Epidemiologi Malaria
Epidemiologi
Malaria
Malaria adalah penyakit menular yang
ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti betina. Malaria disebabkan oleh parasit
Plasmodium yang berkembang biak di tubuh nyamuk lalu menularkannya pada manusia
melalui darah. Penyakit
malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Plasmodium
dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles
betina. Penyakit malaria ini dapat
menyerang siapa saja terutama penduduk yang tinggal di daerah di mana tempat
tersebut merupakan tempat yang sesuai dengan kebutuhan nyamuk untuk berkembang
biak. Malaria
menjadi penyakit endemik di beberapa daerah di dunia, seperti Afrika, India,
Bangladesh dan juga di Indonesia. Di Indonesia, malaria menjadi endemik di
Papua dan Mamuju, Sulawesi Selatan.
Penyakit Malaria menjadi masalah global yang
dimasukkan dalam MDGs 2015 karena memiliki angka insiden yang cukup tinggi. Malaria
hampir ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara-negara yang beriklim
tropis dan subtropis. Penduduk yang beresiko terkena Malaria berjumlah sekitar
2,3 miliar atau 41% dari populasi dunia. WHO memperkirakan insiden malaria di
dunia mencapai 215 juta kasus dan di antaranya yang terifeksi parasit
plasmodium sekitar 600.000.
Menurut Global Malariae Programme menyatakan bahwa
malaria merupakan penyakit yang harus terus menerus dilakukan pengamatan,
monitoring dan evaluasi, serta diperlukan formulasi kebijakan dan strategi yang
tepat.
Malaria di Jayapura
Penyakit
Malaria endemik di Jayapura. Selama bertahun-tahun, Malaria selalu masuk dalam
urutan sepuluh penyakit tertinggi di Jayapura. Pada tahun 2009, di RSUD
Jayapura tercatat jumlah kasus rawat inap penderita Malaria ada 3294. DI tahun
sebelumnya (2008) 2832 kasus. Itu berarti ada peningkatan kejadian malaria dari
tahun 2008 ke tahun 2009. Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, angka
insiden malaria selalu tinggi di setiap tahunnya. Hal ini disebabkan karena
wilayah Papua menjadi endemik penyakit malaria.
Wilayah
Papua menjadi endemik malaria karena kondisi wilayah yang memungkinkan untuk
perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti yang membawa plasmodium penyebab malaria.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kejadian malaria ditinjau dari sisi epidemiologi :
1. HOST
(Manusia dan Nyamuk)
Manusia
Umur : Usia anak-anak lebih rentan terkena
malaria. Anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan demam
malaria dibandingkan anak yang bergizi buruk. Namun, anak yang bergizi baik
lebih mampu untuk mengatasi malaria berat daripada anak bergizi buruk.
Jenis
Kelamin : Perempuan
memiliki respon yang lebih baik dibandingkan laki-laki. Namun, apabila
menginfeksi wanita hamil maka akan terjadi anemia berat.
Imunitas
: Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya terbentuk imunitas
dalam tubuhnya terhadap malaria demikian juga yang tinggal di daerah endemis
biasanya mempunyai imunitas alami terhadap penyakit malaria.
Ras
: beberapa ras manusia atau kelompok manusia memiliki kekebalan alamiah
terhadap malaria, misalnya sickle cell anemia dan ovalositas.
Status Gizi
: Masyarakat yang kurang asupan gizi dan tinggal di daerah endemis malaria akan
rentan terkena malaria.
Nyamuk
Nyamuk
termasuk serangga yang melangsungkan siklus kehidupan di air. Kelangsungan
hidup nyamuk akan terputus apabila tidak ada air. Nyamuk dewasa sekali bertelur
sebanyak ± 100-300 butir, besar telur sekitar 0,5 mm. Setelah 1-2 hari menetas
menjadi jentik, 8-10 hari menjadi kepompong (pupa), dan 1-2 hari menjadi nyamuk
dewasa. Umur nyamuk relatif pendek, nyamuk jantan umurnya lebih pendek (kurang
1 minggu), sedang nyamuk betina lebih panjang sekitar rata-rata 1-2 bulan.
Nyamuk jantan akan terbang disekitar perindukannya dan makan cairan tumbuhan
yang ada disekitarnya. Nyamuk betina hanya kawin sekali
dalam hidupnya. Perkawinan biasanya terjadi setelah 24-48 jam setelah keluar
dari kepompong. Makanan nyamuk Anopheles betina yaitu darah, yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan telurnya.
Nyamuk Anopheles yang ada di Indonesia
berjumlah 80 spesies. Sampai saat ini di Indonesia telah ditemukan sejumlah 24
spesies yang dapat menularkan malaria. Tidak semua Anopheles tersebut
berperan penting dalam penularan malaria.
Beberapa aspek penting dari nyamuk adalah :
Perilaku nyamuk :
Tempat hinggap atau istirahat
Eksofilik, yaitu nyamuk lebih suka hinggap atau
istirahat di luar rumah.
Endofilik, yaitu nyamuk lebih suka hinggap
atau istirahat di dalam rumah.
Tempat menggigit
Eksofagik, yaitu nyamuk lebih suka menggigit di luar
rumah.
Endofagik, yaitu nyamuk lebih suka menggigit di
dalam rumah.
Obyek yang digigit
Antrofofilik, yaitu nyamuk lebih suka menggigit
manusia.
Zoofilik, yaitu nyamuk lebih suka menggigit hewan.
Indiscriminate biters/indiscriminate feeders, yaitu nyamuk tanpa kesukaan tertentu terhadap
hospes.
Frekuensi menggigit manusia
Frekuensi membutuhkan darah tergantung spesiesnya
dan dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban, yang disebut siklus gonotrofik.
Untuk iklim tropis biasanya siklus ini berlangsung sekitar 48-96 jam.
Siklus gonotrofik, yaitu waktu yang diperlukan untuk
matangnya telur. Waktu ini juga merupakan interval menggigit nyamuk.
Faktor lain yang penting
Umur nyamuk (longevity), semakin panjang umur
nyamuk semakin besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau vektor. Umur
nyamuk bervariasi tergantung dari spesiesnya dan dipengaruhi oleh lingkungan.
Pengetahuan umur nyamuk ini penting untuk mengetahui musim penularan dan dapat
digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan program pemberantasan
vektor.
Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit.
2. Faktor
Lingkungan
Lingkungan
Fisik
Suhu
udara : Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau
masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin
pendek masa inkubasi ekstrinsik, dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang
masa inkubasi ekstrinsik. Pada suhu 26,7oC masa inkubasi ekstrinsik pada spesies
Plasmodium berbeda-beda yaitu P.falciparumI 10 sampai 12 hari, P.vivax
8 samapi 11 hari, P.malariae 14 hari P.ovale 15 hari. Menurut
Chwatt (1980), suhu udara yang optimum bagi kehidupan nyamuk berkisar antara
25-30o C. Menurut penelitian Barodji (1987) bahwa proporsi tergigit nyamuk Anopheles
menggigit adalah untuk di luar rumah 23-24oC dan di dalam rumah 25-26oC
sebagai suhu optimal.
Kelembaban
udara : Kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk. Kelembaban
mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit, istirahan, dan lain-lain
dari nyamuk. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan
hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan
lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria.35 Menurut
penelitian Barodji (1987) menyatakan bahwa nyamuk Anopheles paling
banyak menggigit di luar rumah pada kelembaban 84-88%dan di dalam rumah 70-80%.
Ketinggian
: Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Hal ini
berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000 m
jarang ada transmisi malaria. Ketinggian paling tinggi masih memungkinkan
transmisi malaria ialah 2500 m di atas permukaan laut.
Angin
: Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang merupakan saat
terbangnya nyamuk ke dalam atau keluar rumah, adalah salah satu faktor yang
ikut menentukan jumlah kontak antara manusia dengan nyamuk. Jarak terbang
nyamuk (flight range) dapat diperpendek atau diperpanjang
tergantung kepada arah angin. Jarak terbang nyamuk Anopheles adalah
terbatas biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari tempat perindukannya. Bila ada
angin yang kuat nyamuk Anopheles bisa terbawa sampai 30 km.
Hujan
: Hujan berhubungan dengan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa.
Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan, jumlah
hari hujan jenis vektor dan jenistempat perkembangbiakan (breeding place).
Hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan berkembang biaknya nyamuk
Anopheles.
Sinar
matahari : Sinar matahari memberikan pengaruh yang berbeda-beda pada spesies
nyamuk. Nyamuk An. aconitus lebih menyukai tempat untuk berkembang biak
dalam air yang ada sinar matahari dan adanya peneduh. Spesies lain tidak
menyukai air dengan sinar matahari yang cukup tetapi lebih menyukai tempat yang
rindang, Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda.
An. sundaicus lebih suka tempat yang teduh, An. hyrcanus spp dan
An. punctulatus spp lebih menyukai tempat yang terbuka, dan An.
barbirostris dapat hidup baik di tempat teduh maupun yang terang.
Arus
air : An. barbirostris menyukai perindukan yang airnya statis / mengalir
lambat, sedangkan An. minimus menyukai aliran air yang deras dan An.
letifer menyukai air tergenang. An. maculatus berkembang biak pada
genangan air di pinggir sungai dengan aliran lambat atau berhenti. Beberapa
spesies mampu untuk berkembang biak di air tawar dan air asin seperti
dilaporkan di Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, NTT bahwa An. subpictus
air payau ternyata dilaboratorium mampu bertelur dan berkembang biak sampai
menjadi nyamuk dewasa di air tawar seperti nyamuk Anopheles lainnya.
Tempat
perkembangbiakan nyamuk : Tempat perkembangbiakan nyamuk Anopheles adalah
genangangenangan air, baik air tawar maupun air payau, tergantung dari jenis
nyamuknya. Air ini tidak boleh tercemar harus selalu berhubungan dengan tanah. Berdasarkan
ukuran, lamanya air (genangan air tetap atau sementara) dan macam tempat air,
klasifikasi genangan air dibedakan atas genangan air besar dan genangan air
kecil.
Keadaan
dinding : Keadaan rumah, khususnya dinding rumah berhubungan dengan kegiatan
penyemprotan rumah (indoor residual spraying) karena insektisida yang
disemprotkan ke dinding akan menyerap ke dinding rumah sehingga saat nyamuk
hinggap akan mati akibat kontak dengan insektisida tersebut. Dinding rumah yang
terbuat dari kayu memungkinkan lebih banyak lagi lubang untuk masuknya nyamuk.
Pemasangan
kawat kasa : Pemasangan kawat kasa pasda ventilasi akan menyebabkan semakin
kecilnya kontak nyamuk yang berada di luar rumah dengan penghuni rumah, dimana
nyamuk tidak dapat masuk ke dalam rumah. Menurut Davey (1965) penggunaan kasa
pada ventilasi dapat mengurangi kontak antara nyamuk Anopheles dan manusia.
b.
Lingkungan Kimia
Dari
lingkungan ini yang baru diketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat
perkembangbiakan. Sebagai contoh An. Sundaicus tumbuh optimal pada air
payau yang kadar garamnya berkisar antara 12 – 18% dan tidak dapat berkembang
biak pada kadar garam 40% ke atas, meskipun di beberapa tempat di Sumatera
Utara An. Sundaicus sudah ditemukan pula dalam air tawar. An. letifer
dapat hidup ditempat yang asam/pH rendah.
c.
Lingkungan Biologi
Tumbuhan
bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan
larva karena ia dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan
makhluk hidup lainnya. Adanya berbagai jenis ikan pemakan larva seperti ikan
kepala timah
(panchax
spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain akan mempengaruhi populasi
nyamuk di suatu daerah. Selain itu adanya ternak besar seperti sapi, kerbau dan
babi dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia, apabila ternak
tersebut dikandangkan tidak jauh dari rumah.
d.
Lingkungan Sosial Ekonomi dan Budaya
1.
Kebiasaan keluar rumah
Kebiasaan
untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat
eksofilik dan eksofagik akan memudahkan gigitan nyamuk. Kebiasaan penduduk
berada di luar rumah pada malam hari dan juga tidak berpakaian berhubungan
dengan kejadian malaria.
2.
Pemakaian kelambu
Beberapa
penelitian membuktikan bahwa pemakaian kelambu secara teratur pada waktu tidur
malam hari mengurangi kejadian malaria. Menurut penelitian Piyarat (1986),
penduduk yang tidak menggunakan kelambu secara teratur mempunyai risiko
kejadian malaria 6,44 kali dibandingkan dengan yang menggunakan kelambu. Penelitian CH2N-UGM (2001) menyatakan bahwa individu
yang tidak menggunakan kelambu saat tidur berpeluang terkena malaria 2,8 kali
di bandingkan dengan yang menggunakan kelambu saat tidur.
3.
Obat anti nyamuk
Kegiatan
ini hampir seluruhnya dilaksanakan sendiri oleh masyarakat seperti menggunakan
obat nyamuk bakar, semprot, oles maupun secara elektrik.
4.
Pekerjaan
Hutan
merupakan tempat yang cocok bagi peristirahatan maupun perkembangbiakan nyamuk
(pada lubang di pohon-pohon) sehingga menyebabkan vektor cukup tinggi. Menurut
Manalu
(1997),
masyarakat yang mencari nafkah ke hutan mempunyai risiko untuk menderita
malaria karena suasana hutan yang gelap memberikan kesempatan nyamuk untuk
menggigit.
5.
Pendidikan
Tingkat
pendidikan sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap kejadian malaria
tetapi umumnya mempengaruhi jenis pekerjaan dan perilaku kesehatan seseorang. Hasil
penelitian Rustam (2002), menyatakan bahwa masyarakat yang tingkat
pendidikannya rendah berpeluang terkena malaria sebesar 1,8 kali dibandingkan
dengan yang berpendidikan tinggi.
3.
Faktor Agent (Plasmodium)
Agent
atau penyebab penyakit adalah semua unsur atau elemen hidup ataupun tidak hidup
dimana dalam kehadirannya, bila diikuti dengan kontak efektif dengan manusia
yang rentan akan menjadi stimulasi untuk memudahkan terjadinya suatu proses
penyakit. Penyebab penyakit malaria dari genus Plasamodium, family Plasmodiidae
dan ordo Coccidiidae. Hingga saat ini parasit malaria yang dikenal
ada 4 macam, yaitu :
a.
Plasmodium falciparum, penyebab malaria tropika yang sering menyebabkan
malaria otak/berat dengan risiko kematian yang tinggi.
b.
Plasmodium vivax, penyebab malaria tertiana.
c.
Plasmodium malariae, penyebab malaria quartana.
d.
Plasmodium ovale, jarang dijumpai terbanyak ditemukan di Afrika dan Pasifik
Barat.
Pada
penderita penyakit malaria, penderita dapat dihinggapi oleh lebih dari satu
jenis plasmodium. Infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection).
Kejadian infeksi campuran ini biasanya paling banyak dua jenis parasit, yakni
campuran antara Plasmodium falcifarum dengan Plasmodium vivax atau
Plasmodium malariae. Kadang-kadang di jumpai tiga jenis parasit
sekaligus meskipun hal ini jarang terjadi. Infeksi campuran ini biasanya
terjadi di daerah yang tinggi angka penularannya.
dari berbagai sumber
Dari gadis yang mengutamakan kenyamanan
Comments