Kebiasaan Mengutil


Buku bagiku layaknya duit ribuan rupiah. Begitu melihat buku, mataku langsung ijo. Tidak peduli buku tersebut akan sanggup aku beli maupun akan sanggup aku baca. Aku sudah tertarik. Buku menjadi teman setiaku ketika masih duduk di sekolah dasar. Saat itu, kakakku yang pertama melanjutkan kuliah di luar kota. Kakakku yang kedua meninggal dunia setahun sebelum kakak pertamaku lulus SMA. Kamar mereka yang penuh akan buku diberikan padaku. 

Dunia yang sepi tanpa saudara di dalam rumah membuatku nyaman dengan koleksi buku mereka. Bukan buku-buku cerita. Bukan pula komik. Itu buku pelajaran. Lucu kan? Aku menyukai membaca buku pelajaran. Tetapi, lambat laun. Kesukaanku menjadi menyukai buku cerita. Padahal, satu-satunya buku cerita yang ada adalah cerita di dalam buku bahasa indonesia mereka. Tidak juga sih. Bahkan, buku sejarah pun bisa menjadi buku cerita.

Aku lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamar. Membaca. Berulang-ulang. Sesekali aku juga bermain dengan teman-teman. Tapi tidak banyak. Kompleks tempatku tinggal sangat asing bagiku. Bukan karena kami berbeda kulit, rambut ataupun logat. Itu karena aku baru beberapa tahun di sana. Belum mengenal. Masih hijau.

Tak lama kemudian, aku menemukan sebuah tempat yang banyak akan buku cerita. Dimana lagi kalau bukan di perpustakaan sekolah. Sayang, perpustakaan itu tidak terawat. Buku-buku yang banyak dibiarkan teronggok di sana. Tanpa perawat, tanpa pengunjung. Akulah yang sering mengunjunginya. Sebenarnya, itu menjadi keuntungan tersendiri bagiku. Karena aku bisa meminjam buku dan mengembalikkannya sesukaku. Bahkan, aku lebih banyak tidak mengembalikannya. Dari situlah aku menjadi suka menyolong buku. Hehe..

Hanya orang bodoh yang mau mengembalikan buku yang telah dipinjam

Kalau dipikir, pepatah di atas begitu kejam. Benar saja. Bukankah berdosa jika tidak mengembalikan barang yang dipinjam? Tapi, aku berprinsip. Daripada buku-buku itu hanya menjadi pajangan dan dibiarkan berdebu di ruangan yang dingin, bukankah lebih baik aku yang membawanya. Menatanya rapi di dalam kamarku. Membiarkannya menjadi teman saat aku kesepian.

Kebiasaan itu tidak hilang. Saat aku duduk di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, aku menjadi lebih sering meminjam buku. Bahkan, diam-diam mengutilnya. Tapi, karena di jenjang yang lebih tinggi ini perpustakaan sekolah memiliki librarian maka aku akan di denda apabila tidak mengembalikan tepat waktu.

Anehnya, kebiasaanku membaca buku tidak membuatku menjadi murid yang cerdas seperti kata orang-orang. Aku orang yang biasa saja. Muka biasa. Otak biasa. Dompet apalagi, biasa aja. Hahaha...

Karena sangat menyukai buku. Aku punya mimpi untuk memiliki perpustakaan sendiri. Aku juga ingin mendirikan sebuah penerbit. Yang paling penting, aku ingin suatu saat bukuku ada di deretan buku di toko buku. Amiiin :D

Buku bukan hanya jendela dunia bagiku, buku adalah teman setia yang menemaniku di saat aku kesepian...

Dari Gadis yang mengutamakan "kenyamanan" 

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y