Bukan Untuk Diulang


Bukan Untuk Diulang
By : Achy

            Semester empat berakhir dengan kesibukan. Setelah mata kuliah-mata kuliah yang melelahkan, mulai dari praktik survailans yang menguras tenaga, waktu dan hati. Juga praktek survai epidemiologi yang mengubahmu sekejap menjadi peneror lewat telepon. Semester empat yang sibuk ternyata tidak diakhiri dengan santai. Sebuah momen yang tak diharapkan menanti di ujung semester ini. PBL...

            Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) menjadi misteri bagi setiap mahasiswa baru. Seperti apa mata kuliah lapangan yang dilaksanakan tiga kali ini? Apakah akan susah sekali? Berhubung kita diwajibkan tinggal bersama mahasiswa lain dari jurusan berbeda di satu atap selama dua minggu. Misteri itu mulai terpecahkan seiring waktu pemberangkatan mulai dekat.

            Di sinilah di sebuah kecamatan di pinggir kota Makassar, kami melakukan pendekatan dengan teman-teman lainnya dan juga masyarakat sekitar. Kelurahan Tammua Kecamatan Tallo. Bersama dengan 17 orang lainnya, kami duduk bersama di bawah satu atap. Berbagi pikiran bersama untuk mewujudkan satu tujuan bersama “Tammua Lebih Bersih”.

            Delapan Belas pejuang kesehatan itu datang dari jurusan berbeda, dengan karakter yang berbeda-beda, dengan sifat dan tindakan yang beda, lucu, unik dan tidak ada duanya. Bersama dengan pembekalan selama empat bulan berjuang untuk merubah perilaku masyarakat Tammua menjadi lebih baik.
PBL 1 penuh dengan kerja keras!

            Tidak pernah kami bayangkan untuk selelah ini dalam pengumpulan data. Pergi pagi, panas-panasan, mengetok rumah ke rumah yang lain bak peminta sumbangan, pulang di sore hari dengan bermandikan peluh. Belum lagi jika hari itu adalah hari piketmu, maka semakin beratlah beban Anda. 

            Sore hari bukan untuk bersantai. Perjuangan belum selesai. Onggokan kertas seolah memanggil kami dengan suara keras untuk segera diselesaikan. SPSS adalah sebuah software yang menakutkan. Menginput data memang terlihat mudah, tetapi sebenarnya sangat membosankan. Membutuhkan ketelitian agar tidak ada data yang missing dan tentu saja benar dalam penginputan. Hasil input data itu sangat berpengaruh dalam hasil seminar nanti. Ini karena para RW dan RT serta Kader yang siap membantah jika data ternyata salah.

PBL 2 Penuh Penolakan!
            Ternyata dalam kesulitan mengumpul data kemarin, lebih sulit lagi dalam melakukan penyuluhan. Ini bukan soal rasa malu, ini tentang harga diri. Dipandang pintar karena menjadi mahasiswa bukan berarti menjadi perhatian dalam masyarakat di kota besar. Penyuluhan HIV/AIDS kami yang diadakan di SMA Muhammadiyah 7 memang disambut baik oleh siswa-siswi. Penyuluhan di sekolah Dasar juga tidak begitu menyedihkan. Namun, penyuluhan di masyarakat luas adalah sebuah tantangan yang menguras emosi.

            Penyuluhan tentang Bahaya Rokok di lakukan di RW 01, RW 02 dan RW 05. Di sinilah kami belajar bahwa meskipun kami mahasiswa, yang merupakan sosok intelektual, tetap saja kami hanya manusia biasa yang butuh perjuangan untuk mengumpulkan warga agar mau mendengar kami.

            Hal serupa juga terjadi pada penyuluhan sampah. Kami sangat kecewa karena partisipasi masyarakat yang kurang. Meski begitu kami tetap memakluminya karena bagaimanapun ini adalah salah kami dalam kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

            Untuk penyuluhan ASI Eksklusif membutuhkan tenaga ekstra untuk menari perhatian para ibu-ibu yang membawa bayinya untuk diimunisasi. Mengumpulkan mereka memang tidak susah sebab tempat kami mengadakan penyuluhan adalah posyandu dimana mereka akan datang dengan sendirinya. Namun, kesulitan terjadi pada saat penyampaian materi dimana mereka lebih fokus untuk menjaga bayinya dibandingkan mendengarkan kami yang datang dengan sepenuh hati untuk menyebarkan informasi kesehatan setulus hati.

            Pemberian informasi kesehatan pada masyarakat sebanding dengan kesulitan mendapatkan hasil yang di inginkan, perubahan perilaku masyarakat dari negatif menjadi positif. Namun, perhatian yang kurang dari masyarakat menjadi sebuah tantangan tersendiri yang di hadapi. Kenapa? Karena meskipun kita sudah datang dengan suka cita dan disambut oleh tetua kelurahan dengan hangat, tidak berarti dengan masyarakat sekitar. Permasalahannya adalah kita berada di kota besar!

            Perbedaan mendasar dari pembimbingan pada kota dan desa pada letak partisipasi masyarakat. Di kota besar dengan banyaknya penduduk yang berpendidikan tentu akan sulit untuk memberikan informasi kesehatan dalam satu kali penyuluhan. Orang berpendidikan belum tentu tidak memiliki masalah kesehatan. Oleh karena itu, mereka tidak luput dari sasaran. Masalahnya adalah orang-orang yang tinggal di kota berada dalam tahap ‘tahu-tidak mau’. Maksudnya, orang-orang berpendidikan sadar akan bahaya kesehatan yang mengintai, namun mereka enggan untuk memeriksakan kesehatan pribadi. 

            Berbeda dengan orang-orang yang tinggal di desa, mereka berada dalam tahap ‘tidak tahu-mau’. Dengan begitu, proses pemberian informasi dan juga bimbingan akan lebih mudah. 

            Melihat kondisi di atas, kami hanya bisa berusaha semampunya dengan mengandalkan tetua RW/RT untuk membantu mengumpulkan warga. Tiga puluh hingga empat puluh orang adalah hal yang maksimal bagi kami. Tetapi, untuk menilai status kesehatan dan peningkatan pengetahuan warga sejumlah ribuan orang dengan sampel tidak sampai 50 orang adalah sebuah kesulitan.

            Oleh karena itu, kami kesulitan untuk memberikan sebuah interpretasi yang sesuai bagi warga Tammua.

PBL 3 Santai Tapi Serius??
            Pernah mendengar tentang sebuah pepatah yang mengatakan ‘bisa santai asal serius?’. Tentu ada yang pernah mendengar. Pepatah itu sangat terbalik dengan kami pada PBL 3. PBL 3 berisi kegiatan evaluasi. Dimana kami akan mengevaluasi berbagai intervensi yang pernah kami lakukan di PBL 2. Di sinilah letak kesulitan itu.

            Jika hasil yang kami dapatkan gagal, maka semua warga akan bertanya ‘kenapa bisa gagal?’ Lalu apa yang bisa kami lakukan dengan pertanyaan tersebut jika jawabannya pasti adalah ‘kurang partisipasi warga.’

            Kami memang sangat santai, tetapi tidak serius. Kami hanya bekerja asal-asalan. Maaf teman-teman saya harus menuliskan ini.  Karena memang inilah hasilnya. Sebuah kegagalan.


THE ENDING
            Kita memang tidak pernah berharap untuk bersama-sama di PBL ini. Namun, Allah menjadikan kita bersama dalam suatu kelompok yang sama. Bersama kita berusaha saling mengenal, saling memahami dan mencoba untuk meredam aneka rasa di dalam hati, entah itu benci, marah, sedih bahkan suka mungkin. Kita sudah bagaikan saudara. Tinggal di bawah atap yang sama menjadikan kita menjadi lebih erat. Sayang, itu hanya di PBL. Di kehidupan nyata kehidupan kampus , kita kembali dalam kehidupan yang lama. Meski begitu, tetap akan sulit menemukan yang seperti kalian. 

            PBL membuat hidupmu seperti pelangi ^^

            Untuk Chan, Kak Dian, Yusit, Aing, Mei, Muli, Ulma, Dwi, Wiwiek, Ade, Cida, Nisa, Diana, Khaidir, Panji, Zul, dan Haslam. 

Bukan Untuk Diulang :























C

           
                         

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y