MAU PULANG KAMPUNG SUSAH!!



            Ribetnya pulang kampung masih menjadi wacana untuk sebagian besar ‘orang kecil’ di negeri kita. Banyaknya masyarakat desa yang melakukan migrasi ke kota-kota besar adalah fenomena yang ‘biasa’ untuk negara-negara berkembang. Seperti Indonesia, setiap tahun ratusan warga desa melakukan migrasi ke kota-kota. Baik untuk mencari pekerjaan, bekerja hingga bersekolah di kota. Alasannya Cuma satu yaitu kehidupan di kota ‘mungkin’ jauh lebih baik.
            Kehidupan di kota memang menjanjikan. Dengan promosi besar-besaran masyarakat kota membuat banyak orang ingin hidup di kota. Melalui tayangan di televisi, kita bisa melihat bahwa hidup di kota itu ‘menyenangkan’. Dari segi pekerjaan yang bagus hingga kualitas pendidikan yang terjamin. Maka, tidak heran jika kota menjadi sasaran bagi pelajar yang ingin melanjutkan sekolah.
            Sekolah bukan hanya untuk orang yang mampu. Dengan banyaknya program pemerintah untuk menjadikan Indonesia Cerdas. Beasiswa-beasiswa dan program sekolah gratis terus dicanangkan. Banyak masyarakat Indonesia yang sudah tidak pusing lagi untuk bisa sekolah hingga 12 tahun. Untuk melanjutkan ke universitas, pemerintah juga menyediakan dana bagi mereka yang berprestasi.
            Awal musim sekolah menjadi waktu yang menyenangkan sekaligus menyedihkan bagi mereka para perantau dari golongan kecil. Jarak yang jauh dari kota ke desa membuat banyak yang enggan untuk pulang kampung. Namun, rayuan rindu akan sanak saudara tidak bisa diindahkan. Pemerintah menyediakan sarana angkutan umum bagi masyarakat Indonesia dari angkutan darat seperti mobil angkutan umum, bus, busway, kereta api hingga kereta express. Juga jalur udara dengan pesawat terbang dan jalur laut dengan kapal penumpang.
            Wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak pulau membuat sarana kapal laut menjadi pilihan banyak masyarakat Indonesia. Harga sewa yang terjangkau adalah pilihan banyak orang. Namun, menggunakan kapal laut tidak seenak yang dibayangkan. Mengarungi lautan luas memang indah. Itu jika dilakukan dengan kapal pesiar besar dan mewah. Lalu bagaimana jika mengarungi lautan luas di atas kapal penumpang? Saya yakin buat yang baru pertama kali tidak akan mau lagi. Hehehe...
            Kapal penumpang yang disediakan pemerintah berada di bawah pengaturan PT. PELNI . Banyak kapal yang beroperasi ke seluruh Indonesia. Jasa-jasa yang ditawarkan adalah kelas ekonomi, kelas 1, kelas 2, kelas 3 dan kelas eksekutif. Harga sewanya mengikut dari fasilitas yang di dapatkan. Untuk kelas ekonomi mendapatkan kasur dan makanan. Untuk kelas 1, 2, 3 dan eksekutif mendapatkan kamar dan makanan. Perbedaan jelas terlihat dari kenyamanan tinggal selama beberapa jam/hari. Maka, bagi yang memiliki uang berlebih kapal bukanlah menjadi masalah.
            Kenyamanan dan keselataman seharusnya menjadi prioritas dalam pelayanan publik. Kapal tidak memberikan kedua prioritas itu. Kenyamanan tidak didapatkan dengan tidak tersedianya kasur bagi penumpang kelas ekonomi. Saat membeli tiket tertera nomor tempat tidur, namun ketika berada di atas kapal nomor tersebut tidak berarti lagi. Jumlah kasur yang seharusnya disesuaikan dengan jumlah penumpang tidak berlaku. Setiap orang yang memiliki tiket kelas ekonomi mempunyai tugas penting besar di atas kapal. Berebut mencari kenyamann. Bukankah kenyamanan adalah tugas penyedia jasa transportasi?
            Keselamatan penumpang kapal juga tidak menjadi prioritas ketika jumlah penumpang yang sudah dibatasi ternyata melampaui batas. Ini bukan mengharapkan kejadian mengerikan terjadi, namun keselamatan penumpang adalah yang utama apabila terjadi sesuatu di atas kapal. Bisa dimulai dengan kecelakaan yang paling berbahaya yang bisa menyebabkan kapal tenggelam. Seperti yang kita ketahui jumlah pelampung yang disediakan adalah dihitung per kasur, pun ada lebihnya tidak akan mampu untuk diberikan pada penumpang kapal yang selalu membludak dan melewati batas. Khususnya pada masa-masa mudik. Jumlah sekoci penyelamat juga tidak akan mampu menampung seluruh penumpang yang membludak. Kita tidak ingin kan terjadi sesuatu yang mengerikan seperti tragedi kapal titanic?
            Selain itu, jadwal kapal yang tidak menentu menjadi masalah besar. Ketika kapal yang seharusnya datang jam sekian menjadi molor hingga beberapa jam. Hal ini mengakibatkan banyak hal yang terpaksa dibatalkan.
            Semua masalah di atas sudah menjadi rahasia umum. Sehingga segala ketidaknyamanan diterima lapang dada oleh calon penumpang kapal. Hanya saja, kenyataan ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi penyedia jasa layanan publik. Bahwa meskipun hanya ‘orang kecil’ tetapi pelayanan yang terbaik adalah yang utama. Calon penumpang sudah membayar, maka tidak sah jika para penyedia jas layanan publik tidak melayani dengan baik.
            Hal ini serupa dengan jasa transportasi yang lain. Yang paling parah adalah menggunakan kereta api.
            Semoga ke depan, menteri perhubungan lebih memperhatikan jasa transportasi yang paling banyak digunakan masyarakat Indonesia.
           

Comments

Popular posts from this blog

KEEP SHINING AND KEEP THE FAITH

S U D D E N L Y