Menyingkap Jubah Dracula
Oleh: Thomas Utomo
Selama ini, Dracula banyak dikenal sebagai tokoh fiktif berwujud vampir haus darah ciptaan Bram Stoker. Padahal sejatinya, Dracula adalah tokoh nyata yang sejarah hidupnya dipenuhi gelimpangan mayat, anyir darah, dan banjir air mata.
Kisah hidup Dracula tidak bisa dipisahkan dari Perang Salib; perang kolosal antara umat Islam dengan umat Kristen era abad pertengahan. Selama Perang Salib, setidaknya Dracula telah membunuh 300.000 orang. Korban-korannya yang mayoritas beragama Islam, dibunuh dengan cara yang amat keji, yaitu tubuh korban disula (ditusuk) dengan batang kayu yang ujungnya dilancipkan. Korban ditusuk dari bagian bawah hingga tembus ke perut atau kepala.
Sayangnya, selama ini kekejian Dracula ditutup rapat-rapat oleh cendekiawan Barat. Sosok, sejarah, dan kekejiannya dikaburkan, sehingga banyak orang yang tak mengetahui fakta sebenarnya. Kemudian dimunculkan mitos bahwa Dracula adalah vampir yang gemar menghisap darah manusia demi kelangsungan “hidupnya”. Orang yang telah digigit Dracula, pada lehernya akan ditemukan dua buah titik yang berjajar. Kedua titik tersebut adalah bekas gigi taring Dracula yang menancap di leher korban, saat Dracula menghisap darahnya. Orang yang telah digigit Dracula, pasti mati. Kemudian menjadi vampir. Karena itu, korban harus diambil jantung dan dipenggal kepalanya, agar tidak menjadi vampir. Korban Dracula harus pula dikalungi salib dan bawang putih yang dironce, saat dimakamkan. Sebab Dracula sangat takut terhadap dua benda tersebut. Dan Dracula tidak akan berani mendatangi makam korbannya untuk mengubah si korban menjadi vampir.
Dracula bergentayangan hanya saat malam hari. Kedatangannya sulit diketahui, karena dia selalu mengubah tubuhnya menjadi anjing, serigala, atau kelelawar. Aksi Dracula semakin mengganas, saat purnama tiba. Dracula yang sering disosokkan sebagai pria muda tampan nan perlente, tinggal di sebuah peti mati yang terletak dalam puri tua pinggir hutan. Dia akan mati sejenak pada siang hari, tapi mendadak hidup kembali saat malam tiba. Dracula hidup abadi. Dia tidak akan mati, kecuali dibunuh dengan cara ditembak peluru emas atau dipantekkan salib ke dadanya sambil dibacakan ayat-ayat Bibel.
Demikianlah, kurang lebih mitos yang berkembang seputar Dracula. Mitos tersebut pertama kali muncul di kalangan petani di Rumania. Mitos ini diceritakan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Mitos tentang Dracula semakin popular, setelah novelis kondang bernama Bram Stoker membuat novel tentang Dracula (terjemaan novel ini sudah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama). Sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula's Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922) dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi, sehingga semakin menguatlah opini bahwa Dracula hanya tokoh fiktif yang populer dari masa ke masa. Sosok asli Dracula benar-benar tenggelam dalam samudra kealpaan.
Sejatinya, Dracula (1431-1476 M) alias Count Dracula alias Vlad Tepes bukan berasal dari bangsa jin, lelembut, lampor, atau sejenisnya. Dia manusia biasa--seperti halnya kita--yang lahir dari rahim seorang wanita. Dia yang lahir di Transylvania, Rumania adalah keturunan bangsawan. Dia lahir saat Perang Salib tengah bergolak.
Dracula harus berpisah dengan keluarganya saat ayah Dracula yang seorang panglima perang dari kubu Salib, menyerahkan Dracula pada Turki (kubu Islam) sebagai tawanan politik. Saat itu, pasukan ayah Dracula kalah melawan Turki. Mau tak mau, ayah Dracula harus tunduk pada Turki. Dan sebagai bentuk ketundukan, dia menyerahkan Dracula sebagai jaminan bahwa dia dan pasukannya tidak akan memberontak.
Meskipun berstatus tawanan politik, Dracula diperlakukan dengan baik oleh Turki. Dia diizinkan melenggang bebas menyusuri jalan-jalan di Turki. Dan untuk memperingan langkahnya, Dracula memutuskan masuk agama Islam. Pihak Turki menyambut baik keputusan tersebut.
Akan tetapi, seperti kata pepatah: dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Rupanya, Dracula “rela” berganti agama semata demi tujuan politik. Dengan memeluk Islam, maka Dracula bisa diterima lebih baik lagi oleh umat Islam dan bisa belajar banyak ilmu di Turki. Dracula sangat bernafsu menjadi orang yang cakap dalam berbagai disiplin ilmu, karena dia berharap dengan ilmunya, kelak dia mampu membalas sakit hatinya pada Turki yang telah menawannya dan ayahnya yang telah membuangnya.
Di Turki, Dracula sering menonton para penjahat perang yang dihukum mati dengan cara dipancung. Dia sangat menikmati jerit sekarat para penjahat dan muncratan darah akibat tebasan algojo. Menyaksikan tontonan tersebut, muncullah naluri jahat Dracula yang makin lama kian beranak pinak.
Selain hobi menonton eksekusi mati para penjahat, Dracula juga gemar mengunjungi rumah bordil yang ada di pelosok kota.
Selang beberapa tahun, ayah Dracula mati dibunuh--maka lenyaplah kesempatan Dracula buat membalas dendam. Saat itu, Wallacia--tempat keluarga Dracula bermukim sekaligus wilayah kekuasaan Turki--berhasil direbut Kerajaan Hongaria. Turki menitahkan para prajurit--termasuk Dracula yang juga sudah menjadi prajurit Turki--untuk merebut kembali Wallacia.
Setelah melalui peperangan yang sengit, Dracula dan kawan-kawan berhasil merebut kembali wilayah Wallacia. Dan dengan segala tipu daya, beberapa tahun kemudian Dracula bisa melepaskan Wallacia dari cengkeraman Turki dan dia pun naik ke tampuk kekuasaan tertinggi.
Dracula menjalankan roda pemerintahan dengan penuh kekejaman. Bisa dikatakan pemerintahannya adalah pemerintahan teror. Ratusan ribu orang tewas selama pemerintahan Dracula. Mayoritas penduduk Wallacia tewas dengan tuduhan subversif. Dracula juga membunuhi umat Islam. Dari sekitar 300.000 korban Dracula, mayoritasnya adalah beragama Islam.
Dia membunuhi umat Islam saat menyerang negara-negara Islam yang berada di bawah kekuasaan Turki. Cara Dracula membunuh, sungguh keji, di antaranya dengan menyula, membakar, meracun, dan merebus para korban. Mereka dibunuh hanya karena menganut agama Islam.
Hypatia Cneajna, penulis buku Dracula; Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib, memaparkan kegiatan penyulaan oleh Dracula sebagai berikut, “Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”
Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”
Kekejian Dracula berakhir saat Turki kembali menyerang Pasukan Salib. Sebagai panglima Perang salib, Dracula kembali turun ke medan juang. Saat itulah, dia mati ditebas lehernya oleh pasukan Turki. Mayatnya kemudian dikebumikan di pelataran gereja Snagov.
Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.
Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat--khususnya umat Islam sendiri--yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.
Seperti yang telah diketahui umum bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, yaitu bawang putih dan salib. Konon hanya dengan kedua benda tersebut Dracula bisa dikalahkan. Padahal, pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka, yaitu pahlawan dari pihak Islam dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.
Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain adalah Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Pasukan beliaulah yang telah mengalahkan Dracula di tepi Danau Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dipungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
Sungguh, dibutuhkan upaya gigih dari umat Islam untuk menyingkap kebohongan tentang Dracula, sehingga kebenaran yang ditutup-tutupi bisa terkuak lebar, karena suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan lain seperti penjajahan politik, ekonomi, dan budaya.
Referensi: Dracula; Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib/
Hyphatia Cneajna/Navilla Idea
Selama ini, Dracula banyak dikenal sebagai tokoh fiktif berwujud vampir haus darah ciptaan Bram Stoker. Padahal sejatinya, Dracula adalah tokoh nyata yang sejarah hidupnya dipenuhi gelimpangan mayat, anyir darah, dan banjir air mata.
Kisah hidup Dracula tidak bisa dipisahkan dari Perang Salib; perang kolosal antara umat Islam dengan umat Kristen era abad pertengahan. Selama Perang Salib, setidaknya Dracula telah membunuh 300.000 orang. Korban-korannya yang mayoritas beragama Islam, dibunuh dengan cara yang amat keji, yaitu tubuh korban disula (ditusuk) dengan batang kayu yang ujungnya dilancipkan. Korban ditusuk dari bagian bawah hingga tembus ke perut atau kepala.
Sayangnya, selama ini kekejian Dracula ditutup rapat-rapat oleh cendekiawan Barat. Sosok, sejarah, dan kekejiannya dikaburkan, sehingga banyak orang yang tak mengetahui fakta sebenarnya. Kemudian dimunculkan mitos bahwa Dracula adalah vampir yang gemar menghisap darah manusia demi kelangsungan “hidupnya”. Orang yang telah digigit Dracula, pada lehernya akan ditemukan dua buah titik yang berjajar. Kedua titik tersebut adalah bekas gigi taring Dracula yang menancap di leher korban, saat Dracula menghisap darahnya. Orang yang telah digigit Dracula, pasti mati. Kemudian menjadi vampir. Karena itu, korban harus diambil jantung dan dipenggal kepalanya, agar tidak menjadi vampir. Korban Dracula harus pula dikalungi salib dan bawang putih yang dironce, saat dimakamkan. Sebab Dracula sangat takut terhadap dua benda tersebut. Dan Dracula tidak akan berani mendatangi makam korbannya untuk mengubah si korban menjadi vampir.
Dracula bergentayangan hanya saat malam hari. Kedatangannya sulit diketahui, karena dia selalu mengubah tubuhnya menjadi anjing, serigala, atau kelelawar. Aksi Dracula semakin mengganas, saat purnama tiba. Dracula yang sering disosokkan sebagai pria muda tampan nan perlente, tinggal di sebuah peti mati yang terletak dalam puri tua pinggir hutan. Dia akan mati sejenak pada siang hari, tapi mendadak hidup kembali saat malam tiba. Dracula hidup abadi. Dia tidak akan mati, kecuali dibunuh dengan cara ditembak peluru emas atau dipantekkan salib ke dadanya sambil dibacakan ayat-ayat Bibel.
Demikianlah, kurang lebih mitos yang berkembang seputar Dracula. Mitos tersebut pertama kali muncul di kalangan petani di Rumania. Mitos ini diceritakan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi. Mitos tentang Dracula semakin popular, setelah novelis kondang bernama Bram Stoker membuat novel tentang Dracula (terjemaan novel ini sudah diterbitkan Gramedia Pustaka Utama). Sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula's Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922) dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi, sehingga semakin menguatlah opini bahwa Dracula hanya tokoh fiktif yang populer dari masa ke masa. Sosok asli Dracula benar-benar tenggelam dalam samudra kealpaan.
Sejatinya, Dracula (1431-1476 M) alias Count Dracula alias Vlad Tepes bukan berasal dari bangsa jin, lelembut, lampor, atau sejenisnya. Dia manusia biasa--seperti halnya kita--yang lahir dari rahim seorang wanita. Dia yang lahir di Transylvania, Rumania adalah keturunan bangsawan. Dia lahir saat Perang Salib tengah bergolak.
Dracula harus berpisah dengan keluarganya saat ayah Dracula yang seorang panglima perang dari kubu Salib, menyerahkan Dracula pada Turki (kubu Islam) sebagai tawanan politik. Saat itu, pasukan ayah Dracula kalah melawan Turki. Mau tak mau, ayah Dracula harus tunduk pada Turki. Dan sebagai bentuk ketundukan, dia menyerahkan Dracula sebagai jaminan bahwa dia dan pasukannya tidak akan memberontak.
Meskipun berstatus tawanan politik, Dracula diperlakukan dengan baik oleh Turki. Dia diizinkan melenggang bebas menyusuri jalan-jalan di Turki. Dan untuk memperingan langkahnya, Dracula memutuskan masuk agama Islam. Pihak Turki menyambut baik keputusan tersebut.
Akan tetapi, seperti kata pepatah: dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Rupanya, Dracula “rela” berganti agama semata demi tujuan politik. Dengan memeluk Islam, maka Dracula bisa diterima lebih baik lagi oleh umat Islam dan bisa belajar banyak ilmu di Turki. Dracula sangat bernafsu menjadi orang yang cakap dalam berbagai disiplin ilmu, karena dia berharap dengan ilmunya, kelak dia mampu membalas sakit hatinya pada Turki yang telah menawannya dan ayahnya yang telah membuangnya.
Di Turki, Dracula sering menonton para penjahat perang yang dihukum mati dengan cara dipancung. Dia sangat menikmati jerit sekarat para penjahat dan muncratan darah akibat tebasan algojo. Menyaksikan tontonan tersebut, muncullah naluri jahat Dracula yang makin lama kian beranak pinak.
Selain hobi menonton eksekusi mati para penjahat, Dracula juga gemar mengunjungi rumah bordil yang ada di pelosok kota.
Selang beberapa tahun, ayah Dracula mati dibunuh--maka lenyaplah kesempatan Dracula buat membalas dendam. Saat itu, Wallacia--tempat keluarga Dracula bermukim sekaligus wilayah kekuasaan Turki--berhasil direbut Kerajaan Hongaria. Turki menitahkan para prajurit--termasuk Dracula yang juga sudah menjadi prajurit Turki--untuk merebut kembali Wallacia.
Setelah melalui peperangan yang sengit, Dracula dan kawan-kawan berhasil merebut kembali wilayah Wallacia. Dan dengan segala tipu daya, beberapa tahun kemudian Dracula bisa melepaskan Wallacia dari cengkeraman Turki dan dia pun naik ke tampuk kekuasaan tertinggi.
Dracula menjalankan roda pemerintahan dengan penuh kekejaman. Bisa dikatakan pemerintahannya adalah pemerintahan teror. Ratusan ribu orang tewas selama pemerintahan Dracula. Mayoritas penduduk Wallacia tewas dengan tuduhan subversif. Dracula juga membunuhi umat Islam. Dari sekitar 300.000 korban Dracula, mayoritasnya adalah beragama Islam.
Dia membunuhi umat Islam saat menyerang negara-negara Islam yang berada di bawah kekuasaan Turki. Cara Dracula membunuh, sungguh keji, di antaranya dengan menyula, membakar, meracun, dan merebus para korban. Mereka dibunuh hanya karena menganut agama Islam.
Hypatia Cneajna, penulis buku Dracula; Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib, memaparkan kegiatan penyulaan oleh Dracula sebagai berikut, “Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatakan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”
Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:
“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”
Kekejian Dracula berakhir saat Turki kembali menyerang Pasukan Salib. Sebagai panglima Perang salib, Dracula kembali turun ke medan juang. Saat itulah, dia mati ditebas lehernya oleh pasukan Turki. Mayatnya kemudian dikebumikan di pelataran gereja Snagov.
Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.
Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat--khususnya umat Islam sendiri--yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.
Seperti yang telah diketahui umum bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, yaitu bawang putih dan salib. Konon hanya dengan kedua benda tersebut Dracula bisa dikalahkan. Padahal, pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka, yaitu pahlawan dari pihak Islam dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.
Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain adalah Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Pasukan beliaulah yang telah mengalahkan Dracula di tepi Danau Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dipungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
Sungguh, dibutuhkan upaya gigih dari umat Islam untuk menyingkap kebohongan tentang Dracula, sehingga kebenaran yang ditutup-tutupi bisa terkuak lebar, karena suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan lain seperti penjajahan politik, ekonomi, dan budaya.
Referensi: Dracula; Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib/
Hyphatia Cneajna/Navilla Idea
sumber : annida-online

Comments