Part Time Student, Full Time Writer
Hari ini saya nggak masuk kuliah. Siapa sih yang semangat banget masuk kuliah di senin pagi. Eaa... memang hari senin adalah hari yang paling membuat banyak orang 'semangat'. Semangat untuk santai ajaah. Setelah libur di akhir pekan, harus bangun pagi adalah kewajiban yang melelahkan. Bahkan ketika masih sekolah, hari senin tetap menjadi hari yang dibenci. Bangun pagi dan harus ikut upacara bendera di bawah terik matahari. *uuuhhhh....
Well, saya nggak mau membahas hari senin. Karena saya yakin semua sudah sepakat untuk menjuluki hari senin sebagai "MONster DAY" wkwkw...
Ketika masih duduk di sekolah menengah atas. Banyak sekali mimpi yang kutampung untuk segera diwujudkan di sekolah tinggi. Mimpi itu banyak sekali. Mulai dari mendapat IP tinggi, jadi anggota BEM, rajin kuliah, jadi asisten dosen, dan lain sebagainya. Semuanya kebanyakan adalah mimpi di bidang akademik. Walaupun bermimpi punya pacar anak kedokteran juga masuk list sih *hahaa!* Mimpi yang terlalu biasa. Biasa banget. Saking biasanya, semuanya nggak tercapai di usia kuliahku yang masuk semester enam.
Kenapa bisa?? Saat jadi mahasiswa ternyata saya punya mimpi lain. Mimpi lain itu adalah meneruskan mimpi yang pernah dikubur karena yakin nggak bisa melakukannya. Menjadi penulis. Penulis?? Nyambung dimana coba sama bidang minatmu saat ini?? Heehhee... Iya.
Duluu... waktu masih panas-panas tai ayamnya saya memasuki dunia kepenulisan ada kejadian paling menyakitkan yang langsung bikin saya jatuh. Sejak dulu memang suka baca, suka ngayal, suka nonton film. Makanya saya pengen buangeeet bisa bikin cerita. Cerpen pertama saya (baca di sini) diselesaikan pada saat saya duduk di kelas tiga SMP. Nggak panjang sih. Tapi menyelesaikannya penuh perjuangan. Sampai berkeringat darah *lebaaay* Sampai-sampai saya lupa kalau siang telah berganti malam hanya untuk menulis cerita selembar halaman buku *hahaa!*
Saya senang bangeeet. Meskipun masih "alakadaaaarnya bangeeeet', tapi bangga lah. Saya mulau seneng nulis. Nulis di buku kebanyakan karena dulu masih gaptek ngetik di Ms. word. Sampai suatu ketika di sekolah menengah atas ada perlombaan menulis cerpen. Saya excited donk. Langsung daftar. Ehhhh.. ternyataaaa....???
Ternyata yang daftar banyak juga. Dulu, saya selalu mikir kalau nggak banyak orang yang suka nulis. Nulis itu membosankan. Nulis itu kerjaannya orang yang suka ngayal *kayak saya*. Ternyata dunia kepenulisan banyak peminatnya. Pertanda banyak banget manusia yang suka ngayal *hahaa!*
Saya nggak mau kalah. Berkali-kali saya ganti judul supaya tulisan saya bisa menang. H-1 saya belum menyelesaikan tulisan saya. Bayangin deh. Masa syaratnya harus nulis cerita tentang budaya yang panjangnya 15 lembar?? Saya nulis dua lembar selesai aja sudah syukur. Akhirnya, tulisan saya selesai pukul 02.00 dini hari. DIbaca sekali, Di edit sekali. Langsung print.
Karena saya suka banget nulis, saya berharap sekali bisa menang. Sampai hari pengumuman pemenang nama saya tak juga disebut sebagai pemenang. Rasanya sediiih sekali. Dulu, saya nggak tahu kalau ada kalimat penghibur seperti ini "Karena gagal bukanlah kekalahan."
Meskipun nggak menang saat itu, saya yakin suatu hari nanti saya bisa menang. Dan kupikir disinilah saya bisa mengembangkannya. Hidup sendiri di negeri orang, jauh dari orangtua memberikan banyak kebebasan bagi saya untuk mengembangkan bakat saya. Duniaku hari ini adalah searching, baca, nonton dan nulis. Saya hampir lupa kalau saya adalah mahasiswa ketika sedang asyik di duniaku.
Ketika duniaku mulai memberikan rasa nyaman di bandingkan dunia perkuliahan yang monoton, rasanya ingin sekali mengubah motto hidup ini menjadi "Part time student full time writer"
Jika menulis adalah sebuah kejahatan, maka saat ini saya sudah berada di dalam penjara - Anynomous
Walaupun full time writer, saya masih suka sama motto "Wajib Kuliah Empat Tahun" *Hahaa!*
Dari gadis yang mengutamakan kenyamanan


Comments