesehatan Reproduksi,
3.      Penyuluhan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR),
4.      Penyuluhan kepada organisasi yang menampung para homoseksual,
5.      skreening kepada pada PSK, dll.
Berbagai pendampingan dan pembekalan pengetahuan yang telah diberikan pada PSK seharusnya mampu untuk menekan angka kejadian penyakit menular seksual. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelanggan PSK enggan menggunakan kondom sebagai bentuk dari seks yang aman. Sepuluh juta pria di Indonesia masih menjadi pelanggan pekerja seks komersial (PSK) di tempat-tempat pelacuran, dan menolak menggunakan kondom ketika melakukan seks bebas tersebut. Sebanyak 60 persen di antaranya merupakan pria yang sudah beristri, dan 40 persennya merupakan anak muda yang bercita-cita menikah pada suatu hari nanti. Ini adalah hasil survei Kementerian Kesehatan pada 2011 mengenai pria berperilaku seksual resiko tinggi terpapar HIV/AIDS. Hal ini terungkap pada puncak peringatan Hari AIDS Sedunia 2011, di PT Mitra Rajawali Jln. Raya Banjaran Km 16 Kab. Bandung.
Fakta ini sungguh menyedihkan mengingat salah satu metode pencegahan penyakit menular melalui hubungan seksual yang dianjurkan adalah tidak berperilaku seksual beresiko tinggu, atau menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks.
Selain masalah banyaknya pelanggan PSK yang enggan menggunakan kondom juga terdapat masalah lain. Menurut komisi penanggulangan AIDS, gerak KPA untuk mengampanyekan penggunaan kondom terbatas. Sebagai contoh KPA dilarang mengampanyekan pemakaian kondom di televisi, dan hanya diperbolehkan untuk melakukannya di lokalisasi.
Kenyataannya, beberapa tahun terakhir ini banyak lokalisasi di Indonesia yang dibubarkan. Akibatnya, praktek prostitusi beralih ke tengah permukiman masyarakat. KPA dan komunitas aktifis HIV/AIDS sangat sulit melacak keberadaan PSK, dan kalaupun berhasil menemui mereka, tidak mudah untuk mengedukasinya di tengah masyarakat umum.
            Terlepas dari segala upaya yang dilakukan banyak pihak untuk menekan angka kejadian penyakit menular seksual dengan memberikan pembimbingan pengetahuan kepada para kelompok beresiko tinggi seperti PSK terdapat sebuah hal yang paling mendasar yang mampu menekan angka kejadian PMS, tetapi sangat sulit untuk terjadi. Di Indonesia khususnya, perbaikan ekonomi ke arah yang lebih baik dalam arti dapat mensejahterakan warga adalah jawaban untuk menekan angka kejadian PMS. Banyak dari PSK adalah wanita ataupun pria yang memilih menggunakan jalan yang tidak ‘sehat’ untuk memenuhi kebutuhan materil sebagai penyambung hidup tanpa sempat memikirkan bahwa masih ada jalan lain untuk mendapatkan rejeki. Terutama untuk kalangan remaja yang memilih masuk ke dalam dunia prostitusi demi memenuhi kebutuhan materiil. Dengan kata lain, perbaikan kondisi ekonomi mampu menekan angka pekerja seks komersial di masyarakat, juga mampu untuk menekan angka kejadian penyakit menular seksual.
D.    Kesimpulan

1.      Kegiatan pendampingan edukasi untuk para pekerja seks komersial sebagai kelompok yang sangat beresiko terhadap penularan infeksi menular seksual penting untuk diadakan.
2.      Pehamanan tentang penggunaan kondom yang mampu mencegah penyebaran kuman dan virus perlu ditingkatkan di kalangan kelompok beresiko tinggi.
3.      Perbaikan ekonomi adalah cara yang perlu diperhatikan oleh segenap masyarakat Indonesia khususnya pemerintah untuk menekan banyaknya pekerja seks komersial dan juga menekan angka kejadian penyakit menular seksual.

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

PENYANYI PRIA TERBAIK di KOREA berdasarkan penilaian ahli vokal korea