Ketika Perasaan Itu Hadir: “Buruan Nikah atau Bunuh Saja Perasaan?”
oleh : Alhanin Sholiat
Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi
untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang
perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan
makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing,
galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.
“Antara nikah atau bunuh perasaan”
Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita?
Seperti apa respon kita? Apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah
perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi
pribadi galau atau gelisah? Seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku” :)
Sedangkan cinta adalah fitrah yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan
agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di
atas Arsy. Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21:
“…dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir”.
Senada dengan ungkap Pak Romi Sastrio Wahono dalam blog pribadinya hendaknya
ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan
tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan.
Selanjutnya ungkapan familier pak Romi Satrio Wahono dalam buku beliau
(dapat apa sich dari Universitas),“Janganlah kalian
mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk
orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika
masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya,
arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya”
Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak
perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu
perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.
Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu
seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang
karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk
menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah
mengekspresikan perasaan kita.
Insya Allah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekad, niat,
keinginan, dan kesabaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari
kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak dzikir,
mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.
Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya
mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan
setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.
Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta
menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza
wajalla
Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb
dalam denyut perasaannya, “Ya
Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta
pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah
ikatkanlah, kekalkanlah cintanya.”
Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata
perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas
untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita
hingga perasaan kekal hingga surga.
Oleh : Alhanin Sholiat @dakwatuna

Comments