SATU NAMA BERIBU KISAH
“...sulit
menemukan yang seperti kalian.” – Achy
Ini bukan lebay. Mungkin karena ini
adalah petualangan sekali seumur hidup, maka semoga kenangan ini akan selalu
hidup selamanya. Pertemanan kita tidak akan berakhir meskipun kita sudah tidak
bersama-sama lagi.
Sepuluh orang mahasiswa dari
berbagai jurusan kesehatan berkumpul menjadi satu. Di sebuah rumah hijau yang
meneduhkan. Kita bersama berusaha. Menemukan celah untuk bisa menjadi satu di
atas segala perbedaan. Towaters.
Nama itu muncul begitu saja seiring kebersamaan kita yang semakin hari semakin seru. Kuliah Kerja Nyata awalnya menjadi sebuah momen yang paling tidak dinantikan. Untuk saya juga. Susah sekali hari-hari sebelum KKN digelar. Rasanya seluruh tubuh ini akan tumbang. Semua karena sebelumnya kita dari jurusan FKM sudah menjalani PBL selama tiga kali. PBL kurang lebih seperti KKN kegiatannya. Bedanya, KKN kita akan bersatu dengan masyarakat desa. Makanya, menghadapi KKN cukup membuat saya lelah.
Ternyata, kita semua salah. KKN tidak jauh dari kata menyenangkan. Awesome. Seperti tagline yang ada, “KKN enak dikenang, bukan untuk diulang!”. Kekhawatiran saya selama ini sirna sudah setelah bertemu mereka, Towaters...
Towaters diambil dari nama desa tempat kami akan mengabdikan diri. Desa Towata yang terletak di ujung Kabupaten Takalar. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa. Di rumah Kepala Desa, kami bersepuluh mencoba untuk bisa tinggal bersama-sama.
Towaters itu Yani, Ibnu, Supi, Nina, Aya, Wanty, Achy, Kiki, Ancu dan Dianah. Kenal? Saya kenal mereka semua. Sepuluh pejuang kesehatan dari Desa Towata yang kerjanya setengah praktisi kesehatan setengah lagi enggak jelas. Mulai dari yang bisa jadi supir antar daerah, bisa nyanyi di kamar mandi, bisa main gitar, bisa melucu beudd, bisa nonton drama berjam-jam, bisa baca novel berjam-jam, bisa belajar sambil jalan akhirnya nabrak tembok, bisa nge-instagram dimana saja kapan saja, bisa masak apa saja, bisa kerja apa saja, bisa mijit enak banget, bisa-bisa apa saja. Pertama, saya rindu kalian semua.
Ingat saat pertama kali datang? Saat mobil Pak Desa menyusuri pesisir sungai yang jauh? Saat itu, saya dan aya menahan napas. Syok! Lokasinya jauh banget. Perjalanan menuju posko bagaikan kembali pulang ke Makassar. Kurang lebih se-jam dari kantor Kabupaten akhirnya kita tiba di rumah kepala Desa. Hanya satu doa saya selamanya perjalanan, semoga bukan rumah panggung dan airnya mengalir sampai jauh.
Masih ingat malam pertama di posko? Yang ada hanya kita berenam. Saya, Kiki, Ancu, Wanty, Dianah dan Aya. Main kartu sembunyi-sembunyi sambil nunggu pak Desa pulang dari kondangan. Malamnya, lima cewek berusaha tidur di atas satu tempat tidur. Sempit. Dengan satu gaya. Ditemani suara riuh anjing yang melolong. Seram. Udara dingin tidak terasa karena kita tidur begitu rapat.
Masih ingat saat kita bersepuluh berkumpul untuk pertama kalinya? Saya lupa-lupa sih. Yang jelas malam itu ada dokter Qui. Supervisor Terbaik-Terkeren-Terkece-Termuaach *eh*. Di sana mungkin kita mulai mengenal. Mungkin juga berpikir. “Inikah towaters, teman hidup selama dua bulan?” Hahaha?
Masih ingat hari-hari pertama di posko? Melihat anak-anak FK yang kerjanya Cuma megang “manual” dan berjalan kesana kemari? Atau pergi ke pasar yang jauh? Atau duduk termenung memikirkan nggak punya kendaraan?
Masih ingat hari-hari dimana kita “merdeka”? Bisa pergi kemana pun? Makan bakso raksasa. Pulang pergi Makassar Takalar dalam sehari. Gagal ke Punaga. Nyasar di posko yang jauh beudd. Ban rusak di tengah jalan. Nonton bareng. Ditraktir Aya. Bangunin Ibu Desa tiap tengah malam. Itu karena kita “merdeka” banget.
Masih ingat proker-proker kita? Ketika kita seperti “marah” karena kurangnya kebersamaan? Tapi akhirnya semua terlewati dengan indah. Meskipun jumlah peserta yang minim. Semangat kita meruntuhkan segala kekurangan yang ada.
Masih ingat? Masih ingat nggak? Seminggu setelah kita berpisah. Rasanya masih sulit membiasakan diri hidup tanpa kalian. Dua bulan kemarin adalah kesempatan berharga yang diberikan Allah pada kita untuk saling mengenal. Sulit menemukan yang seperti kalian.
Mungkin kita tidak sempat saling berbagi di hari terakhir. Namun, bagiku tidak ada malam terakhir karena insya Allah kita akan terus bersama di malam-malam berikutnya. Di Towata maupun di rumah masing-masing dengan keluarga kita masing-masing maksudnya :D
Selamat Malam, Towaters...
Minal Aidzin Wal Faidzin Mohon Maaf
Lahir dan Bathin...
Nb
:
There’s
many story i want to write. Just wait!! Hehehe ^^
Buton,
8 Agustus 2013
C









Comments