First Time meet Tere Liye
.....
“Siapa
yang nyangka saya cewek?” sapa Bang Tere ketika acara Workshop kepenulisan
dimulai. Para peserta yang sebagian besar akhwat pun mengangkat tangan. Tawa
ringan keluar dari mulutnya.
Ya,
siapa menyangka jika penulis 16 buku itu adalah seorang pria. Sejak membaca
buku Tere Liye bertajuk Daun Yang Jatuh Tidak Membenci Angin, saya sudah
berpikir bahwa Tere Liye adalah seorang pria. Kenapa? Karena meskipun di bagian
profile, Bang tere tidak memberikan banyak petunjuk. Cukup satu email dengan
nama aslinya, Darwis, saya sudah menebak ada rahasia dibalik nama ini. Heheh...
Mengikuti perkembangan dunia penulisan dan perfilman membuat saya begitu semangat dengan adanya workshop sejenis untuk menunjang bakat dan minat saya. Ketika bergerak ke baruga di pagi hari, saya sudah berpikir bahwa pesertanya pagi ini adalah penggemar Bang Tere dan tentu saja penulis-penulis “tak pernah menyerah”. Maka, dengan pemikiran itu saya simpulkan bahwa baruga yang berkapasitas 5000 orang itu hanya akan terpenuhi sekitar paling banyak 500 orang. Mengingat hari yang dipilih adalah hari kerja dan minat baca dan tulis buku mahasiswa saat ini sangat sedikit.
Bagiku, mereka melewatkan kesempatan besar untuk menemukan dunia literasi yang membanggakan. Seperti yang diceritakan Bang Tere di awal “ceramah”nya tentang betapa pentingnya menulis.
“Alkisah ada tiga mahasiswi kedokteran yang berasal dari daerah yang berbeda datang ke kota besar untuk menuntut ilmu. Mereka selalu bersama-sama. Belajar, tinggal di rumah yang sama, datang di kelas yang sama, dan mengerjakan tugas bersama-sama. Setelah empat tahun berlalu, mereka akan kembali ke kota masing-masing. Sebelum perpisahan itu, ketiganya berjanji akan bertemu kembali setelah sepuluh tahun dan menceritakan siapa yang paling banyak mengobati pasien. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu baik? Sepuluh tahun pun berlalu. Mereka bertemu kembali. Wanita yang pertama mulai bercerita mengenai karirnya sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit. Keramahan, rendah hati dan kepeduliannya terhadap sesama membuat ia dikenal banyak orang di kotanya. Banyak orang yang memilih berobat padanya karena kemurahan hatinya pada orang-orang yang tidak mampu. Jika ditotal-total, selama sepuluh tahun berkarya ia sudah mengobati 100.000 pasien. Kedua temannya benar-benar takjub padanya. Tiba giliran wanita yang kedua untuk bercerita. Ia banyak melakukan pengalaman hebat dalam hidupnya sepuluh tahun terakhir. Ilmunya sangat dibutuhkan di kondisi-kondisi pasca bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir dan lain-lain. ia pun menjelajah indonesia bahkan ke luar negeri untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Perlu diketahui bahwa dalam kondisi pasca gempa, seorang dokter bisa mengobati puluhan pasien sekaligus. Dalam sepuluh tahun, ia sudah mengobati 120.000 pasien. Kedua temannya sangat takjub. Dan wanita yang ketiga pun mendapat giliran untuk bercerita. Ia ketika lulus membuka sebuah praktek di dekat rumahnya. Namun, ketika itu Ibunya sakit keras. Sebagai anak satu-satunya ia pun mengabdikan dirinya untuk merawat ibunya. Ilmu-ilmu kedokterannya ia terapkan pada ibunya sebagai pasienya. Lima tahun berlalu, usahanya tetap akan kalah dengan waktu. Tuhan memanggil ibunya. Saat akan kembali memulai bekerja, suaminya juga jatuh sakit. Sebagai istri dan memiliki pengalaman merawat ibunya bertahun-tahun, ia mengabdikan dirinya untuk merawat suaminya. Hingga tahun kesepuluh tiba, ia hanya mengobati dua pasien. Kedua temannya terdiam. Wanita itu pun melanjutkan. Ia memiliki sebuah kisah besar yang tidak terduga. Selama merawat ibunya, ia mengisi kekosongan harinya dengan menulis di blog tentang tips-tips dunia kesehatan, juga menulis tentang bagaimana ia merawat ibunya yang sakit. Satu dua tahun berlalu, pengunjung blognya ternyata mencapai ribuan orang. Tahun-tahun berikutnya, sebuah penerbit melirik tulisannya. Sebuah buku pun terbit. Ia semakin semangat menulis di blog dan buku-buku berikutnya pun terbit. pembaca blog sudah mencapai ratusan ribu dan bukunya bisa dinikmati oleh banyak orang di seluruh indonesia.”*
Rasanya sudah banyak cerita yang saya dengar untuk memberikan motivasi menulis yang besar padaku. Namun, tidak seperti kisah yang diceritakan Bang Tere pada kami. Menulis di blog yang pengunjungnya masih puluhan ribu dan kebanyakan silent reader itu sempat membuat saya patah semangat menulis. Ketika Bang Tere mengatakan bahwa tidak peduli siapa yang membacanya, tuliskan saja. Di luar sana akan banyak orang yang membutuhkan tulisan kita karena memiliki perasaan yang sama.
Ucapan mudah dilupakan, namun tulisan akan teringat selamanya. Seperti kata dosen saya bahwa sebuah catatan akan mengalahkan ribuan ingatan.
Menulis kata Bang Tere seperti halnya memasak. Tidak perlu dipikirkan, cukup dituliskan saja. Biarkan ia menari bersama pena dan ide-ide yang bertebaran.
Hari itu, nyala jiwa penulis saya dibakar kembali oleh kata-kata Bang Tere. Semoga tidak mudah padam dan terus menyala.
Hanya satu yang perlu dilakukan oleh penulis, baca, lihat, dan tulis! *versi saya*
Memang salah sekali jika penulis tidak pernah membaca, karena baca adalah suplemen penting seorang penulis.
Maju terus penulis Indonesia!!!
*cerita
ditulis kembali oleh saya berdasarkan cerita dari Tere Liye.
Comments