Merasakan Sekitar
Bagai baru melihat dunia, inilah yang aku rasakan ketika bergabung dengan mereka yang berada. Terbesit rasa segan di dalam hati untuk membuka mulut ini, turut bercerita. Dalam hati aku berkata, apa yang aku punya untuk menyaingi cerita mereka. Apa yang aku punya sehingga mereka menyukai ceritaku.
Suatu sore yang tenang, ketika tugas-tugas mulai terselasaikan, pikiran itu muncul ketika percakapan aku dan Jay berakhir.
"Alangkah indahnya, jika kita terlahir dalam kondisi bisa meminta apapun yang kita mau."
Aku memandang Jay. Ucapan Jay kali ini tulus, benar-benar dari dalam hatinya. Aku tersenyum, aku juga merasakan itu. Bersama mereka, aku sadar bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang seperti ujaran Jay. Rumah yang besar, keluarga yang lengkap dan bahagia, kendaraan pribadi, kartu kredit, mainan yang banyak bahkan tanpa sekolah pun mereka bisa mendapatkan pekerjaan.
"Tapi, banyak dari mereka yang nyaman dengan sesamanya." Jay berujar lagi.
Jay benar. Bukan hanya mereka, akupun juga hanya akan merasa nyaman dengan sesamaku. Sesama orang biasa, sesama berkulit kusam, sesama otak pas-pasan, dll.
"Jangan berkecil hati. Tuhan sudah punya rencana untuk kita. Setidaknya, kita masih bisa makan 3 kali sehari dan tidur di atas kasur, tidak kehujanan dan kepanasan. Yang paling penting, kita punya orang tua juga. Kita dan mereka sama, tapi satu yang membedakan kita semua. Di sini." ujarku sambil menunjuk dada kiri bagian atas. Hati.
Itu adalah sebagian percakapanku dengan Jay. Di sela-sela kesibukan praktek lapangan. Aku tidak iri pada mereka. Aku malah bangga karena dipertemukan dengan mereka. Hanya, banyak dari mereka yang terlena dengan kehidupan serba ada mereka. Selalu mengumpat meskipun mereka telah memilikinya. Tidak pernah bersyukur dan selalu menginkan lebih.
Kami ditempatkan di sebuah kelurahan yang memiliki jalanan yang sempit. Hanya muat untuk satu mobil. Jika kebetulan berpapasan dengan mobil lainnya, maka salah satu harus mengalah dengan berjalan mundur. Aku bersyukur karena salah seorang dari mereka membawa mobil yang memudahkan kami untuk ke tempat-tempat kami akan praktek. Tapi, pemiliknya mengeluh dengan kondisi jalan yang sempit. Bahkan, ia berkata demikian, "Hanya orang-orang bodoh yang mau tinggal di tempat seperti ini. Jika saya jadi gubernur, saya akan menggusur tempat ini."
Aku terkejut mendengarnya. Lokasi tempat kami praktek tidak terlalu kumuh. Rumah warga masih terbuat dari batu dan memiliki pagar yang tinggi. Namun, jalanannya sangat kecil karena kepadatan rumah-rumah di sini. Di lokasi yang menurut saya masih bagus saja, mereka sudah mengeluh. Bagaimana jika mereka ditempatkan di lokasi yang semuanya rumahnya panggung dan terbuat dari kayu?
Saat aku datang ke kota ini, aku selalu berpikir bahwa orang-orang di sini tidak beda jauh dengan orang-orang dimana aku tinggal dulu. ternyata, di sini beda. Masyarakat modern terkadang membuatku jengah. Mereka terlalu mendewakan kecanggihan teknologi sehingga enggan untuk berusaha dan meremehkan orang lain.
Ini baru sebuah kota di indonesia, bagaimana dengan kota-kota besar di dunia. Semoga aku sanggup menghadapi ketidakadilan yang bertebaran di dunia ini.
Suatu sore yang tenang, ketika tugas-tugas mulai terselasaikan, pikiran itu muncul ketika percakapan aku dan Jay berakhir.
"Alangkah indahnya, jika kita terlahir dalam kondisi bisa meminta apapun yang kita mau."
Aku memandang Jay. Ucapan Jay kali ini tulus, benar-benar dari dalam hatinya. Aku tersenyum, aku juga merasakan itu. Bersama mereka, aku sadar bahwa aku dikelilingi oleh orang-orang seperti ujaran Jay. Rumah yang besar, keluarga yang lengkap dan bahagia, kendaraan pribadi, kartu kredit, mainan yang banyak bahkan tanpa sekolah pun mereka bisa mendapatkan pekerjaan.
"Tapi, banyak dari mereka yang nyaman dengan sesamanya." Jay berujar lagi.
Jay benar. Bukan hanya mereka, akupun juga hanya akan merasa nyaman dengan sesamaku. Sesama orang biasa, sesama berkulit kusam, sesama otak pas-pasan, dll.
"Jangan berkecil hati. Tuhan sudah punya rencana untuk kita. Setidaknya, kita masih bisa makan 3 kali sehari dan tidur di atas kasur, tidak kehujanan dan kepanasan. Yang paling penting, kita punya orang tua juga. Kita dan mereka sama, tapi satu yang membedakan kita semua. Di sini." ujarku sambil menunjuk dada kiri bagian atas. Hati.
Itu adalah sebagian percakapanku dengan Jay. Di sela-sela kesibukan praktek lapangan. Aku tidak iri pada mereka. Aku malah bangga karena dipertemukan dengan mereka. Hanya, banyak dari mereka yang terlena dengan kehidupan serba ada mereka. Selalu mengumpat meskipun mereka telah memilikinya. Tidak pernah bersyukur dan selalu menginkan lebih.
Kami ditempatkan di sebuah kelurahan yang memiliki jalanan yang sempit. Hanya muat untuk satu mobil. Jika kebetulan berpapasan dengan mobil lainnya, maka salah satu harus mengalah dengan berjalan mundur. Aku bersyukur karena salah seorang dari mereka membawa mobil yang memudahkan kami untuk ke tempat-tempat kami akan praktek. Tapi, pemiliknya mengeluh dengan kondisi jalan yang sempit. Bahkan, ia berkata demikian, "Hanya orang-orang bodoh yang mau tinggal di tempat seperti ini. Jika saya jadi gubernur, saya akan menggusur tempat ini."
Aku terkejut mendengarnya. Lokasi tempat kami praktek tidak terlalu kumuh. Rumah warga masih terbuat dari batu dan memiliki pagar yang tinggi. Namun, jalanannya sangat kecil karena kepadatan rumah-rumah di sini. Di lokasi yang menurut saya masih bagus saja, mereka sudah mengeluh. Bagaimana jika mereka ditempatkan di lokasi yang semuanya rumahnya panggung dan terbuat dari kayu?
Saat aku datang ke kota ini, aku selalu berpikir bahwa orang-orang di sini tidak beda jauh dengan orang-orang dimana aku tinggal dulu. ternyata, di sini beda. Masyarakat modern terkadang membuatku jengah. Mereka terlalu mendewakan kecanggihan teknologi sehingga enggan untuk berusaha dan meremehkan orang lain.
Ini baru sebuah kota di indonesia, bagaimana dengan kota-kota besar di dunia. Semoga aku sanggup menghadapi ketidakadilan yang bertebaran di dunia ini.
dari gadis yang mengutamakan kenyamanan

Comments