(CERPEN) Hari Rabu Di Lego-Lego
Ada banyak hal di dunia ini yang
akan mendukungmu untuk menjadi melakukan perubahan. Memberimu semacam stimulant yang merangsangmu beranjak
dari tempatmu saat ini. Terdapat dua kemungkinan yang akan muncul. Pertama,
kamu akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Inilah yang kau harapankan dari stimulant itu. Kemungkinan yang lain
adalah kamu akan menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Dan ini bukanlah hasil
yang diharapkan dalam sebuah tindakan perubahan. Tetapi, siapapun tidak bisa
mengelak dari kemungkinan terburuk ini.
Serbuan usaha-usaha rakyat yang
diusung orang muda negeri kita begitu mewabah hingga ke pelosok nusantara.
Dulu, kita hampir tidak menemukan minuman es teh kemasan selain es teh buatan
warung makan. Kini, telah banyak bertabur stan penjualan minuman dingin siap
saji yang setidaknya mampu mengurangi angka pemuda tak bekerja di negeri kita
yang luas ini.
Mungkin baru sekitar dua tahun
berdirinya stan penjualan minuman dingin di fakultas kami. Ia mendapat tempat di
sudut taman tengah kami yang akrab disebut ‘lego-lego’ oleh mahasiswa yang
lain. Awalnya, stan ini biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa selain
terkenal karena minuman dingin yang disajikan cukup murah dari kebanyakan stan
lain. Tetapi kemudian, stan ini menjadi sangat ramai. Lego-lego kami menjadi
begitu padat. Hampir sangat sulit menemukan tempat kosong di lego-lego ini
karena selalu penuh akan mahasiswa-mahasiswa yang sibuk tebar pesona.
“Di taman aja deh. Lego-lego penuh
sesak!” tukas Aldi sambil menarik aku dan Dini menjauhi lego-lego.
Dini
melepas tarikan tangan Aldi dan dengan nada sedikit tinggi membentak Aldi. “Di
lego-lego aja, Di. Saya nggak mau kalah sama mereka!” Dini menunjuk kumpulan
mahasiswi yang berkerumun di bangku depan stan. Aldi menggeleng-geleng heran
disusul tawa ringan dariku.
“Tahun
depan pasti Mas Ayi sudah bisa bangun restoran di jawa!”
Aku
dan Dini tertawa mendengar keluhan Aldi yang entah mengapa terdengar seperti
ramalan. Begitu ada beberapa orang mahasiswa yang meninggalkan sebuah meja,
Aldi langsung bergerak menempatkan pantatnya di atas sebuah kursi. Dini
bergerak dengan penuh semangat mendekati Aldi. Meja kami hanya berjarak satu
meja dari stan itu. Karena begitu banyak mahasiswi yang mengantri, Mas Ayi sangat
kelelahan dan persediaannya pun berkurang. Baru lima menit kami melakukan aksi
‘curi-curi pandang’, Mas Ayi bergegas mengeluarkan sebuah papan kecil
bertuliskan ‘closed’. Aldi tertawa lebar melihat reaksi kami yang kecewa berat.
“Eh
eh… jangan cemberut. Buruan kerjain nih tugas!” celetuk Aldi sambil membetulkan
letak kacamatanya.
Mas
Ayi baru tiga bulan bekerja sebagai penjual di stan itu. Ia datang seperti
malaikat yang ‘nyasar’ di bumi. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang manis
membuat banyak mahasiswi yang terpana. Apalagi Fakultas kami memiliki jumlah
mahasiswi di atas rata-rata. Walaupun banyak yang menyayangkan kenapa ia harus
ditakdirkan menjadi seorang penjual minuman dingin.
Meskipun
begitu, bukan hanya karena wajah tampannya yang membuat para mahasiswi seolah
mendapat tarikan magnet, namun karena Mas Ayi memiliki kecerdasan yang tidak
wajar. Dua minggu yang lalu, ada dua orang mahasiswa Thailand yang datang untuk
mengambil beberapa matakuliah di kampus kami. Dengan fasih, Mas Ayi meladeni kedua
mahasiswa itu dengan bahasa inggris. Beberapa dosen yang melihat aksi itu
senyum-senyum penuh arti. Tetapi untuk aku dan Dini, ini adalah sebuah
pemandangan langka yang tidak biasa.
“I
think there’s not a “pop ice” drink on your country, right??” ujar Mas Ayi
disusul tawa ringan dari kedua mahasiswi yang cantik itu. Adegan adu speaking itu membuat lego-lego kami
bertambah ramai. Bukan hanya tampan, ternyata Mas Ayi jago berbahasa inggris
lebih dari kami yang adalah mahasiswa.
Kalau dilihat dari wajahnya memang Mas
Ayi tidak memiliki umur yang begitu tua. Paling tidak ia berusia duapuluhtiga
tahun. Itu kata Dini. Dini yang setiap hari Rabu tidak pernah absen untuk
membeli pop ice di situ atau sekedar di lego-lego sambil menebar pesona. Kenapa
harus hari Rabu? Karena hanya hari Rabulah jam kerja Mas Ayi. Kami tidak tahu
dimana ia bekerja di hari lainnya. Walaupun itu penting untuk diketahui tetapi, tetap tidak ada yang lebih penting
selain menerima senyum ramahnya ketika membeli pop ice. Hanya Aldy yang selalu
merasa penasaran dengan kepintaran mas Ayi. Apalagi, ia pernah berdebat dengan
ketua BEM kami tentang kemahasiswaan.
“Kita tunggu kabar dari kamu aja,
Dy” godaku ketika Aldy mengajak kami melakukan penelitian. Aldy tersenyum pahit
sambil meninggalkan kami berdua yang tertawa ringan.
Akhir-akhir ini, fakultas kami
disibukkan dengan isu ‘akreditasi’. Kami sedang berusaha membuat fakultas kami
mendapatkan akreditasi A. Hal itu akan mengakibatkan alumni kami mendapatkan
sedikit kemudahan dalam mencari pekerjaan. Lingkungan fakultas kami mulai dibenahi
besar-besaran. Mulai dari parkiran hingga kamar mandi. Parkiran yang dulunya
memiliki lantai yang sedikit rusak mulai di perbaiki. Sisi-sisi jalan menuju
kampus di cat dengan rapi. Begitupun dengan ruangan kelas yang memiliki warna
cat sedikit pudar di sapu dengan warna yang cerah. Korden kelas kami diganti
dengan korden merek baru yang lebih mahal dan bagus. Sayang, para petinggi
fakultas tidak melihat hal-hal yang kecil. Kamar mandi kami kekurangan gayung!
Tetapi, siapa yang menyangka bahwa
isu akreditasi akan membuat kami kehilangan malaikat yang telah memberi warna
pada fakultas kami. Keputusan para petinggi kampus untuk membersihkan
pedagang-pedagan lain selain yang berdagang di area kantin sungguh memilukan.
Itu tentu akan membuat Mas Ayi dan stannya harus gulung tikar dari lego-lego
kami. Hari rabu kami tentu tidak akan seindah dulu lagi. Tanpa minuman dingin
yang menyegarkan setelah mengikuti kuliah, juga tanpa malaikat ‘nyasar’ yang
jago bahasa inggris membuat suasana kampus kami sedikit lebih berwarna.
Hari ini hari Rabu. Beberapa orang
petugas dari Dinas datang untuk menilai fakultas kami. Mereka menyukspeksi
semua ruangan dan menilai seberapa pantaskah fakultas kami mendapat nilai A. Aku,
Dini dan Aldi masih duduk di lego-lego mengerjakan tugas Bu Indah. Kami tidak
kesulitan mendapat tempat karena kondisi lego-lego yang tidak seramai dahulu.
Di sudut sana, masih terpampang gerobak penjual minuman dingin. Tetapi, tanpa
awak dan persediaan. Hari ini Mas Ayi tidak datang. Bukan karena diusir oleh
petinggi kampus. Karena hari itu hari penilaian. Jadi, petinggi kampus meminta
Mas Ayi dan rekannya untuk datang lagi besok.
“Kenapa coba harus hari Rabu
penilaiannya? Kan bisa hari lain!” gerutu Dini sambil menulis beberapa kalimat
di atas kertas bindernya.
“Itu karena saya pengen banget lihat
suasana yang damai pas hari rabu” celetuk Aldi sambil merentangkan kedua
tangannya menikmati udara sejuk di lego-lego.
“Kamu? Apa hubungannya coba! Yang
penting minggu depan bisa tebar pesona lagi! Hahaha” tukas Dini sambil tertawa
lebar.
“Nggak capek kamu tebar pesona, Din?”
selidik Aldy heran.
“Aku nggak tebar pesona aja kok, Dy.
Aku sama Lita juga banyak belajar dari Mas Ayi yang Inggrisnya bagus banget. Ya
kan, Lit?” Aku mengangguk mantap. “Dan lagi, TOELF kita juga nambah sejak
beradu speaking dengannya” tambah Dini disusul high five denganku.
Sayangnya, Hari rabu yang kami
nantikan ternyata tidak pernah datang lagi. Dari hari senin hingga jum’at tidak
pernah ada pergantian penjual lagi. Kami tidak pernah melihat Mas Ayi lagi.
Beberapa hari kemudian, Aldi menunjukkan sebuah artikel yang tidak sengaja
ditemukannya di internet.
”Semua
orang menentangku. Mulai dari dosen hingga teman-teman. Memutuskan kembali ke
Indonesia untuk melakukan penelitian di tengah deadline sarjana dan berakhirnya
masa pemberian beasiswa adalah keputusan yang besar. Aku punya empat bulan lagi
untuk menyelesaikan studiku dan jika aku gagal maka aku harus membayar biaya
kuliah semester depan seorang diri. Tetapi, aku yakin. Aku harus terjun
langsung melihat negeriku. Membaca milik orang lain bagiku tidak nyata. Aku
akan pulang ke Indonesia. Selama tiga setengah bulan aku mencoba mengumpulkan
apa yang aku butuhkan untuk menulis thesis-ku. Hasil yang aku dapatkan
benar-benar memuaskan untukku. Walaupun itu adalah hasil yang buruk dari
negeriku. Ekonomi negeriku benar-benar buruk! Harus ada yang melakukan
perubahan. Dan itu bisa dimulai dari aku.
Terima
kasih untuk semua yang telah membantuku. Walaupun aku harus menutupi sedikit
identitasku. Tunggu aku kembali lagi, yaa ^^
www.aiehopes.com”
Aku, Dini, dan Aldi termenung
setelah membaca artikel itu. Mas Ayi bukanlah seorang seorang penjual minuman
dingin. Ia seorang mahasiswa pasca sarjana. Dan betapa buruknya penampilan kami
sebagai mahasiswa di mata Mas Ayi selama ini. Aku dan Dini terduduk lesu sambil
memandangi gerobak penjual minuman dingin yang sepi itu.
Tamanlanrea,
Februari 2012
Comments