Belajar dari masa lalu untuk memperbaiki masa depan



            Salah satu film sci-fi favorit saya adalah the day after tomorrow. Ini bukan ramalan, ini bukan fiksi belaka. Menurut saya, suatu saat itu pasti akan terjadi. Dimana manusia akan mengalami sebuah bencana yang hebat karena ulah kita sendiri. Sekarang saja, dampak itu sudah mulai terasa.

            Bercerita tentang perubahan iklim dahsyat yang membuat bumi kembali ke zaman es lebih cepat dari perkiraan. Disangkutpautkan dengan arus air laut yang mempercepat perubahan iklim membuat mata saya tidak bisa tidak menonton film ini berulang-ulang.

            Zaman es pertama kali saya dengar dari cerita guru geografi saya. Beliau mengatakan bahwa dulu, seluruh benua ini menyatu. Dimana jawa, sumatera, kalimantan dan sulawesi daratannya menyatu dengan benua asia. Ini disebut paparan sunda. Sementara nusa tenggara, maluku dan papua daratannya menyatu dengan autralia dan disebut paparan sahul. Pada saat itu, hewan-hewan dari etnis papua dan autralia saling bermigrasi. Maka tidak heran jika di selatan papua banyak ditemukan kangguru.

            Selain itu, pada zaman dahulu juga pernah terjadi zaman es. Dimana dunia membeku beserta lautannya. kita bisa pergi ke australia dengan berjalan kaki, canda pak guru saya kala itu.

            Ternyata, zaman es yang diceritakan oleh guru saya bukan hanya terjadi sekali seperti yang saya pikirkan. Zaman es sudah terjadi berkali-kali di dunia ini. Zaman es yang terakhir berakhir terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu.

            Zaman es adalah saat suhu bumi menurun dalam jangka waktu yang lama. Penyebabnya adalah terjadinya proses pendinginan aerosol. Aerosol adalah istilah untuk menyebut partikel-partikel halus yang tersebar di atmosfir. Peningkatan aerosol (seperti karbon, sulfat, partikel organik) di atmosfir bumi akibat emisi alamiah maupun akibat aktivitas manusia membuat intensitas radiasi sinar matahari ke bumi berkurang. Seperti saat gunung krakatau meletus yang menyebabkan bumi gelap gulita selama beberapa hari adalah salah satu contoh dari aerosol yang meningkat. Pada saat itu, hampir saja bumi kembali ke zaman es.

            Zaman es terjadi bukan karena ulah manusia. Di dalam film pun tidak menyebutkan bahwa terjadinya perubahan iklim karena ulah manusia. Namun, bukan berarti kita bebas menggunakan sumber daya alam dengan cara yang tidak benar dan bahkan berlebihan. Zaman es terjadi setiap 100.000 tahun sekali karena rotasi bumi. Bumi berotasi pada sumbunya yang miring 23,5 derajat dan setiap 41.000 tahun sekali atau kelipatannya sudut Bumi berubah beberapa derajat (contoh menjadi 23,1 derajat). Semakin besar perubahan kemiringan rotasi Bumi semakin bear perubahan musim yang terjadi. Orbit bumi pun berubah selama periode 100.000 tahun. Perubahan orbit Bumi dari bentuk sirkular (bundar) menjadi berbentuk oval (elips).

Perubahan orbit dan sudut rotasi Bumi mempengaruhi cahaya matahari yang menyinari Bumi. Maka setiap 100.000 tahun sekali iklim Bumi menjadi lebih dingin, musim dingin berlangsung selama beberapa ratus tahun. Akibatnya salju akan turun terus-menerus membentuk lapisan es yang tebal, air laut pun membeku, zaman itu pun dinamai zaman es.

            Zaman es adalah peristiwa alamiah bumi yang terjadi berdasarkan siklusnya. Dalam waktu 100.000 tahun bumi akan kembali mengalami zaman es. Namun, jika pemanasan globab tidak dapat dicegah, maka zaman es di masa modern ini akan murni terjadi karena ulah manusia. Betapa tidak, suhu bumi semakin panas menyebabkan es di kutub mencair. Pencairan es di kutub sudah mulai terjadi saat ini. Sepanjang tahun 2008-2009, wilayah Arktik di Kutub Utara kehilangan lapisan es seluas dua kali wilayah Prancis atau sepuluh kali luas Pulau Jawa.

            Pencarian es di kutub adalah cikal bakal terjadinya perubahan iklim yang akan membawa kita pada zaman es. Mencairnya es di kutub menyebabkan suhu air laut meningkat dan arus air laut berubah. Arus air laut sangat berpengaruh pada iklim dan suhu di daratan. Arus laut yang dingin akan menurunkan suhu udara di daratan, sedangkan arus laut panas akan menaikkan suhu di daratan. Arus panas pada umumnya mengakibatkan peningkatan curah hujan, karena udara di atas lautan banyak membawa uap air.


            Dari film bisa diketahui bahwa peningkatan air tawar pada air laut akan menghilangkan keseimbangan iklim bumi. Badai akan terjadi di bumi dan banjir bandang akibat pencairan es di kutub menyebabkan bumi akan tenggelam. Suhu bumi yang menurun akan membuat manusia kembali ke zaman es.

            Meskipun sampai saat ini saya tidak mengerti bagaimana caranya manusia bisa selamat dari zaman es pada zaman dahulu. Dan juga ada satu kesimpulan yang bisa saya tarik dari selamatnya manusia pada zaman itu, bahwa zaman es bukanlah akhir dari dunia.

            Save Our Earth dengan tetap hemat energi! *matikan lampu*


Dari berbagai sumber
C

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y