MENERKA-NERKA NILAI DOSEN TAK SAMA DENGAN MENEBAK ISI HATI SI DIA :D
Kabarnya pasti datang hari ini kan??” Aku menggerutu seraya memainkan beberapa bola kelereng milik Adi. Aku tidak sadar jika adikku yang bawel itu pasti akan marah besar jika aku mengacaukan isi botol kelerengnya lagi.
Enda, pria yang kuajak bicara itu sibuk mengotak-atik laptopnya. “Emmm… aku nggak bisa pastikan, La!”
Aku mengangguk mengerti. Kemudian memperhatikannya. Enda, sibuk sekali dengan laptopnya sejak dulu. Ia bukan penulis atau gamers yang tak bisa hidup tanpa computer. Enda adalah designer baju. Dia cowok tulen lho. Tidak seperti kebanyakan designer yang kuketahui. Bakatnya ini tentu saja di tentang oleh orang tuanya, sehingga Enda harus mengasah bakatnya dengan cara sembunyi-sembunyi.
“Yuk! Udah waktunya ngampus!” Enda berdiri segera sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas.
Aku berjalan di belakangnya sambil memperhatikan bahunya yang bidang. Enda sebenarnya cocok sekali jika menjadi atlit seperti kakaknya. Karena rajin berolahraga, Enda memiliki otot tubuh yang bagus. Saat sedang bermain basket, Enda selalu memamerkan six pack di tubuhnya. Seksi sekali, itu teriakan cewek-cewek centil yang menontong di pinggir lapangan.
Jika sudah begitu, seusai bermain, aku akan melemparkan handuk dan menggerutu jengkel padanya, “Pamer banget sih! Tuh cewek-cewek sampai mimisan tahu!”
Tapi, Enda hanya tertawa geli mendengarnya. Kadang, ia juga turut menggodaku, “Hidung mu baik-baik saja tuh!”
Kami tiba di kampus setelah berjalan cukup jauh. Jarak rumahku cukup dekat dengan kampus, sehingga Enda selalu mempunyai waktu untuk datang ke rumah. Sekedar menyapaku atau Adi. Hobby Enda cukup aneh. Ia lebih suka berjalan kaki jika jaraknya dekat. Jika tidak, ia akan memilih naik angkutan umum. Jadi, jangan heran jika Enda tak punya motor. Aku selalu menyimpulkan jika Enda hanya ingin memamerkan wajah tampannya itu.
“Hai Couple Everyday! Sudah keluar tuh nilai ujian Kode Etik!”
Aku tersenyum malu jika sudah dipanggil seperti itu oleh rekan-rekan di kampus. Kata mereka, kami sangat lengket banget. Kemana-mana selalu sama-sama. Bagaikan bulan dan langit malam yang tidak bisa dipisahkan. Tetapi, Enda sudah berdiri dengan gagahnya siap mematahkan kata-kata ‘couple’ yang diusung Reza.
“Couple nenek Lu! Aku sama Ima ini sahabat. BestFriend, you know!”
Aku menggangguk kaget melihat reaksi Enda yang sepertinya tak suka jika di sebut ‘couple’ denganku. Reza hanya tertawa seraya melihatku dengan sedih. Betapa memalukannya.
“Kenapa sih? Nggak usah pake nyolot lagi!” tukasku jengkel pada Enda setelah mengucapkan terima kasih atas info yang diberikan pada Reza. Reza segera berlalu mengetahui aka nada perang kecil antara kami.
“Siapa yang nyolot? Aku kan Cuma nggak suka aja digituin!” sanggah Enda dengan suara yang lembut. Ia mencoba tersenyum manis untuk meredakan amarahku.
Kami segera bergegas menuju taman untuk mengecek nilai di situs system penilaian akademik. Tahu kan? Sekarang semuanya system online. Mau daftar kuliah online, mau pesen baju online, cari jodoh aja bisa online. Lama-lama mau nikah juga online!
“Haddeeeuuhhhh! Sudah aku duga! Nilai kita pasti Cuma segitu!”
Aku dan Enda meringgis melihat huruf B terukir di sana untuk mata kuliah kode etik. Memang sudah dapat kupastikan nilai kami tidak mungkin tinggi. Pasalnya, aku dan Enda pernah bolos mengikuti salah satu kuis yang diadakan oleh dosen.
Aku menatap Enda yang masih sibuk mengecek nilai anak-anak lain. Ah! Enda.. menebak nilai dosen itu jauh lebih muda daripada menebak isi hatimu padaku.
“Jadi kita Cuma teman? BestFriend?” tanyaku dalam hati.
>> end <<

Comments