RABU KELABU



            Jalan yang kulewati ini tampak sepi, hanya sesekali kutemui orang yang terlihat terburu-buru menapaki jalan ini. Aku segera mengerti setelah kulirik jam tanganku yang menunjukan pukul 06.55. Namun tak ada sedikitpun keinginanku untuk berlari ataupun melayang mungkin juga terbang agar segera tiba di tempat tujuan. Mungkin karena mataku yang serasa hendak tertutup akibat telat tidur.
            ”Seharusnya aku naik ojek setelah turun dari bis tadi,“ pikirku.
            Seulas senyum terhias di wajahku yang sedikit pucat ketika mataku yang hendak tertutup melihat gedung yang kutuju ada di depan mata. Perlahan kutapaki jalan masuk menuju gedung sekolah.
            ”Oh ...tidak!!!” ujarku kaget saat melihat gerbang sekolah telah tertutup. ”Hm...banyak jalan menuju Roma” pikirku kemudian. Tanpa pikir panjang segera kulaksanakan niatku. Sekejap aku telah berada di dalam sekolah. ”Hahaha, ternyata aku pandai juga memanjat” pikirku sambil tertawa kecil menatap gerbang  sekolah.
            Ini adalah pertama kalinya aku terlambat, tapi tak sedikitpun kurasakan kesulitan untuk masuk. Di dalam kelas terdengar suara bising pertanda belum ada guru di dalam  kelas.
            ”Cihuii...!!!” sorakku girang. Setelah duduk di sebuah bangku, ku keluarkan buku pelajaran bahasa inggris yang hendak kubaca.
            ”Tumben Ta kamu datangnya telat?” tanya Indar kawan sebangkuku.
            “Aku baru dikimin film horor baru nih! Begadang deh semalaman.” ujarku sambil tersenyum.
            “Seram...???” tanya Indar sambil menundukan kepalanya untuk melihat wajahku yang terhalang oleh rambutku yang jatuh tergerai.
            “Enggak!!! Lucu...” jawabku sambil tertawa kecil. ”Mau pinjam...???” tawarku. Akupun tersenyum setelah Indar mengangguk setuju.
*           *           *
            Di luar kelas langit tampak kusam. ”Mungkin langit bersedih karena aku telat datang hari ini” pikirku sambil tersenyum-senyum sendiri. Aku terus membuka - buka buku yang sebenarnya tidak kubaca. Pikiranku melayang –layang keluar kelas. Betapa terkejutnya aku dan teman- teman bahkan seisi sekolah saat melihat titik-titik putih yang jatuh dari langit.
            ”Salju... Salju...” teriak mereka ketika titik-titik putih itu tiba di bumi. Beberapa murid langsung berlarian menuju lapangan sambil berlarian menyambut kedatangan salju di negeri beriklim tropis ini.
            Aku mengawasi teman-temanku yang  tengah terpukau itu dari sebuah kursi di lapangan meskipun sejak dulu tak pernah ada kursi di tempat itu. Aku membiarkan butiran-butiran salju itu jatuh menerpa tubuhku. Aku begitu menyukai salju-salju itu. Dan akupun memejamkan mata agar lebih menikmati turunnya salju-salju itu. Terasa dingin saat butiran-butiran salju-salju  itu jatuh tepat di wajahku layaknya air hujan. Oleh karena itu aku berkali-kali membersihkan butiran-butiran salju yang seperti air hujan itu dari wajahku.
            Butiran-butiran salju yang jatuh perlahan-lahan di wajahku lama-kelamaan butiran-butiran salju itu semakin cepat menerpa wajahku layaknya cipratan air. Perlahan aku membuka mata yang sejak tadi ku pejamkan. Alangkah kagetnya aku saat ku lihat seorang pria berdiri di hadapanku sambil memegang ember yang berisikan air dan siap di tumpahkan kepada sasarannya.
            Tanpa menunggu satu, dua, tiga “Byuur...” air itu telah mengguyur seluruh tubuhku. ”Brengsek...” geramku dalam hati.
            “Keluar...!!! Sampai jam pelajaran saya berakhir!” bentak pak Dodo, guru Sejarah yang telah mengguyur tubuhku. Saat aku melangkahkan kakiku keluar kelas, aku sempat mendengar omelan-omelan yang keluar dari mulutnya perihal aku yang tertidur saat jam pelajaran tengah berlangsung.
            Dengan perasaan jengkel aku berdiri di tengah lapangan. Langit masih tetap kusam bahkan terlalu kusam pertanda hujan akan turun. Aku mencoba mengingat bentakan pak Dodo tadi “sampai jam pelajaran saya berakhir “. Tampak kengerian terlintas di wajahku yang lugu.Sebentar lagi istirahat dan jam pelajaran pak Dodo masih terus berlanjut setelah istirahat dengan kata lain sampai pulang. ”Huu.......”geramku jengkel.
            Betapa malunya aku ketika bel istirahat berbunyi. Namun aku masih berani melihat sekeliling sekolah untuk mencari sepasang mata. ”Itu Dave!!! Dia begitu gagah” ujarku sambil tersenyum terpukau melihatnya. Disaat-saat seperti ini aku masih sempat mengangkat muka untuk  terpukau olehnya.
            Mimik wajahku yang tadi berhiaskan senyum perlahan berubah saat ku lihat seorang wanita berjalan ke arah Dave. Setelah saling senyam-senyum, mereka kemudian pergi menuju tangga. Walaupun tak terlihat olehku dapat ku pastikan bahwa mereka berpegangan tangan.
            Hatiku hancur melihat semua itu. Tanpa kusadari cairan hangat mengalir turun dari mataku karena sudah tak kuat berada di ujung mataku yang sayup. Akupun tak lagi menghiraukan ratusan pasang mata yang menatapku heran. Aku menangis secara fisik dan batin.
            Langit yang sejak tadi berhuaskan awan-awan hitam pekatpun mulai menjatuhkan titik-titik airnya seolah mereka ikut bersedih akan nasibku hari ini.Aku membiarkan tubuhku basah kuyup lagi. Akupun menangis dan bersedih bersama alam. Hu....hu....hu....” tangisku.
            “Rabu ini begitu kelabu” ujarku dalam hati. Perlahan aku mulai menundukan kepalaku agar rambut indahku menutupi wajahku yang muali kemerahan entah marah ataupun malu. Hujan masih tetap turun seiring hatiku yang sangat sakit. Ditambah lagi tak ada seorang pun yang memperdulikan keadaanku.
            Aku segera menarik perkataanku tadi saat kurasakan seseorang mengangkatku ke pangkuannya dan kemudian membawaku menepi dan terus membawaku pergi. ”Terima kasih Tuhan...” syukurku dalam hati. Ku angkat kepalaku yang sejak tadi tertunduk dan kemudian tersenyum manis pada Dave, orang yang telah menolongku. Namun saking senangnya, saat aku ingin mengucapkan terima kasih, kepalaku terbentur sebuah  tiang yang berada di sepanjang teras bawah gedung sekolah. Aku meringgis kesakitan sambil menutup kedua mataku.
            Saat ku buka kedua mataku, aku masih memegang kepalaku tapi alangkah kagetnya aku karena aku masih berada di lapangan  sekolah yang kini telah dipenuhi murid-murid yang akan meninggalkan sekolah.
            “Sorry...sorry!!! Tadi ada yang nabrak aku dari belakang jadinya ujung payung ini kena kepalakamu” ujar seorang pria di belakangku sambil menunjuk ujung payung yang di pegangnya. Aku menatap Dave, pria itu, dengan heran dan bingung.
            “Oh ya, ini payung dan tas kamu!!!” lanjut Dave sambil menyerahkan payung dan tas aku. Aku menerima kedua benda itu dengan linglung.
            “Indar yang minta tolong ke aku. Dia lagi bantuin Bu Henny. Terus, kata dia kamu pulang duluan aja, nggak usah nunggu dia” lanjut Dave panjang lebar. Aku mendengarkannya dengan penuh kebingungan.
            “Ya udah Ta,, Aku pulang duluan yah!!!” pamit Dave sambil tersenyum.
            “Eh..iya..” jawabku bingung. Dave melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Tapi karena panggilanku dia pun menoleh.
            “Dave!!! Eh...makasih yah!!!” ujarku sambil tersenyum manis. Dave membalas senyumanku kemudian beranjak melanjutkan langkahnya.
            Aku menatap kepergiannya dengan tegak kebingungan dan berlinangan air mata. Hujan yang semakin hebat berjatuhan ke bumi membuatku ingin terus menangis. Payung yang tadinya ku pegang erat agar melindungi kepalaku dari air-air hujan itu perlahan kujatuhkan ke tanah.
            ”Semoga takkan terulang kembali” ujarku seraya menundukan kepaku menatap nasibku hari ini. Semua yang berawal hanya karena telat tidur berakhir menjadi hari yang kelabu.


Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y