(CERPEN) Pria 20 Detik
“20?
20?!” Hyun Ah hampir tidak percaya dengan pendengarannya. Ia bertanya lebih
tegas. Mungkin saja Ree Na salah menyebutkan angka. Atau mungkin ia sedang
terserang penyakit alzeimer.
Ree
Na mengangguk mantap. Tidak ada kesalahan. Ia sudah menghitungnya dengan benar.
“Dua Puluh Detik! Hahaha!” Sambil tertawa puas, Ree Na meyakinkan sahabatnya
yang mangap tak percaya. Bagaimana mungkin kamu menyukai seseorang yang hanya
dilihat dua puluh detik?
***
Akhir
Musim Semi Bulan Lalu.
Toko
Kelontongan “Chugbog” lebih ramai dari biasanya. Pemiliknya sibuk sekali
melayani pembeli yang terus berdatangan. Kim YunSu, pria 45 tahun itu terus
semangat memamerkan senyum lebarnya meskipun ia sudah kelelahan. Penyakit
tuanya membuatnya tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Lihat saja, setelah
seharian melayani pembeli asam uratnya kambuh lagi.
“Appa!”
Ree Na mengeluh kesal melihat YunSu terjatuh sakit di depan televisi. Ibunya,
Ha Neul menegur dari belakang. Menyuruh Ree Na diam. YunSu baru saja tenang
dari rasa sakit di kakinya.
“Aku kan sudah bilang tidak usah membuka toko sampai malam. Kalian tidak
percaya padaku, ya? Aku sudah bekerja. Kalian istirahat saja.” Ree Na mengomel
tidak peduli. Sambil mengurut kaki YunSu, Ree Na menatap kesal pada adik
laki-lakinya. “Kau? Kau tidak dengar apa yang aku katakan? Jangan biarkan Appa
bekerja keras lagi. Kau sudah besar jangan hanya bermain basket saja kerjamu.
Hah!?”
Jae Ha berpura-pura menyesal. Ree Na berkedip padanya menyuruhnya meminta maaf.
Ha Neul hanya bisa menghela napas melihat kelakukan putrinya. Appa-nya sudah
sakit, ia malah bermain adegan tak berarti ini.
“Ck. Kalian ini. Umma bilang diam.” Ha Neul berteriak marah. Tangannya mengurut
lebih keras kaki YunSu. Naga yang tertidur itu akhirnya bangun.
“Apa kalian tidak bisa diaaammm??!!”
Ree Na dan Jae Ha berlari ke atas rumah. Keduanya duduk di atas meja besar di
bawah pohon. Sambil memandang langit, Ree Na memikirkan jalan keluar
kehidupannya. Kehidupannya begitu rumit. Tidak cinta, tidak harta. Keduanya
sama-sama gelap. Pekerjaannya di media cetak tidak akan menghasilkan banyak
uang untuknya. Apalagi sekarang orang-orang lebih suka membaca berita digital.
Penghasilannya sebagai wartawan media cetak mau tak mau berkurang. Apa ia harus
pindah media?
“Ree Na! Jae Ha! Cepat kebawah. Siapa itu yang menekan bel?” Ha Neul berteriak
dari bawah.
“Ya! Apa kau tidak dengar?” Ree Na menatap tajam Jae Ha yang pura-pura sibuk
membaca buku. “Yaa!” bentak Ree Na.
“Ahh Nunna! Apa kau ingin aku gagal masuk universitas?” Jae Ha beralasan. Ia
tersenyum menang melihat Ree Na beranjak turun.
“Siapa juga yang bertamu malam-malam begini?” gerutu Ree Na dalam hati. Ia
membuka pintu samping toko. Seorang pria berdiri di sana dengan memegang tas
besar. Demi melihat pria itu, dua puluh detik Ree Na berlalu penuh makna.
Dua puluh detik adalah waktu yang kau butuhkan untuk meliat kembang api kecil
meretas di atas kepalamu. Dua puluh detik cukup membuat hatimu berdebar tanpa
irama. Dua puluh detik dalam hidupmu adalah waktu berharga yang akan menjadi
kenangan indah. Dua puluh detik itu milik Ree Na sekarang.
“Itu..” Detik ke 21 pria itu mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh
Ree Na. Ia masih terpana. Otaknya belum bekerja di detik ke 21.
“Agaeshi?” Detik ke 25, tangan pria itu melambai di depan wajahnya. Untuk dua
puluh detik berharga dalam hidupnya, haruskah ia menangkap tangan itu dan
membelaikan di wajahnya. Tidak! Detik ke 26 Ree Na sudah menguasai dirinya.
“Nde?”
Pria itu lega. Ia batal mengira Ree Na buta dan tuli ketika mata Ree Na yang
indah menatap matanya. “Apa kau tahu alamat ini?”
Ree Na membaca alamat di kartu nama beserta nama pemiliknya. “Choi Ha
Neul? Chugbog Company?” Ree Na berpikir sebentar. Ia yakin tidak salah
membaca. Tetapi, tulisan itu seperti salah besar. sejak kapan Umma-nya bermarga
Choi. Dan, Chugbog hanya toko kecil biasa.
“Itu di sini.” Jawab Ree Na sambil kembali menatap wajah pria yang bagaikan
bunga ini. “Kau..ada perlu apa?”
“Omo! Tuan Kim. Mari silahkan masuk.” Ha Neul tersenyum ramah menyambut Kim Soo
Ha. “Aigoo~ kenapa datang malam-malam begini. Suami saya sudah tidur. Ia capek
sekali tadi melayani pembeli. Begitulah, toko kami sudah tidak mungkin jadi
toko biasa lagi. Sudah seperti menjadi mini market. Iya kan, Tuan Kim?”
Ree Na dan Jae Ha menatap ibunya yang mulai menjilat. Pria dua puluh detik di
depannya tersenyum manis. Ramah. Ia berencana bekerja sama dengan orang tuanya.
Ia pasti sudah berusia lebih mengingat pengaruh yang bisa ia lakukan pada
penghasilan orang tuanya. Ree Na berpikir keras. Apa rencana orangtuanya?
***
“Waah~ kau mendapat pria yang tepat.” Hyun Ah takjub mendengar cerita Ree Na.
“Jadi, apa kau akan bekerja di mini market Appa-mu?” tanya Hyun Ah ingin tahu.
Setelah semua kejadian hebat bersama pria dua puluh detik berdasarkan cerita
Ree Na, Hyun Ah benar-benar penasaran dengan akhir ceritanya.
“Kau penasaran bagaimana akhirnya, kan?” Ree Na tersenyum penuh arti. “Masih
lama kalau kau ingin tahu. Aku masih ingin menikmati masa-masa bekerja di media
cetak, di temani kisah percintaan yang... romantis!”
Hyun Ah berhenti menggambar. Pensil di tangannya masih berada di atas kertas.
Ia berpikir keras. Akankan ia kalah dengan Ree Na. Tinggal sebulan sebelum
deadline yang mereka tetapkan. Di seberang, Ree Na tersenyum menang. Ia memang
belum berhasil mendapat pacar, tapi ia sudah berhasil membuat Hyun Ah panas
dingin karena tidak percaya pada Ree Na.
***
Kembali ke akhir musim dingin bulan lalu.
Ree Na tidak menghabiskan banyak waktunya di kantor redaksi. Ia hanya menyetor
beberapa berita kemudian menghilang ke rumah. Ha Neul memintanya untuk mengurus
persuratan membangun mini market.
“Umma. Apa kau tidak salah menuliskan nama?” Ree Na membaca kembali surat-surat
yang diberikan Ha Neul. “Choi Ha Neul.. itu siapa?”
“Dasar anak kurang ajar! Apa kau tidak tahu nama Umma-mu sendiri.” Ha Neul
memukul bahu Ree Na dengan keras. “Aku meminjam marga pamanmu untuk
berjaga-jaga. Ia sudah berjanji membantu Umma.”
Ree Na menghela napas kesal. Menahan sakit pukulan Ha Neul. Ia berkesimpulan
bahwa sifatnya tidak jauh dengan Umma-nya, penuh akal cerdik. Seperti akan
mengerjai Hyun Ah dan rencana gilanya. Demi harga diri, Ree Na mendekati Kim
Soo ha dengan hati-hati.
“Kau bekerja sudah lama di sini?” Ree Na bertanya sementara Soo Ha membaca
dokumen-dokumen yang dibawanya. Mengangguk sebentar, Soo Ha kembali fokus
dengan kerjaannya. Ree Na tidak percaya Soo Ha benar-benar fokus, ia selalu
yakin para pria tidak akan bisa fokus bekerja di depan wanita. Mereka mungkin
hanya berusaha menunjukkan sisi baik untuk mendapat nilai lebih. Ree Na
benar-benar berpikiran aneh.
“Lima tahun atau sepuluh tahun setelah kau lulus universitas?” Ree Na melihat
sekeliling ruangan Soo Ha. Mencari bukti-bukti bahwa tebakannya salah. Soo Ha
harus menjadi pegawai baru di sini.
“Delapan. Delapan tahun aku menekuni bidang ini. Lumayan lama kan?” Soo Ha
membereskan dokumen-dokumen kembali ke dalam map. “Kau sudah lama jadi
wartawan?”
“Delapan ditambah dua puluh tiga?” ujar Ree Na pelan. Berpikir.
“Nde?”
“Ahh~ tiga puluh!”
Soo
Ha terkejut mendengar jawaban Ree Na. “Tiga puluh?”
“Oh!
Tidak. Aku baru dua tahun bekerja jadi wartawan.” Ree Na menyadari
kekeliruannya. “Kau menyukai pekerjaanmu. Delapan tahun bertahan?” Ree Na
berkata seperti membicarakan dirinya sendiri. Memasuki dunia kerja dengan tidak
percaya diri. Itu karena Ree Na lebih menyukai uang daripada tulisannya. Ia
berpikir media digital tidak menghasilkan uang banyak seperti media cetak.
Sekarang, ia sadar bahwa orang-orang lebih senang membaca berita di depan layar
daripada di depan kertas.
“Aku
menyukainya.”
“Terima
kasih. Umma-ku akan senang sekali.” Ujar Rena datar. Ia baru saja kembali ke
alam sadarnya dan Soo Ha mengatakan kata-kata yang membuat jantungnya berdebar.
Andai ‘nya’ diganti dengan ‘mu’, mungkin Ree Na sudah menunjukkan kehebatannya
dalam tarian dance ala girlband.
“Aku
menyukai pekerjaanku. Kadang kita menyukai hal-hal yang tidak disukai orang
lain. Itu mungkin terlihat seperti kelemahanmu. Tapi, kau bisa menjadikannya
kekuatan apabila kau menyukainya. Tidak peduli betapa besar rintangan di
dalamnya, asalkan hatimu benar-benar padanya. Hujan dan badai pun kau akan ada
di sana.
“Makanya,
kita butuh percaya diri. Dengan begitu, kau tidak akan mudah goyah karena perkataan
orang lain. Sulit memang di saat awal-awal bekerja. Kita akan bertanya-tanya
apakah ini yang benar-benar kita inginkan? Jika pekerjaan itu impianmu. Jangan
khawatir dengan perubahan dunia. Kau pasti menemukan jalan untuk mengikuti
perubahan dunia dengan caramu.” Jelas Soo Ha seperti tahu isi hati Ree Na.
“Aku
akan membawa ini ke atasan. Minggu depan mungkin sudah bisa selesai.”
“Terima
kasih. Kalau begitu aku permisi dulu.” Ree Na berjalan kosong meninggalkan
ruangan Soo Ha. Ia berterima kasih atas cermah Soo Ha. Tapi, satu jam
berbincang dengannya akankah berakhir begitu saja. Satu minggu lagi baru ia
bisa melihat pria ini lagi?
“Ree
Na-shi. Changkamman.”
Ting
Tong! Akankah dewi cinta berpihak padanya? Ree Na berbalik sembari
menyembunyikan muka berharapnya. “Nde?”
***
Ree Na dan Hyun Ah duduk berhadapan dengan dingin. Hari yang ditentukan telah
tiba. Perjanjian gila yang dibuat Hyun Ah benar-benar menyita perhatiannya dua
bulan ini. Masalah pekerjaan yang membuatnya ragu ditambah perjanjian gila ini
membuatnya ingin gila betulan. Bagaimana mungkin Hyun Ah melakukan permainan
seperti ini di usia seperti ini.
“Aku penasaran sekali dengan pria dua puluh detik itu. Wahh~” Hyun Ah
mengeluarkan kata-katanya. Ia tidak terlihat takut seperti minggu lalu.
“Aku juga ingin melihat baby-face mu. Aku harap ia benar-benar baby face di
usia kita.” Ree Na berkata sambil membayangkan anak SMA yang datang dengan
memakai jas. Ahh, Hyun Ah benar-benar. Pikir Ree Na kesal. Demi menjaga harga
dirinya di depan Hyun Ah, ia membuang rasa malunya mengatakan hal bodoh seperti
ini pada Soo Ha.
***
Satu minggu setelah pertemuan di kantor Soo Ha.
“Ah~ Mianhe. Aku terlambat. Kau sudah lama?”
“Gwenchanha. Yang penting aku betulan di traktir kan?” Canda Soo Ha. Ia datang
dengan mengenakan pakaian santai. Tanpa jas, tanpa dasi. Tidak terlihat berusia
tiga puluh tahun. Wajah Ree Na merona karena hatinya yang terpesona.
“Haha~ Yee! Ah. Ini tulisan yang kau minta. Kalau kau setuju akan dimuat
besok.” Ree Na datang dengan permintaan Soo Ha minggu lalu.
Satu jam sebelumnya di toilet kantor redaksi.
“Datanglah bersamaku.” “Aku dengan senang hati mengundangmu.” “Apa tidak
masalah kalau aku mengundangmu makan malam?” “Umma mengatakan untuk
mentraktirmu lagi.”
Ree Na berlatih untuk mengundang Soo Ha. Setidaknya ia mau datang bertemu
dengan Hyun Ah, memenuhi perjanjian gila itu. Ree Na khawatir sekali ditolak.
Ia tidak peduli akan malu besar setelah hari itu. Hyun Ah pasti akan
memakluminya. Tapi, Soo Ha? Akankah ia mengerti permainan anak kecil seperti
ini? Bagaimana kalau ia menolak datang. Aku harus pakai alasan apa? Ree Na
menjatuhkan tasnya dengan kesal.
Setelah makan siang bersama.
“Kau tidak harus mengantarku. Ini seperti aku berhutang kembali.” Ree Na mulai
mengatur kata-kata.
“Aku tidak hanya mengantarmu. Aku juga ingin melihat perkembangan Chugbog.” Soo
Ha melepas seatbeltnya. Lalu turun dari mobil. sebelum itu terjadi,
tiba-tiba saja Ree Na menahan tangannya. Sambil menutup mata, dengan satu
hembusan napas. Ree Na akhirnya mengatakannya.
***
“Apa aku salah mengatakannya? Apa aku kurang tulus? Kenapa dia begitu jahat?
Aku bahkan sudah mempermalukan diriku?” pikir Ree Na kesal. Ia tidak memikirkan
bagaimana wajah Hyun Ah yang tersenyum penuh kemenangan. Juga tidak memikirkan
untuk menjadi pembantu hyun Ah selama seminggu sebagai perjanjian bagi yang
kalah. Ia benar-benar tidak mengerti dengan wajah malaikat yang dipasang Tuhan
pada Soo Ha. Mengapa ia tidak datang?
Ree Na duduk di taman sendirian. Ia menatap layar ponselnya sejak tadi.
Berharap Soo Ha meneleponnya. Meminta maaf karena tidak datang. Memberikan
alasan. Alasan apa saja. Setidaknya Ree Na tidak dihina seperti ini.
Pria dua puluh detik itu memang tidak ada. Ia hanya lewat saja seperti angin.
Ia seperti hujan yang meneduhkan pikiranmu yang kalut. Setelahnya kau akan
merindukan hangatnya mentari. Ia seperti penjual kue beras keliling yang aroma
lezatnya memanggil-manggil selera makanmu, setelahnya kau lebih memilih memakan
ramen panas. Ia seperti itu saja. Ia seperti kata Hyun Ah.
“Kau
butuh waktu lama untuk menyukai seseorang. Cinta itu tumbuh karena sering
bersama. Bukan dengan waktu dua puluh detik.”
Ree
Na berjalan pulang ke rumah Hyun Ah. Tapi, ia sengaja melewati toko kelontongan
Appa yang sudah berubah menjadi mini market. Memperkerjakan pekerja paruh waktu
sehingga Appa bisa istirahat. Mini market yang memperkenalkannya pada cinta dua
puluh detik. mini market yang memberinya solusi untuk ikut permainan Hyun Ah.
Meskipun kalah. Mini market ini, haruskah ia lupakan sejarah dibaliknya?
***
Ree Ne kembali sibuk menjadi wartawan. Ia menulis lebih banyak artikel. Pulang
kerja ia membersihkan rumah Hyun Ah seperti janjinya. Hyun Ah sedang keluar
kota. Ia mendapat panggilan untuk menggelar galeri lukisan. Ree Na sadar,
meskipun orang-orang lebih suka membaca media digital. Media cetak adalah
sejarah pemberitaan dunia. Ia tidak menyesal menuliskan pikiran-pikirannya di
dalamnya.
“Nunna!” panggil Jae Ha ketika Ree Na memasuki cafe. Ia melambaikan
tangan dari sebuah meja di sudut.
“Kau tidak tahu aku sibuk? Ada apa?” bentak Rena dengan wajah juteknya.
“Kau tidak rindu rumah ya? Kenapa masih tinggal di rumah Hyun Ah Nunnim?” Jae
Ha membawakan coffee latte kesukaan Ree Na.
“Hyun Ah masih di luar kota. Sudahlah. Berita apa yang mau kau katakan?” Ree Na
menyesap kopi pesanannya. Dingin.
“Ini... sudah tiga minggu di rumah.” Jae Ha menyodorkan selembar postcard
bergambar N-Seoul Tower.
***
Tiga minggu sebelumnya. Di mobil.
“Nde? N-Seoul Tower?”
Ree Na membuka matanya sedikit. Mengintip reaksi Soo Ha atas perjuangannya
mengatakan hal yang tidak masuk akal. N-Seoul Tower benar-benar indah saat
malam? Semua orang korea juga tahu. Kenapa aku mengatakan itu? Pikir Ree Na
menyesal.
Soo ha kembali ke kursinya. Berpikir. Lalu, tersenyum melihat Ree Na yang
mengecil di sampingnya.
“Itu.. Aku... Aku punya teman yang bisa menggambar dengan baik. Ia mengenal
banyak pelukis dunia. Kalau kau tidak sibuk, mau kan bertemu dengannya...
denganku?”
Syuuut! Ree Na merasa semakin kecil. Wajahnya semakin memerah. Susah payah ia
memberanikan diri mengatakannya. Saat itu, ia benar-benar berharap Soo Ha tidak
mengatakan kalimat yang langsung akan membunuhnya seperti kecoak.
“Tentu. Aku benar-benar suka bertemu orang baru. Kirim pesan padaku, aku akan
ke sana.” Ree Na kembali membesar. Semakin membesar. Dan meledak. Hatinya.
Mengeluarkan bunga-bunga cinta.
***
Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa datang besok. Aku harus
pergi untuk urusan pekerjaan. Ini mendadak.Ponselku jatuh. Aku kehilangan
nomormu.
Aku ingin melihat indahnya N-Seoul Tower saat malam bersamamu. Kau mau
mengunggu tiga minggu dari ini?
Kim Soo Ha.
“Tiga minggu? Dua belas, sembilan belas, dua puluh delapan? Dua puluh delapan?
Tanggal berapa sekarang?” tanya Ree Na pada Jae Ha yang tersenyum penuh arti.
“Kau pacaran dengannya?”
“Tanggal berapa sekarang??!!” bentak Ree Na tidak sabar.
“Dua puluh delapan!”
Ree Na menyabet tas nya segera. Ia berlari meninggalkan cafe. Tapi, kembali
lagi. “Kenapa kau tidak bilang dari tiga minggu yang lalu?” marah Ree Na sambil
memukul kepala Jae Ha. Jae Ha meringgis kesakitan. “Terima kasih
kopinya.” Ree Na berjalan biasa meninggalkan cafe. Dengan senyuman berbunga. Di
iringi lagu-lagu cinta yang mengalun lembut di dalam khayalannya.
Saraang...
saraang...
Cinta dua puluh detik itu tidak ada. Ia hanya jembatan awal sebelum ke kisah
cinta yang sebenarnya. Ia bisa juga motivasi untuk terus mengejar impian
awalmu. Kisah cinta yang sebenarnya itu ya di sini. Di seiring perjalananmu
bersamanya. Cinta yang sebenarnya akan muncul. Bukan hanya percikan kembang
api. Tapi ledakan bintang besar. akan terjadi setelah kau menemukan jalanmu
bersamanya. Seperti Ree Na dengan pria dua puluh detiknya.
Ree Na diam-diam mengukir namanya di cable car. Ree Na dan Pria dua
puluh detik, Soo Ha. Soo Ha memegang tangan Ree na dengan erat. Tersenyum
bahagia. Mengatakan dari hati ke hati. Bahwa cinta berjalan seiring waktu
perkenalan mereka. Bahwa cinta tumbuh setelah dua puluh detik.
Makassar,
10 september 2013

Comments