#Tentang - She Is My Mom
Dia
adalah wanita paling tegar yang pernah aku lihat. Meskipun matanya lelah,
kulitnya hitam legam terbakar mentari, bulatan hitam besar menghiasi dua bola
matanya. Namun, semua anak-anaknya tahu bahwa ia sangat berhati hangat. Semua
yang ia lakukan sejak lahir hingga saat ini hanyalah untuk orang lain. Ia tidak
memikirkan diri sendiri. Ia tidak masalah mengenakan baju sekenanya diantara
teman-temannya yang harum. Ia tidak masalah. Yang penting anak dan suaminya
bisa makan hari ini. Ia yang bangun sejak shubuh lalu kembali saat malam mulai
naik memang jarang tersenyum. Tetapi, hatinya selalu tersenyum melihat
anak-anaknya bisa tersenyum. Hatinya selalu tersenyum takkala orang yang ia
tolong bisa tersenyum. Ia adalah ibuku.
Lahir di keluarga yang tidak mampu membuat
Ibu tak tuntas dalam pendidikan. Saat beliau muda, ibu tidak bisa mengeyam
pendidikan tinggi karena tidak memiliki uang. Ia merelakan tempatnya untuk
jalan adik-adiknya maju. Beliau merelakan mimpinya agar adik-adiknya bisa duduk
di bangku sekolah. Keluarganya tidak mampu untuk membiayai semua sekolahnya.
Ibu mengalah. Andai Ibu tidak mengalah. Mungkin, beliau tidak akan berada di
pasar sayur mayur. Mungkin, ibu akan berada di balik meja kantor yang
megah. Tapi, semua yang terjadi adalah
kehendak Allah yang lebih baik.
Ibuku adalah anak kedua dari enam
bersaudara. Ibuku memiliki peran penting dalam keluarganya. Setelah lulus SMP,
ia harus mengurus adik-adiknya selagi ibunya pergi ke pasar. Ia memasak,
menyapu, mencuci dan memandikan adik-adiknya. Ia yang paling jahat dari
semuanya. Ia yang selalu berteriak menyuruh adik-adiknya belajar dan jangan
banyak bermain. Ia yang membuat rumah menjadi bersih. Ia yang disayang oleh
Ayah dan Ibunya. Ia banyak berkorban untuk adik-adiknya. Bukan uang, bukan
harta. Yang ia sumbangkan adalah kasih sayang. Ketabahannya menjalani hidup
yang keras menjadi semangat untuk adik-adiknya terus maju.
Kini, kerja keras saudara dan
adiknya membuahkan hasil. Tidak ada yang tidak sukses. Mereka semua menjadi
orang terpandang. Mereka semua memiliki rumah sendiri. Hanya Ibu yang masih
tinggal di rumah nenek. Ibu tidak memiliki rumah sendiri dengan kondisi
keuangannya yang hanya cukup untuk makan esok hari. Tapi, Ibu tidak pernah
mengeluh. Meskipun saudaranya ada yang akhirnya tidak menyukai Ibu. Ibu
menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan. Saat matahari mulai terbit, Ibu
sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Kemudian pergi ke
pasar tempatnya mengais rejeki. Saat tengah hari, Ibu pulang ke rumah untuk
memasak makan siang. Kemudian Ibu pergi lagi entah kemana untuk mengais rupiah.
Hingga malam datang. Ibu kembali untuk meninabobokan anak-anaknya. Kegiatannya
begitu setiap hari. Terulang dan sangat melelahkan. Tapi Ibu tabah
menjalaninya.
Itulah yang aku lihat saat pertama
kali melihatnya kembali. Dua belas tahun yang lalu, aku berpisah dengannya. Aku
hanya mengingat senyum hangat dan mata tulusnya di dalam benakku. Ingatan itu
pudar termakan waktu. Hingga aku bertemu lagi dengannya saat ini. Aku menangis
sedih. Ibu yang kulihat dua belas tahun yang lalu tidak seperti ini. Kelelahan
membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Ia begitu lelah. Matanya sangat
terlihat jelas betapa hidup yang ia alami sangat sulit. Hidup bersama dengan
suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Menghidupi enam orang anak dan
seorang nenek. Dengan gaji yang tidak seberapa, Ayah dan Ibu bertahan dalam
keterbatasan.
Aku ingin memeluknya. Aku ingin
membantunya. Aku ingin membuatkan ibu sebuah rumah. Aku ingin Ayah dan Ibu bisa
beristirahat dengan tenang di dalam rumah. Aku tidak ingin di usia mereka yang
semakin senja masih bekerja keras. Lihatlah Ayah. Ia sudah begitu tua namun
masih memaksa untuk mengangkat batu bata. Matanya mungkin sudah kabur namun
masih memaksa membangun rumah untuk orang lain.
Ibu.. maafkan anakmu ini yang
selalu membantah..
Ibu... maafkan anakmu ini yang
selalu melukai hatimu...
Ayah... sayangilah Ibu..
Ayah.. jangan sakiti hati Ibu...
Ayah, Ibu.. aku menyayangimu..
Ayah, Ibu.. doakan anakmu ini....
*dari seorang sahabat. Untuk semua
Ibu di dunia~
Dari gadis yang mengutamakan kenyamanan


Comments