Hujan Jam Tiga Sore
Pemberhentian Bus tampak ramai dari biasanya. Penuh sesak dengan penduduk kota Makassar yang meneduh di bawah atapnya yang kecil. Pemberhentian Bus yang tak pernah dilirik itu kini tersenyum senang. Banyak orang yang mau duduk di bawahnya. Biasanya, ia hanya dijadikan pajangan untuk mendukung kota yang indah. Karena, orang-orang BEBAS memberhentikan bus atau angkutan umum DIMANAPUN, SESUKA HATI. Sama bebasnya dengan menyeberang jalan, sama bebasnya dengan menyerobot lampu lalu lintas yang tidak dijaga Polisi.
Hujan deras yang selalu datang di sore hari lah penyebab ramainya pemberhentian bus kini. Musim hujan telah datang. Musim penyakit menular di pemukiman kumuh mulai banyak terjadi. Musim bencana banjir dan tanah longsor telah tiba. Anehnya, di Kota Makassar, hujan selalu datang di sore hari. Antara jam tiga hingga jam lima. Hujannya tak tanggung-tanggung, Kadang ia datang bersama sepupu-sepupunya. Guntur dan Kilat. Jadilah Kota Makassar menghentikkan aktifitas sejenak. Bagi yang nekat ya tidak tahu deh ...Rasa penasaran terus menggelitikku. Kenapa hujan di kota ini selalu datang sore hari? Kayak jadwal apel saja. Pasalnya, setelah dua tahun tinggal di sini. Saya selalu mengamati datangnya hujan di musim penghujan. Selalu sore hari. Pada zaman saya masih menjadi mahasiswa baru, saya dan teman-teman saya selalu disuruh berkumpul di lapangan pukul tiga sore. Namun, karena hujan selalu datang di jam tersebut, kami terpaksa mencari tempat lain. Lalu, kenapa hujan harus jam tiga sore???
Ini beberapa fakta unik tentang hujan :
Secara
umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan
sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama
dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini
menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah
siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Pengukuran
lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunnya
hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun
dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran
sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan
kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan
tersebut akan mengakibatkan kerusakan. Dan apabila hujan turun dengan
cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman,
perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak
dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih
lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya
terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter.
Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan
jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun
tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun,
kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah.
Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa.
Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer
dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai
“batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan
menggunakan teknik ini).
Tak
sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada
lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun
hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan
hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan
ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak
membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang
terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui,
bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah
sekalipun.
Ditulis oleh Gadis yang mengutamakan "Kenyamanan"


Comments