Ketika Empati Bukan Sekedar Perasaan


Banyak orang peduli, tapi sedikit yang bertindak...

Setiap manusia memiliki perasaan. Perasaan yang mengendalikan manusia untuk tidak melakukan hal yang diluar batas. Perasaan yang membuat manusia berpikir dua kali untuk melakukan sesuatu. Tapi, hanya berperasaan saja tidak cukup. Dibarengi dengan tindakan baru hal yang tepat.

==== Di satu sudut kota Makassar,

Sebuah Mall besar dan megah memanjakan masyarakat kota untuk membeli keperluan kehidupan. Tentu saja, mall memiliki kapasitas tertentu. Meskipun sebuah tempat perbelanjaan 'gratis' untuk dimasuki, namun semua yang ada di dalam memiliki nilai tersendiri. Kita tidak akan pernah menemukan orang yang berpakaian seperti 'gembel' masuk di sana. Mereka yang tidak memiliki daya beli tertahan diluar batas. Mereka datang bukan untuk berbelanja, mereka datang untuk 'bekerja'. 

Sebuah pekerjaan halal dan cukup membantu bila memberikan jasa yang menggantikan fungsi jembatan penyebarangan atau sekedar menjadi ojek payung dikala hujan datang bukan? Beberapa pengunjung yang datang tanpa kendaraan pribadi sangat membutuhkan jasa ini. Pasalnya, jalanan di depan mall padat akan kendaraan dan rawan terjadi kecelakaan. 

Hanya saja mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa yang menawarkan jasa penyebarangan itu adalah anak-anak usia sekolah dasar. Mereka yang seharusnya bermain bersama dengan teman-teman setelah pulang sekolah, atau belajar kembali pelajaran yang telah dipelajari bahkan untuk sekedar mengerjakan PR. Ketika hujan turun, jalanan menjadi lebih ramai oleh mereka. Tanpa peduli betapa berbasah-basahan akan membuat mereka sakit, namun demi mendapatkan rupiah semua itu dilalui.

Miris rasanya melihat anak-anak ini. Seringkali datang pertanyaan di benakku tentang motif sesungguhnya mereka? Apa keluarga mereka benar-benar sudah tidak mampu lagi membiayai mereka? Apa mereka hanya datang untuk mencari sedikit rupiah sebagai jajan mereka? Apa mereka lebih menyukai dunia jalanan daripada keadaan rumah yang nyaman??

Rupiah demi rupiah mereka dapatkan dengan membahayakan diri mereka sendiri di jalanan yang ramai. Tidak takutkah?? Atau deru deram suara kendaraan telah menjadi teman mereka. 

Sampai ketika aku tersadar. Tidak cukup dengan merasa kasihan pada mereka. Tidak cukup dengan rendah hati mengulurkan rupiah pada mereka. Seseorang harus bertindak untuk anak-anak ini. Jika di kota besar Jakarta menurunkan Satpol PP untuk membersihkan jalanan dari mereka, maka cara itu bukan sebuah tindakan yang di dasarkan dengan perasaan. 

Kisah ini di buat untuk langkah pertamaku menunjukkan kepedulian. Insya Allah, untuk menggapai sebuah mimpi yang berhubungan dengan mereka, kita harus memiliki sebuah komunitas yang mendukung. Dan semua itu bisa dimulai dari diri kita. 

To be continued yaa... 

Dari gadis yang mengutamakan kenyamanan



Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

PENYANYI PRIA TERBAIK di KOREA berdasarkan penilaian ahli vokal korea