Chernobyl, Kota Mati Karena Nuklir
Baru selesai nonton chernobyl diari. Sebuah film dokumenter horror produksi hollywood. Dari namanya, chernobyl, tidak asing memang di telinga. Nama chernobyl seperti nama-nama senyawa kimia gitu. Eh, ternyata itu sebuah nama kota. Sebuah kota di Ukraina yang terpaksa dikosongkan karena tragedi berdarah akibat ulah manusia. Menurut banyak orang, tragedi di Ukraina ini adalah bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia. Ledakan nuklir.
27 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 1986, sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir meledak di kota chernobyl, Ukraina. Peristiwa ini merupaka peristiwa ledakan nuklir pertama di dunia sebelum ledakan nuklir yang terjadi di Jepang. Peristiwa gempa bumi dan tsunami di jepang membuat PLTN Jepang meledak. Itu terjadi karena kurangnya keseimbangan alam. Namun, peristiwa yang terjadi di chernobyl murni karena kelalaian manusia. Saat ini, kota chernobyl bagaikan kota mati yang ditinggal semua penduduknya karena radiasi yang membahayakan manusia. Tingkat radiasi di kota ini masih dalam keadaan kritis,yaitu pada 5,6 roentgen per second (r/s) (0.056 grays per second, atau gy/s).
Dampak ledakan nuklir pada tahun 1986 itu memberikan dampak yang besar pada ukraina. Dimana kerusakan infrastruktur, ketimpangan perekonomian hingga penyakit mematikan kanker menjadi masalah serius untuk diatasi. Pemerintah Ukraina mengeluarkan banyak biaya untuk peristiwa besar ini.
Nuklir bisa menjadi teknologi yang membantu manusia. Energi nuklir sebagai pembangkit listrik dengan menggunakan reaktor nuklir digunakan pertama kali pada tanggal 20 desember 1951 di dekat kota Arco, Idaho. Energi yang dihasilkan sekitar 100 kW. Dari tahun ke tahun kapasitas energi dari reaktor nuklir mengalami perkembangan pesat. Pada tahun 1960,1 gigawatt energi dihasilkan, sedangkan pada tahun 1970, 100 gigawatt dihasilkan dan pada tahun 1980 300 giga watt energi nuklir dihasilkan. Setelah tahun 1980 kapasitas energi yang dihasilkan tidak terlalu meningkat pesat. Sampai tahun 2005 ini, baru 366 gigawatt energi dihasilkan.
Namun, nuklir memiliki banyak efek negatif. Mulai dari radiasi yang membahayakan kesehatan hingga menjadi senjata pemusnah massal. Banyak negara besar di dunia mengembangkan penemuan Otto Hans dkk ini menjadi alat untuk berperang. Di kembangkan secara diam-diam dan siap menjadi senjata paling ampuh. Oleh karena itu, dewasa ini muncul sebuah gerakan untuk menentang adanya program tenaga nuklir, baru dimulai pada akhir abad 20. Hal ini didasarkan dari ketakutan akan adanya “nuclear accident” dan ketakutan akan adanya bahaya radiasi yang tidak kelihatan dari tenaga nuklir itu sendiri. Selain itu kekhawatiran akan adanya kebocoran dari sistem penyimpanannya.
Bahan dasar nuklir, plutonium, menjadi salah satu bahan dalam membuat bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, menewaskan 200.00 orang. Bukankah itu sebuah tragedi yang mengerikan? Bagaimana dengan nuklir?
Dampak ledakan nuklir yang terjadi di chernobyl.
Diperkirakan semula dampak fisik akan begitu dahsyat. Artinya, akan menimbulkan korban jiwa yang luar biasa banyaknya. Namun, ternyata data sampai dengan 2006, jumlah korban yang meninggal 56 orang, di mana 28 orang (para likuidator terdiri dari staf pltn, tenaga konstruksi, dan pemadam kebakaran) meninggal pada 3 bulan pertama setelah kecelakaan, 19 orang meninggal 8 tahun kemudian, dan 9 anak lainnya meninggal karena kanker kelenjar gondok.
Sebanyak 350.000 likuidator yang terlibat dalam proses pembersihan daerah pltn yang kena bencana, serta 5 juta orang yang saat itu tinggal di belarusia, ukraina, dan rusia, yang terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100.000 di antaranya tinggal di daerah yang dikategorikan sebagai daerah strict control, ternyata mendapat radiasi seluruh badan sebanding dengan tingkat radiasi alam, serta tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomali.
Di sisi lain, hasil studi dan penelitian terhadap likuidator menunjukkan bahwa “tidak ada korelasi langsung antara kenaikan jumlah penderita kanker dan jumlah kematian per satuan waktu dengan paparan radiasi chernobyl.
Kemudian pada 1992-2002 tercatat 4.000 kasus kanker kelenjar gondok yang terobservasi di belarusia, ukraina, dan rusia pada anak-anak dan remaja 0-18 tahun ketika terjadi kecelakaan, termasuk 3.000 orang yang berusia 0-14 tahun. Selama perawatan mereka yang kena kanker, di belarusia meninggal delapan anak dan di rusia seorang anak. Yang lainnya selamat.
Berdasarkan laporan “chernobyl lecacy”, sebagian besar daerah pemukiman yang semula mendapat kontaminasi zat radioaktif karena kecelakaan pltn chernobyl telah kembali ke tingkat radiasi latar, seperti sebelum terjadi kecelakaan. Dampak psikologis adalah yang paling dahsyat, terutama trauma bagi mereka yang mengalaminya seperti stres, depresi, dan gejala lainnya yang secara medis sulit dijelaskan.
Akibat kecelakaan itu, iaea dan semua negara yang memiliki pltn membangun konsensus internasional untuk selalu menggalang dan memutakhirkan standar keselamatan. Di sisi lain, pihak yang anti-pltn telah menggunakan isu kecelakaan di chernobyl sebagai bahan kampanye untuk menolak kehadiran pltn, termasuk di indonesia, dengan berbagai informasi yang keliru karena ketidaktahuan akan kebenaran informasi sebab terjadinya kecelakaan chernobyl.
Penemuan nuklir yang dimanfaatkan dengan benar tentu akan membawa dampak positif bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, banyak pihak yang justru mengembangkan penemuan ini ke arah yang negatif. Kita tentu banyak mendengar tentang senjata nuklir yang di miliki Iran, Irak hingga negara adidaya Amerika Serikat.
Semoga kedepan para pemimpin bangsa bisa membawa kedamaian dengan penggunaan teknologi berbahaya ini.
*Dari berbagai sumber*
27 tahun yang lalu atau tepatnya pada tahun 1986, sebuah pembangkit listrik tenaga nuklir meledak di kota chernobyl, Ukraina. Peristiwa ini merupaka peristiwa ledakan nuklir pertama di dunia sebelum ledakan nuklir yang terjadi di Jepang. Peristiwa gempa bumi dan tsunami di jepang membuat PLTN Jepang meledak. Itu terjadi karena kurangnya keseimbangan alam. Namun, peristiwa yang terjadi di chernobyl murni karena kelalaian manusia. Saat ini, kota chernobyl bagaikan kota mati yang ditinggal semua penduduknya karena radiasi yang membahayakan manusia. Tingkat radiasi di kota ini masih dalam keadaan kritis,yaitu pada 5,6 roentgen per second (r/s) (0.056 grays per second, atau gy/s).
Dampak ledakan nuklir pada tahun 1986 itu memberikan dampak yang besar pada ukraina. Dimana kerusakan infrastruktur, ketimpangan perekonomian hingga penyakit mematikan kanker menjadi masalah serius untuk diatasi. Pemerintah Ukraina mengeluarkan banyak biaya untuk peristiwa besar ini.
Nuklir bisa menjadi teknologi yang membantu manusia. Energi nuklir sebagai pembangkit listrik dengan menggunakan reaktor nuklir digunakan pertama kali pada tanggal 20 desember 1951 di dekat kota Arco, Idaho. Energi yang dihasilkan sekitar 100 kW. Dari tahun ke tahun kapasitas energi dari reaktor nuklir mengalami perkembangan pesat. Pada tahun 1960,1 gigawatt energi dihasilkan, sedangkan pada tahun 1970, 100 gigawatt dihasilkan dan pada tahun 1980 300 giga watt energi nuklir dihasilkan. Setelah tahun 1980 kapasitas energi yang dihasilkan tidak terlalu meningkat pesat. Sampai tahun 2005 ini, baru 366 gigawatt energi dihasilkan.
Namun, nuklir memiliki banyak efek negatif. Mulai dari radiasi yang membahayakan kesehatan hingga menjadi senjata pemusnah massal. Banyak negara besar di dunia mengembangkan penemuan Otto Hans dkk ini menjadi alat untuk berperang. Di kembangkan secara diam-diam dan siap menjadi senjata paling ampuh. Oleh karena itu, dewasa ini muncul sebuah gerakan untuk menentang adanya program tenaga nuklir, baru dimulai pada akhir abad 20. Hal ini didasarkan dari ketakutan akan adanya “nuclear accident” dan ketakutan akan adanya bahaya radiasi yang tidak kelihatan dari tenaga nuklir itu sendiri. Selain itu kekhawatiran akan adanya kebocoran dari sistem penyimpanannya.
Bahan dasar nuklir, plutonium, menjadi salah satu bahan dalam membuat bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, menewaskan 200.00 orang. Bukankah itu sebuah tragedi yang mengerikan? Bagaimana dengan nuklir?
Dampak ledakan nuklir yang terjadi di chernobyl.
Diperkirakan semula dampak fisik akan begitu dahsyat. Artinya, akan menimbulkan korban jiwa yang luar biasa banyaknya. Namun, ternyata data sampai dengan 2006, jumlah korban yang meninggal 56 orang, di mana 28 orang (para likuidator terdiri dari staf pltn, tenaga konstruksi, dan pemadam kebakaran) meninggal pada 3 bulan pertama setelah kecelakaan, 19 orang meninggal 8 tahun kemudian, dan 9 anak lainnya meninggal karena kanker kelenjar gondok.
Sebanyak 350.000 likuidator yang terlibat dalam proses pembersihan daerah pltn yang kena bencana, serta 5 juta orang yang saat itu tinggal di belarusia, ukraina, dan rusia, yang terkena kontaminasi zat radioaktif dan 100.000 di antaranya tinggal di daerah yang dikategorikan sebagai daerah strict control, ternyata mendapat radiasi seluruh badan sebanding dengan tingkat radiasi alam, serta tidak ditemukan dampak terhadap kesuburan atau bentuk-bentuk anomali.
Di sisi lain, hasil studi dan penelitian terhadap likuidator menunjukkan bahwa “tidak ada korelasi langsung antara kenaikan jumlah penderita kanker dan jumlah kematian per satuan waktu dengan paparan radiasi chernobyl.
Kemudian pada 1992-2002 tercatat 4.000 kasus kanker kelenjar gondok yang terobservasi di belarusia, ukraina, dan rusia pada anak-anak dan remaja 0-18 tahun ketika terjadi kecelakaan, termasuk 3.000 orang yang berusia 0-14 tahun. Selama perawatan mereka yang kena kanker, di belarusia meninggal delapan anak dan di rusia seorang anak. Yang lainnya selamat.
Berdasarkan laporan “chernobyl lecacy”, sebagian besar daerah pemukiman yang semula mendapat kontaminasi zat radioaktif karena kecelakaan pltn chernobyl telah kembali ke tingkat radiasi latar, seperti sebelum terjadi kecelakaan. Dampak psikologis adalah yang paling dahsyat, terutama trauma bagi mereka yang mengalaminya seperti stres, depresi, dan gejala lainnya yang secara medis sulit dijelaskan.
Akibat kecelakaan itu, iaea dan semua negara yang memiliki pltn membangun konsensus internasional untuk selalu menggalang dan memutakhirkan standar keselamatan. Di sisi lain, pihak yang anti-pltn telah menggunakan isu kecelakaan di chernobyl sebagai bahan kampanye untuk menolak kehadiran pltn, termasuk di indonesia, dengan berbagai informasi yang keliru karena ketidaktahuan akan kebenaran informasi sebab terjadinya kecelakaan chernobyl.
Penemuan nuklir yang dimanfaatkan dengan benar tentu akan membawa dampak positif bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, banyak pihak yang justru mengembangkan penemuan ini ke arah yang negatif. Kita tentu banyak mendengar tentang senjata nuklir yang di miliki Iran, Irak hingga negara adidaya Amerika Serikat.
Semoga kedepan para pemimpin bangsa bisa membawa kedamaian dengan penggunaan teknologi berbahaya ini.
*Dari berbagai sumber*
Dari Gadis yang mengutamakan kenyamanan




Comments