INSPIRING FILM : THE BILLIONARE
WOW!!!!!!!!!!! Itu adalah kalimat yang saya utarakan setelah menonton film kisah nyata "The Billionare". Satu lagi film dari negeri gajah Thailand yang pantas di acungi jempol. Sederhana namun menjual. Kesederhanaan adalah kunci kesuksesan sebuah karya. Karena di dalam kesederhanaan tidak terdapat unsur berlebih yang tidak disukai Allah SWT.
Film sebenarnya diangkat dari kisah nyata Top Ittipat, pengusaha muda yang membuat keripik rumput laut. Saat film di buat, usia Top adalah 26 tahun. Dan siapa yang percaya bahwa Top mulai merintis karirnya di usia 17 tahun?
Sulit dibayangkan memang jika anak seusia Top lebih memikirkan bagaimana cara untuk berbisnis dan menghasilkan uang sendiri. Tetapi itulah yang terjadi pada Top. Pada usia 16 tahun, Top kecanduan gam online. Tak tanggung-tanggung, semua komputer di dalam rumahnya digunakan untuk game online. Game online ternyata memberikan Top rezeki nomplok yang membuatnya bisa membeli mobil dan memulai bisnis kacang goreng.
Untuk memulai sebuah bisnis tidaklah mudah. Setiap pengusaha sukses di negara manapun pasti pernah jatuh berkali-kali sebelum akhirnya bisa mencapai kesuksesan. Begitupun dengan Top. Banyak uang yang ia keluarkan untuk bisa menjadi seorang pengusaha. Gagal dengan bisnis kacang goreng, Top beralih usaha menjadi penjual keripik rumput laut. Membuat keripik rumput laut tidak semudah membuat kacang goreng. Berkali-kali Top harus menelan pahit kegagalan karena keripik yang dihasilkannya tidak enak dan tidak layak di kkonsumsi. Semua komputernya sudah dijual untuk membeli rumput laut. Bahkan, pamannya yang selalu menemani dan membantunya jatuh pingsan karena terjatuh di dapur.
Namun, jika kita percaya dan selalu berusaha serta tidak pantang menyerah, Allah pasti memberikan kita jalan. Secercah harapan muncul ketika Top sudah kehabisan bahan. Ternyata, kunci agar keripik rumput laut Top enak dan layak konsumsi adalah dengan melembabkannya terlebih dahulu.
Masalah tidak berlalu begitu saja. Top harus memikirkan berbagai cara agar rumput laut yang dihasilkannya tidak mudah basi dan tetap gurih. Top yang tidak kuliah terpaksa mendatangi dosen di salah satu universitas di thailand untuk membantunya menemukan solusi. Solusinya adalah dengan menggunakan mesin khusus pembungkus makanan. Bagi Top yang tidak memiliki pengalaman berbisnis, ilmu yang diberikan dosen tersebut sangatlah penting.
Top kembali berjualan di gerai makanan dan memperoleh banyak pelanggan. Tetapi, bagaimana untuk mengejar target Top? Terlebih lagi saat ia tahu bahwa ayahnya meninggalkan hutang yang banyak di bank. Itulah alasan kepergian mereka ke china. Meskipun Top sudah di bujuk untuk mengikuti mereka dan berkuliah di sana. Namun, jiwa berwirausahanya tidak bisa diganggu.
Petunjuk illahi akan datang untuk mereka yang selalu berusaha. Top di arahkan untuk memasarkan produknya di salah satu perusahaan bernama 7-eleven. Tidak mudah untuk menembus 7-eleven. Top bahkan hampir putus asa saat itu. Takdir itupun datang. Dengan memodifikasi desain pembungkus makanan, Top akhirnya bisa menjual produknya di 7 eleven.
Cemilan rumput laut goreng “Tao Kei Nai” (Pengusaha Muda) berhasil dipasarkan di 3000 cabang 7- eleven. Setelah dua tahun, Top bisa melunasi hutang ayahnya dan kembali menempati rumah keluarganya yang dulu disita. Saat ini (pada saat pembuatan film kira-kira tahun 2011, rumput laut goreng Tao Kei Nai sudah di jual di 27 negara di dunia, memiliki pabrik rumput laut di korea selatan dan berpenghasilan 800juta baht setiap tahun. Hal ini membuat Top menjadi salah satu milliader muda di dunia.
Hikmah apa yang bisa kita ambil? Jangan menyerah dan jangan takut mengambil keputusan. Jika Anda menonton film ini atau membaca kisah Top, bisa dilihat bahwa Top adalah orang yang keras kepala dan berani dalam bertindak. Di sinilah letak rahasia kesuksesannya.
Kisah ini benar-benar menginspirasi saya pribadi yang sebenarnya mulai berpikir untuk menjadi wirausaha. Meskipun film ini sudah tayang setahun yang lalu dan saya baru saja menontonnya namun film ini mampu membuat kita percaya bahwa menjadi wirausaha itu gampang susah-susah.
Selain kisah yang menyentuh akan dan sanubari di atas. Satu lagi yang membuat saya tertarik dengan film ini adalah karena film ini diproduksi oleh thailand, negara tetangga Indonesia yang sama-sama berkembang. Tetapi, kualitas film thailand mampu di akui di kancah internasional. Membuat film-film yang berbobot sepertinya harus dilakukan Indonesia agar tidak semakin ketinggalan.
Jangan patah semangat dengan apapun yang terjadi, jika kita menyerah maka habislah sudah -- TOP

Comments