Perjalanan mata, hari dan hati...
Sebenarnya saya nggak ngerti nih
sama mata, hari dan hatinya. Tapi, yang bisa saya tangkep dari novel karya
Adenita ini adalah bagaimana kita mencintai apa yang ada sama kita (bersyukur)
dan menularkan rasa cinta pada orang lain. Tularkan kebaikan yang bisa kamu
beri sama orang lain, dan rasakan kebahagiaan sebenarnya di sini (hati).
Jalan-jalan ke gramedia setelah
beberapa bulan puasa buku (maklum lagi kering kantong), mata saya langsung
diperlihatkan sama sampul kuning dengan judul buku yang tulisannya gede. Saya
nggak tertarik awalnya. Karena tujuan saya ke gramed adalah menebus impian saya
yang kesita. Membeli buku karya stephanie zen yang judulnya Perhaps You. Sudah
dari tahun 2011 saya pengen banget baca buku ini. Tapi dari semua temen nggak
ada yang punya. Mau beli tapi masih lebih butuh buku yang lain. Nah, hari itu
adalah hari dimana saya harus beli buku itu!
Eh, mata saya lagi-lagi ngelihat
deretan buku yang sampulnya kuning dan judulnya tulisannya gede-gede. Mumpung
lagi nunggu teman, saya iseng nyari yang kebuka dan mulai baca. Episentrum, batin saya baca. Nih yang titik gempa bukan sih? Pikir saya
sejenak. Dibuka, dibuka, dibaca, dilihat, dirasakan, dipahami.
Wah! Buku keren nih. Motivasi isinya
nih! Saya lirik kearah yang masih terbungkus plastik dengan rapi. Niat mau
beli. Tapi, kok tebel yang ini? Yang ini enggak? Ternyata, bukunya ada dua.
Yang satu sebuah fiksi tentang perjalanan mata, hati dan hari tiga pemuda. Dan
yang satunya lagi adalah 23 kisah nyata perjalanan mata, hati dan hati.
Jadinya beli deh saya itu buku.
Kenapa?? Karena saya sempat ngebaca sekilas tentang “buku hijau” dan strategi
keuangan! Saya lagi butuh banget untuk membuat saya bisa hemat tapi nggak
membuat saya kelaparan tentunya. Maklum mahasiswa!
Di rumah, saya langsung baca tuh
buku buku kuning. Dan, komentar saya. BAGUS BANGET!! Layak dimasukkan dalam
kumpulan buku-buku bagus. Ya, hitung-hitung duit saya nggak sia-sia buat beli
nih buku. Banyak motivasi yang di dalamnya.
Saya tersentuh banget sama kisah
Tari yang kuliahnya dari ngutang sama temen-temen. Walau kedepannya jadi nggak
masuk akal karena kebanyakan temannya malah lupa kalau pernah minjemin
duit sama Tari. Kalau seratus dua ratus
ribu sih, saya masih wajar. Ini main jutaan, man. Kaya-kaya donk temen si Tari
di kampus. Hehehe...
Kalau kisah si Awan saya nggak
terlalu terima. Memang sih, penulis yang sukses itu kebanyakan dari mereka yang
fokus sama dunia kepenulisan bukan dari mereka yang nulis di waktu-waktu
senggang aja karena dijadikan hobi atau pekerjaan sampingan. Jadi, suksesnya
juga Cuma sampingan doang. Heheh...
Saya ngerasa saya berada di posisi
yang sama dengan si Awan saat ini. Saya suka banget sama dunia kepenulisan tapi
saya malah terjebak di dunia yang nggak membutuhkan bakat saya. Sama lah kayak
di Awan yang kuliah di matematika. Matematika kan ngomongin yang pasti-pasti,
jurusan saya sekarang juga gitu. Nggak jauh-jauhlah dari angka. Dan, kesukaan saya
dalam menulis nyaris nggak dibutuhkan disini. Alhasil, saya menyalurkannya
sebagai hobi dikala saya lagi punya waktu buat nulis. Saya berusaha menyukai
bidang saya sekarang karena saya toh masih bisa nulis. Dan alhamdulilah
tulisan-tulisan saya juga mulai bermunculan di media cetak. Karena saya nggak
mau kayak awan nantinya yang setengah hati menekuni bidang pekerjaannya. Saya
walaupun nggak jadi penulis seutuhnya, saya akan tetap nulis tapi dengan
menekuni bidang saya sekarang.
Kalau si Prama. Wah, masalah dia itu
Cuma di kesepian doank. Semakin deketin diri sama Tuhan aja, Insya Allah hati
tenang dan bahagia. Hheh. Banyak banget cerita orang kayak dia. Tampan, cerdas,
kayak tapi kesepian. Bukti bahwa duit nggak membawa kebahagiaan.
Banyak quote-quote keren di dalam
buku ini. Tapi, yang paling saya suka, “Ternyata
begitu besar kesenjangan impian yang ada ketika masih di bangku kuliah dengan
kehidupan nyata”. Kalimat tersebut memberi sebuah keyakinan dalam hati saya
bahwa hanya segelintir orang yang tetap bisa berjalan sesuai dengan yang di
impikannya. Saya yakin banget, impian saya emang bagus tapi jalan yang telah
dituliskan Allah SWT nanti sama saya jauh lebih baik. Ini semacam penenangan
diri kalau misalnya cita-cita saya nggak kecapai. Yang penting, usaha dulu lah.
Ada juga quote bagus kurang lebih
seperti ini “Seni mendengar adalah seni
yang lebih sulit daripada seni berbicara. Karena dengan mendengarkan kita bisa
memahami orang lain dan orang lain merasa dihargai”. Berbicara itu sangat
mudah, namun banyak orang yang hanya berbicara tanpa mau mendengarkan orang
lain (egois). Maka, sudahkan anda mendengar suara orang lain hari ini?

Comments