Pembalut Wanita Pertama Di Dunia
Wanita
memiliki banyak keunikan di dalam kehidupannya. Seminggu sekali dalam sebulan,
wanita akan mengalami menstruasi. Sebuah fase untuk mendukung organ reproduksi
wanita. Saat ini, sudah banyak merek yang digunakan sebagai pelindung wanita
saat menstruasi. Tapi, bayangkan wanita di tahun-tahun sebelum teknologi
merebak? Selalu terpikirkan di benakku bagaimana kesusahannya wanita saat
menstruasi tiba.
Pembalut
wanita adalah sebuah perangkat yang digunakan wanita saat menstruasi yang
berfungsi menyerap darah dari vagina agar tidak meleleh kemana-mana. Pembalut
wanita juga bisa digunakan pasca melahirkan atau aborsi.
Benda yang
berguna untuk menampung darah menstruasi ini ternyata sudah muncul dalam
catatan tertulis sejak abad ke-10. Sepanjang sejarah, wanita menggunakan
berbagai macam perlindungan menstruasi. Beberapa contoh di Museum Menstruasi
antara lain adalah sejenis bantalan yang dijahit dan celemek menstruasi. Orang
Inuit (Eskimo)
memakai kulit kelinci sementara di Uganda yang dipakai adalah papirus. Cara yang cukup umum
adalah dengan menggunakan potongan kain tua.
Pembalut
wanita sekali pakai yang pertama kali didistribusikan di dunia adalah produk
dari Curads and Hartmann’s. Ide untuk produk ini berawal dari para
perawat yang memakai perban dari bubur kayu untuk menyerap darah menstruasi.
Bantalan jenis ini dianggap cukup murah untuk dibuang setelah dipakai dan bahan
bakunya gampang didapat. Beberapa pembuat pembalut wanita sekali pakai pertama
adalah juga produsen perban (pembalut wanita modern dapat digunakan untuk
pertolongan pertama pada luka jika tidak ada perban karena pembalut wanita
kemampuan menyerapnya tinggi dan steril). Butuh beberapa lama untuk produk baru
itu dipergunakan secara luas oleh wanita. Hal ini terutama disebabkan masalah
harga.
Pembalut
wanita sekali pakai awalnya terbuat dari wol, katun, atau sejenisnya, berbentuk
persegi dan diberi lapisan penyerap. Lapisan penyerapnya diperpanjang di depan
dan belakang agar bisa dikaitkan pada sabuk khusus yang dipakai di bawah
pakaian dalam. Desain model begini merepotkan karena sering selip ke depan atau
belakang. Kemudian, desainer pembalut punya ide memberi perekat pada bagian
bawah pembalut untuk dilekatkan pada pakaian dalam. Pada pertengahan 1980-an
pembalut bersabuk lenyap dari pasaran digantikan pembalut berperekat.
Sejalan
dengan perkembangan ergonomika, desain pembalut juga ikut berkembang sejak
tahun 1980-an sampai sekarang. Dulu, pembalut tebalnya bisa sampai dua
sentimeter dan karena bahan penyerapnya kurang efektif, sering bocor. Untuk
mengatasinya, berbagai variasi diterapkan, misalnya menambahkan sayap,
mengurangi ketebalan dengan memakai bahan tertentu dan sebagainya. Desain
pembalut yang tadinya cuma persegi dibuat menjadi lebih berlekuk-liku, jenis
pembalut pun jadi beragam. Jenis-jenis pembalut sekali pakai mencakup panty
liner, ultra thin, regular, maxi, night, dan maternity.
Beberapa pembalut bahkan diberi deodoran untuk menyamarkan bau darah dan ada
beberapa jenis panty liner yang dirancang agar dapat dipakai bersama G-string.
Meskipun
pembalut sekali pakai telah banyak digunakan, pembalut dari kain (tentu saja
dengan desain yang lebih baik, bukan sekadar potongan-potongan kain yang
disumpalkan) kembali muncul sekitar tahun 1970-an dan cukup populer pada tahun
1980-an sampai 1990-an. Wanita memilih memakai kain dengan alasan kenyamanan,
kesehatan, dampak lingkungan, dan lebih murah karena memungkinkan untuk dicuci.
Pembalut
wanita dari bahan celulluton pertama kali diciptakan di Amerika pada tahun
1919. Celucotton yang awalnya digunakan untuk menutupi luka tentara ternyata
digunakan para perawat untuk menampung darah menstruasinya. Pada tahun 1920,
Kotex menjadi pembalut wanita yang dijual secara komersil. Penemuan pembalut memberikan
banyak bantuan untuk kaum wanita. Sekarang, kita bisa menemukan banyak merek
dari pembalut wanita. Tinggal memilih sesuai selera dan kenyamanan.


Comments