Bunga Yang Menunggu Kupu-Kupu
![]() |
| ilustrasi (sumber : google) |
Ada
rasa gugup yang mengugah sanubari. Menerbangkan burung-burung serempak melewati
musim. Getaran bahagia, getaran tak menentu. Terus ku remas jemari tanganku.
Mengelupaskan rasa haus akan menebak waktu-waktu tepat. Sambil memandang riak
gelombang kesempatan, aku berdoa di dalam hati.
Dalam
riak-riak air yang tergenang, kupandangi wajahmu dari jauh. Terpantul berada di
hadapanku. Aku tersenyum. Berterima kasih pada Allah. Mengirim genangan air
yang berubah menjadi cermin. Dari jauh para malaikat menyindir pada wanita tak
tahu malu. Mengharap pungguk bertemu dengan bulan.
Waktu-waktu
terus berganti. Perubahan-perubahan terus terjadi. Aku masih menyukai melihat
dirimu dari genangan air. Sementara, para iblis mulai turut menertawakanku.
Tidakkah aku berusaha menyamakan air kotor dengan wajah malaikat? Tidakkah aku
berniat untuk berubah?
Tidak.
Aku tidak bisa. Bukankah pepatah mengatakan untuk menjadi diri sendiri. Inilah
diriku. Melihatmu dari cermin air. Saat kau tersenyum ke sisi lain, cermin air
memantulkan senyumanmu ke hadapanku. Di waktu mana lagi aku bisa membalas
senyumnya?
Di
waktu habis hujan. Bukan pelangi yang aku suka. Aku suka berada di dekatmu, di
dekat cermin air. Agar aku bisa melihat senyummu, setidaknya dari pantulan
cermin. Agar aku bisa merasakan getaran di hatiku, setidaknya dari pantulan
cermin air. Agar aku terus seperti orang bodoh, karena pantulan cermin air. Tidakkah
kamu berniat memberli cermin yang besar? tanya malaikat.
Bukan
untuk melihat dia dari pantulan cermin. Namun, untuk melihat ketakutanmu dari
pantulan cermin. Cermin ternyata punya fungsi ajaib. Cermin bisa memantulkan
sifat yang tidak tampak di dimensi yang sebenarnya. Cermin seperti itu yang ditawarkan malaikat.
Untuk melihat benarkan aku menyukainya? Untuk memperlihatkan kedalaman hatiku
yang sebenarnya. Agar aku berhenti menjadi orang bodoh. Yang membuang
waktu-waktu. Menunggu orang yang tidak ingin ditunggu.
Malaikat
dan jin kini bersekongkol. Menusukku dari belakang. Semula keduanya berjalan
berlawanan. Kadang menentangku, mencemoohku, memotivasiku, dan juga
membodohiku. Kini keduanya sepakat. Menandatangani surat perdamaian. Demi
mewujudkan satu tujuan. Membuatku menjauh darinya. Cermin ajaib adalah
hadiahnya.
Cermin
itu bukan seperti yang aku bayangkan. Ia bukan benda yang seperti genangan air.
Ia bahkan tidak memantulkan gambar diriku. Cermin itu adalah dia. Dia yang
selalu kulihat dalam pantulan cermin. Kini berada di depanku. Memantulkan isi
hatiku yang berdebar. Perasaan lain timbul. Bukan perasaan-perasaan seperti
dahulu. Ini berbeda. Aku hanya ingin berlari dari keadaan ini.
Tidakkah
aku sadar. Tidakkah ini kebenaran? Bagaimana aku melihat dirinya. Bagaimana aku
menilai perasaan ini. Hanya ketika aku berada jauh darinya. Aku menyadari
perasaan bahagia ini. Berbeda saat aku berada dekat dengannya. Aku hanya ingin
berlari darinya. Tidakkah aku telah salah?
Seperti
bunga yang berusaha menarik kupu-kupu. Dengan aroma harumnya, dengan bentuknya
yang jelita. Seperti itulah harusnya cinta hadir. Seperti madu yang diidamkan
serangga. Dengan rasa manis yang menggugah hati. Seperti itulah aku harus
mengekspresikan hatiku.
Melihatnya
dari jauh. Merasakan rasa bahagia dari jauh. Tidakkah aku terlalu lambat?
Tidakkah aku sadar? Aku hanya penasaran dengannya. Aku hanya penasaran dengan
perasaan ini. Perasaan ini disebut apa? Cinta??
Sudahlah.
Tutuplah lembaran hari-hari melelahkan ini. Biarkan menjadi pelajaran untukmu. Bahwa
bungan tidak perlu menunggu kupu-kupu untuk datang. Bahwa kupu-kupu akan datang
sendiri. Haruskah kita menunggu orang yang tidak ingin ditunggu???
Untuk bunga-bunga cantik di luar sana. Cintailah Allah dan biarkan Allah yang membagi cinta-Nya untuk orang-orang yang kau kasihi.
C

Comments