Me and My Family : Serena Biskuit Menghangatkan Keluarga



Dear Serena Biskuit...

Hari-hari terakhir ini aku mengalami banyak kejadian lucu. Mulai dari sendal yang tertukar dengan teman lama yang sudah tidak pernah bertemu hingga pertemuan tak sengaja dengan ayahku. Hari itu aku baru pulang dari sekolah. Seperti biasa sejak lima tahun terakhir, aku menunggu ibu di depan gerbang sekolah. Lama sekali. Panas terik menyengat. Siang itu ibu datang terlambat. Aku akhirnya memilih shalat dulu di masjid terdekat.

Sembari menunggu pesan ibu, aku memperhatikan beberapa orang yang keluar masuk masjid. Mereka berupa-rupa. Tidak pernah aku membayangkan akan ada dalam keadaan memperhatikan orang yang masuk masjid. Tapi hari ini, aku memilih duduk menanti ibu sambil memperhatikan mereka.

Di antara orang-orang yang keluar, hanya yang keluar dengan dua plastik besar. Ia juga menenteng sebuah tas ransel penuh menarik perhatianku. Ia tergopoh-gopoh ia mencari sepatunya. Memasang kaus kakinya sambil memperhatikan tas plastik besarnya yang hampir jatuh.

Hatiku bergetar melihat orang yang ini. Dari samping aku seperti mengenalinya. Caranya memandang ke depan dan wajah seriusnya memasang sepatu. Itu ayahku. Aku menunduk mencari apa saja yang bisa menutupi wajahku. Tapi terlambat, pria itu sudah menyadari kehadiranku.

Ia melepas semua bawaannya. Mendekat memelukku. Hangat.

“Kamu ngapain disini?” tanyanya seusai memelukku erat.
Aku melihat tas plastiknya sudah terjatuh ke lantai. “Nunggu ibu.”
Ia berbalik dan beranjak merapikan tas plastiknya. “Masih lama?” tanyanya lagi.

Aku mengangkat bahu. Cuek. Sesungguhnya aku tidak sanggup berkata-kata. Air mataku hampir jatuh kalau tidak kutahan dengan sepenuh hati. Aku tidak ingin menangis di depannya. Aku tidak ingin terlihat begitu merindukkannya padahal aku menangis seminggu ketika ia dan ibu bercerai.

“Kalau gitu biar papa yang antar ke rumah.”
Aku menggeleng. “Nanti ibu gimana?”
“Biar papa yang bilang. Kamu mau ikut papa?”
“Kemana?”
----
Ayah menghentikkan mobilnya di depan sebuah rumah yang ramai sekali. Suara keramaian itu bahkan terdengar dari luar pagar. Suara itu didominasi oleh teriakan anak-anak yang bermain riang gembira. Ayah mengajak masuk ke dalam dan berakhir dengan sambutan anak-anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Mereka berlarian di dekatku. Memegang tanganku sambil tersenyum senang.

Ayah meninggalkanku dengan mereka sementara ia masuk ke dalam rumah dengan tas plastiknya tadi. Menyerahkannya pada seorang wanita di pintu masuk. Lalu keluar lagi mendekatiku.

“Ini kakak Rana. Ayo, salam sama kakak Rana.” Ayah berkata penuh semangat pada anak-anak itu. Mereka pun berteriak menyambutku. Satu per satu mendekatiku dan mencium tanganku. Aku menatap Ayah lama-lama. Siapa mereka?

Belum sempat ayah menjawab, wanita yang berdiri di pintu tadi sudah keluar dengan sebuah nampan berisi biskuit yang dibawa Ayah tadi.

“Serena... serena biskuit yeee!” teriak anak-anak itu gembira. Satu satu tangan mereka mengambil biskuit coklat yang enak itu. Memasukkan ke dalam mulutnya dengan cepat. enak sekali. Aku yang belum makan siang pun tergoda.

Aku tersenyum pada mereka sembari mengunyah biskuit serena di dalam mulutku.
“Ini keluarga Papa.”  Kata Papa sambil tersenyum hangat.
----
Ayah mengantarku pulang dengan sebungkus Serena di tangan. Kata Ayah, biskuit itu enak. Aku tersenyum. Aku akan sering memakan ini sekarang. Sebagai pertanda aku sangat rindu sama Ayah.

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

PENYANYI PRIA TERBAIK di KOREA berdasarkan penilaian ahli vokal korea