Saku Kenangan
Ini tentang XJ - EXTRA JOMBLO SESAAD
Masa muda adalah tempat dimana kita mengukir semua kenangan untuk hari kemudian. Kenangan tidak harus merupakan segala yang bahagia. Sedih, marah, duka dan kecewa adalah bagian dari kenangan yang mampu menjadi pelajaran bagi kita untuk masa depan. Namun, kenangan yang penuh canda tawa dan rasa bahagia adalah kenangan yang selalu ingin diraih oleh setiap dari kita.
Masa-masa itu bisa dimulai dari saat kita belajar beradaptasi pertama kali di dunia ini. Wajah-wajah mungil yang tak berdosa memberikan kenangan bahagia untuk orang-orang disekeliling kita. Keluarga. Family atau Father and Mother I Love You adalah pemilik kenangan ini. Betapa bahagianya mereka memiliki kita (malaikat kecil mereka). Kenangan terus akan di ukir, hingga di usia sekolah.
Kenangan itu aku berikan untuk mereka yang telah menemaniku di tempat menuntut ilmu. Guru adalah faktor terpenting yang patut kita hormati dan selalu kita kenang. Merekalah pengajar yang berhasil membuat kita mengerti huruf dan angka. Thanks to my teacher J
Lalu, sahabat adalah mereka yang memberikan semangat secara tidak langsung. Semangat untuk datang ke sekolah. Semangat untuk mengerjakan tugas sekolah. Semangat untuk menjalani proses selama dua belas tahun penuh. Karena mereka ada, sekolah bagaikan rumah kedua yang indah. Iya kan??
Aku mengenal mereka enam tahun silam. Secara kebetulan. Tanpa ketersengajaan sama sekali. Berasal dari sekolah dasar yang berbeda tidak membuat kita tak bisa bersatu. Dua tahun di sekolah menengah pertama (SMPN 3 Jayapura) memang tidak langsung membuat kita mengatakan bahwa kita adalah sahabat. Semua terjadi begitu saja. Entah apa yang mendahului. Kami sudah membentuk sebuah kelompok bernama XJ – Extra Jomblo Sesaat. Haha~ masa ababil memang tidak jauh dari kata “genk-genk” atau “kelompok-kelompok kecil”. Tetapi, kami menikmati itu. Entah persamaan apa yang kita miliki sehingga kita bisa membuat kelompok seperti itu.
Seperti asal usul sebuah organisasi, persamaan tujuan adalah yang membuat organisasi itu berdiri. Tahukah apa yang membuat kita bersama? Aku sedikit tidak mengerti saat itu, tetapi sepertinya karena ikrar tidak ingin memiliki ‘pacar’ dulu hingga waktu yang tidak ditentukan. Atau apa?? *lupa* Tidak jauh dari nama ‘genk’ kita bukan?
Hmm... saat melanjutkan SMA di sekolah yang berbeda pun kami masih tetap bersama. Tetap berlima. Meskipun intensitas pertemuan yang sudah jarang karena kesibukan masing-masing. Kami bahkan sudah melupakan inti dari nama ‘genk’ kami. Yang penting adalah kebersamaan yang terus terjaga.
Anggi yang sibuk dengan kegiatan kerohanian islam, Panni yang sibuk dengan remaja gereja, Mega yang sibuk dengan PMR-nya, Fara yang sibuk dengan bimbingan belajarnya, dan saya yang sibuk dengan... apa yaaa??
Ah, kesibukan itu tidak akan pernah sebanding dengan kenangan-kenangan lucu, bahagia dan sedih yang pernah kita ukir di masa ababil dulu. SMPN 3 adalah saksinya. Bagaimana kita berlima menangis sedih di belakang laboratorium karena kesalahan yang sebenarnya saya lupa karena apa tetapi saya ingat banget kita nangis sambil minta2 maaf. Lalu, saat kita menjadi panitia natal dan halal bi halal, namun kita hanya di tempatkan di seksi konsumsi. Haha. Saat kita belum terlalu saling mengenal, saat Anggi masih menjadi anak baru, saat Mega dan Fara hanya berdua, saat itu kita bersaing. Entah menyaingi apa. Hanya saja persaingan itu yang membuat kita menjadi bersama.
Gedung-gedung SMP 3 menjadi saksi keluguan kita dengan percaya kisah yang ditulis Anggi di bukunya tentang ‘penghuni sekolah’.
Bagaimana kita berempat berusaha memberikan kenangan indah secara sembunyi2 karena kabar burung yang mengatakan bahwa Anggi akan pindah sekolah.
Bagaimana kita mengumpulkan dolar (recehan) untuk menutupi kekurangan biaya warnet.
Dari semua itu, kenangan ‘bodoh’ yang pernah kita ciptakan adalah bagaimana kita menjadi pengejar seorang pria yang namanya pun kita tak tahu. Mulai dari Saga Mall Abepura hingga Lapangan Mandala.
Dan yang terbodoh adalah menunggu ‘idola’ (hueeekkks) kita pulang di samping masjid Nurul Iman. Siapa sangka ya, orang itu ternyata kini menjadi fans salah satu dari kita.
Memori kita seolah tidak akan pernah penuh. Tidak seperti handphone ataupun laptop. Memory di kepala kita akan terus ada, tanpa batas. Semoga kenangan ini akan terus ada dan tercipta di antara kita berlima hingga nenek-nenek. Kalaupun sudah tak mampu lagi untuk di kenang, mungkin tulisan ini bisa menjadi pembangkit kenangan tersebut.
Sekarang kita sudah berada di kota yang berbeda. Rasa rindu akan masa lalulah yang membuatku menulis cerita ini. Tentu saja banyak kekurangan dalam tulisan ini karena hanya menghadirkan kenangan dari memoriku saja.
Ah~ Jayapura memang kota kenangan. Semoga kita bisa bertemu berlima di sana lagi. Setahun lagi atau mungkin bertahun-tahun lagi? Semoga Tuhan masih memberikan kita umur yang panjang.
Mari melipat masa lalu ke dalam saku kenangan, semoga kelak akan menjadi bagian yang mempertemukan kita kembali, guys :))



Comments