Hari pertama, waktu pemberangkatan ke lokasi.
13
Juni 2013
Dihiasi dengan angka ‘sial’ menurut
mitos, mahasiswa peserta KKN-PK (Profesi Kesehatan) berangkat dari kampus
menuju kabupaten Takalar. Di dalam kepalaku, Takalar adalah sebuah kota yang
sering didengar tapi abstrak. Samar-samar saya membayangkan, mengimajinasikan
kota Takalar mungkin tidak jauh berbeda dengan kota Bau-bau.
Alhamdulillah, barang bawaan yang
begitu banyak sedikit bisa dibantu oleh kawan-kawan yang baik hati. Terima
kasih buat Ainum yang dengan berbaik hati memberikan tumpangan padaku. Juga
buat adiknya yang membantu membawakan tas besarku. Sejak malam, sudah tidak
bisa tidur karena memikirkan hari ini yang akan begitu berat. Air mata jatuh
diam-diam takkala menerima telepon dari mama dan bude yang melepas kepergianku
dengan doa. Ah~ saya berusaha tegar untuk tidak menjadi manja. Setelah
memutuskan untuk kuliah di luar kota, hal-hal seperti ini akan selalu terjadi.
Mengurus diri sendiri. Mengepak barang sendiri. Tanpa bantuan dari orang tua.
Sedih? Iya sih. Tetapi, kita harus bertambah dewasa dan mandiri. Bukankah itu
tujuan dari kuliah jauh dengan orang tua.
Berangkat yang awalnya bersama
teman-teman di bus batal. Ainum menjemputku terlalu lama dan tentu saja saya
menunggu. Meskipun saya tidak suka menunggu, tapi saya tetap akan menunggu. Bus
nya penuh dan saya menerima anugerah Allah yang lain. berangkat semobil dengan
kiki. Terima kasih Kiki. Ya~ setidaknya tidak perlu berdesak-desakkan di bis.
Lagi pula terlalu banyak orang dan barang. Jadi, ini sebuah anugerah.
Tiba di kantor Bupati Takalar, kami
menunggu diluar karena hanya kordes dan korkab yang mengikuti acara pelepasan.
Di sana, setidaknya bertemu dengan teman-teman seposko dan juga
sahabat-sahabatku. Tapi, saya nggak lihat Fara. Belum bisa move on dari posko PBL itu tema saat bertemu teman-teman
posko. Yupp~ 6 minggu bersama di PBL membuat suatu keeratan di dalam hati kami
(iyakah? Haha!). Ya~ setidaknya sangat menyenangkan bersama kalian Tammuaach! Sulit menemukan yang seperti
kalian : D
Perjalanan
berikutnya mencari posko KKN. Bertemu dengan seorang karyawan di kantor
kecamatan. Mereka semua mengatakan kasihan pada kami yang mendapat desa paling
ujung di Takalar, Desa Towata. Kepala Desanya belum datang dan kami hanya bisa
berspekulasi tentang kondisi tempat kami akan belajar lapangan nanti. Syukurlah
Bapak Kepala Desa segera tiba dengan dua mobil untuk kami. Beliau pun
menjelaskan bahwa kondisi jalan ke desa kami bagus. Alhamdulillah. Kedua,
lokasi kami dekat dengan kota Makassar lewat daerah Sungguminasa Gowa.
Alhamdulillah.
Perjalanan kami terus melaju melalui
daerah Gowa. Sebenarnya banyak jalan menuju Desa Towata berhubung desa tersebut
dekat dengan perbatasan Gowa-Takalar. Tetapi, rute yang dianjurkan oleh Kades
ini...sangat jauhh! Diperjalanan saya bahkan sempat tertidur. Semakin lama,
warung-warung makan dan alfa-alfa mart yang bertebaran di jalan mulai
menghilang digantikan hamparan sawah yang menghijau. Khas Indonesia sekali.
Sawah berganti dengan bendungan panjang di sisi jalan. Juga hamparan kebun tebu
dan jagung. Hingga kami masuk ke daerah Desa Towata.
Sepi. Sunyi. Senyap. Damai. Itu
adalah kesan pertama ketika memasuki kawasan Towata. Kami akui memang jalanan
desa ini mulus lancar, tetapi apa bedanya jalanan mulus dengan daerah yang
tanpa kendaraan umum. Sepi sekali. Saya dan teman-teman hanya bisa menahan
napas melihat daerah yang mulai menjadi desa sekali. Tetapi, syukurlah kami
diterima dengan baik oleh Ibu Desa dan juga tetangga-tetangganya.
Satu hal yang perlu disyukuri adalah
air yang tidak perlu ditimba. Meskipun keruh tetapi setidaknya kami bisa mandi.
Karena ada teman kampus yang hidupnya selama dua bulan akan menimba air.
Well~ meskipun bunyi jangkrik di
malam hari akan terdengar nyaring, tetapi harus tetap dijalani dengan
semangat!! Semangat! Masih ada dua bulan lagi -___-
See yaa, tomorrow! *bow*
Comments