Detik-detik ke Tahun Baru
Pentingnya status bagi masyarakat modern. Aduh, saya tuh sering heran sama diriku sendiri. Kayaknya ada yang salah di kepalaku pasca terpeleset di kamar mandi yang menyebabkan saya pingsan selama lima jam. Saya nggak terlalu tertarik dengan masalah status-status dan sejenisnya. Tapi bukan alasan saya masih tetap sendiri ya, hihi.
Barusan temen saya curhat tentang pacarnya yang masih demen aja jalanin hubungan tanpa status sama dia. Padahal temen saya ini pengen banget dinaikkan statusnya menjadi lebih jelas. Jadian. Pacaran. Bahagiaan. Emang sih siapa yang nggak akan seneng coba kalau hubungan mereka selama ini menjadi jelas di mata dunia. Pacaran. Uih...
Tapi, buat saya menuntut status yang hanya naik tingkat sampai level pacaran itu nggak terlalu penting. Kenapa? Kekhawatiran teman aku ini beda. Dia pengen menjadi jelas hubungannya dengan si doi. Biar nggak ada yang berani mengganggu di doi ini jelasnya. Alhasil, saya nasehatin dia berdasarkan refernsi novel-novel romansa tentang cinta.
Jawaban saya gini, "Kalau kamu nuntut kejelasan hanya karena kamu takut dia ninggalin kamu sebab nggak punya ikatan yang jelas. Lha, emang pacaran itu ikatannya jelas? Orang yang udah nikah aja masih bisa cerai apalagi pacaran? Sist, kalau dia nggak mau naikin status menjadi pacaran yang kamu inginkan berarti ketulusan dia mesti kamu pertanyakan. Benar tidak dia 'cinta' sama kamu? Wong disuruh jadian aja dia nggak mau. Tapi, mungkin dia juga punya alasan yang lain. Misalnya, saat ini dia tidak mau pacaran sama kamu karena dia ingin langsung meminangmu. Menjadikanmu yang terakhir dan selamanya sehingga kamu tidak perlu khawatir lagi akan ketulusan cintanya. Kalau misalnya kamu dilamar dia beneran nanti, mau tak??"
Saya sengaja mengatakan hal yang menyedihkan dulu baru membawanya terbang ke langit kebahagiaan. Kenapa? Karena semua yang terakhir itu akan selalu di kenang. Walaupun kita membuat kesan pertama yang buruk, tetapi jika kita mengakhirinya dengan hal-hal yang jauh lebih baik maka Insya Allah itu akan selalu dikenang, bahkan bisa menjadi pahala.
Teman saya itu diam kemudian menjawab pelan, "Saya masih mau kuliah loh. Dia juga masih mau kuliah. Kalau gitu alasannya pasti yang kedua ya."
Eheh.. Saya jadi bingung sendiri nih jadinya. Berharap dia bakal ngerti malah dia jadi tambah galau. Saya juga sih yang salah karena menyinggung masalah pernikahan jelas mereka belum siap. Saya aja belum. Tapi, menurut saya itulah status yang sejelas-jelasnya dan diterima di dunia secara resmi. Kan di KTP mu yang di isi di kolom status bukan single dan in a relationship tapi kawin dan belum kawin. Kan??
Lalu kenapa kita mesti pusing memikirkan status kita? Semua karena pandangan dunia, menganggap bahwa pacaran itu status yang jelas dan penting *bagi kaum ababil*. Kalau yang udah dewasa jangan deh pacaran-pacaran lagi kayak ABG aja, mending langsung nikah. Kayak temen saya yang menjelang dewasa, untuk apa pusingin status pacaran, mending kejar dia dengan ijab kabul biar halal. Iya kan??
Lagian menurut saya pacaran itu hanya mendekatkan kita pada kemaksiatan. Mungkin banyak yang menolak pendapat itu, itu karena mereka tidak mengerti ungkapan "Jangan hanya karna kamu tidak melihat belum berarti itu tidak ada."
Banyak. Banyak sekali remaja-remaja yang harus mengendong bayi di usia muda, banyak yang bahkan telah membunuh cabang bayi di dalam perutnya. Tidak masalah sih jika mereka menggendong bayi asal dalam keadaan pantas. Sekolah beres, suami beres. Jangan sekolah nggak beres dan suami juga nggak tahu ada dimana. Karena itu, tuntutan status. Sekarang anak SD aja sudah tahu loh pacar-pacaran. Ditambah dengan akses informasi yang cepat dan tanpa pantauan menjadi momok mengerikan bagi generasi kita.
Hidup ini pilihan. Jadi, kita bisa memilih manapun yang kalian mau. Jalan lurus atau jalan yang bengkok-bengkok sedikit atau bahkan jalan yang muter banget. :D
Barusan temen saya curhat tentang pacarnya yang masih demen aja jalanin hubungan tanpa status sama dia. Padahal temen saya ini pengen banget dinaikkan statusnya menjadi lebih jelas. Jadian. Pacaran. Bahagiaan. Emang sih siapa yang nggak akan seneng coba kalau hubungan mereka selama ini menjadi jelas di mata dunia. Pacaran. Uih...
Tapi, buat saya menuntut status yang hanya naik tingkat sampai level pacaran itu nggak terlalu penting. Kenapa? Kekhawatiran teman aku ini beda. Dia pengen menjadi jelas hubungannya dengan si doi. Biar nggak ada yang berani mengganggu di doi ini jelasnya. Alhasil, saya nasehatin dia berdasarkan refernsi novel-novel romansa tentang cinta.
Jawaban saya gini, "Kalau kamu nuntut kejelasan hanya karena kamu takut dia ninggalin kamu sebab nggak punya ikatan yang jelas. Lha, emang pacaran itu ikatannya jelas? Orang yang udah nikah aja masih bisa cerai apalagi pacaran? Sist, kalau dia nggak mau naikin status menjadi pacaran yang kamu inginkan berarti ketulusan dia mesti kamu pertanyakan. Benar tidak dia 'cinta' sama kamu? Wong disuruh jadian aja dia nggak mau. Tapi, mungkin dia juga punya alasan yang lain. Misalnya, saat ini dia tidak mau pacaran sama kamu karena dia ingin langsung meminangmu. Menjadikanmu yang terakhir dan selamanya sehingga kamu tidak perlu khawatir lagi akan ketulusan cintanya. Kalau misalnya kamu dilamar dia beneran nanti, mau tak??"
Saya sengaja mengatakan hal yang menyedihkan dulu baru membawanya terbang ke langit kebahagiaan. Kenapa? Karena semua yang terakhir itu akan selalu di kenang. Walaupun kita membuat kesan pertama yang buruk, tetapi jika kita mengakhirinya dengan hal-hal yang jauh lebih baik maka Insya Allah itu akan selalu dikenang, bahkan bisa menjadi pahala.
Teman saya itu diam kemudian menjawab pelan, "Saya masih mau kuliah loh. Dia juga masih mau kuliah. Kalau gitu alasannya pasti yang kedua ya."
Eheh.. Saya jadi bingung sendiri nih jadinya. Berharap dia bakal ngerti malah dia jadi tambah galau. Saya juga sih yang salah karena menyinggung masalah pernikahan jelas mereka belum siap. Saya aja belum. Tapi, menurut saya itulah status yang sejelas-jelasnya dan diterima di dunia secara resmi. Kan di KTP mu yang di isi di kolom status bukan single dan in a relationship tapi kawin dan belum kawin. Kan??
Lalu kenapa kita mesti pusing memikirkan status kita? Semua karena pandangan dunia, menganggap bahwa pacaran itu status yang jelas dan penting *bagi kaum ababil*. Kalau yang udah dewasa jangan deh pacaran-pacaran lagi kayak ABG aja, mending langsung nikah. Kayak temen saya yang menjelang dewasa, untuk apa pusingin status pacaran, mending kejar dia dengan ijab kabul biar halal. Iya kan??
Lagian menurut saya pacaran itu hanya mendekatkan kita pada kemaksiatan. Mungkin banyak yang menolak pendapat itu, itu karena mereka tidak mengerti ungkapan "Jangan hanya karna kamu tidak melihat belum berarti itu tidak ada."
Banyak. Banyak sekali remaja-remaja yang harus mengendong bayi di usia muda, banyak yang bahkan telah membunuh cabang bayi di dalam perutnya. Tidak masalah sih jika mereka menggendong bayi asal dalam keadaan pantas. Sekolah beres, suami beres. Jangan sekolah nggak beres dan suami juga nggak tahu ada dimana. Karena itu, tuntutan status. Sekarang anak SD aja sudah tahu loh pacar-pacaran. Ditambah dengan akses informasi yang cepat dan tanpa pantauan menjadi momok mengerikan bagi generasi kita.
Hidup ini pilihan. Jadi, kita bisa memilih manapun yang kalian mau. Jalan lurus atau jalan yang bengkok-bengkok sedikit atau bahkan jalan yang muter banget. :D
dari gadiis yang mengutamakan kenyamana
Comments