Derita Penulis Pemula -- 1
OH MY GOD! Aku tak bisa berhenti
tertawa membaca cerita itu. Sampai sekarang. Ketika melihat buku bersampul biru
yang dihiasi gambar ‘lucu’ seputar move
on, hatiku menolak keras untuk membukanya. Membuka halaman dimana salah
satu ceritaku dimuat. Bukankah harusnya aku bangga akhirnya memiliki cerita
yang dimuat?
Iya! Aku sangat bangga. Akhirnya. Begitulah
ketika aku tahu cerita pendekku terpilih. Tetapi, hari demi hari mendekati
penerbitan, aku tidak tahu kenapa aku gusar. Tidak percaya diri. Tidak yakin
bahwa ceritaku bagus. Yeah! I’m an
amateur.
Ketika cerita yang kutulis dengan
hati dan segenap perasaan terpukul itu kubaca pertama kali dalam bentuk buku. Aku
tertawa lepas. Terbahak-bahak. Bagaimana mungkin aku menulis cerita seperti
ini? Terlalu menyedihkan. Terlalu mengada-ngada. Terlalu.. bukan aku.
Tanggapan teman-temanku serupa. Cerita
yang seharusnya sedih malah menjadi begitu lucu. Benarkan? Ceritaku tidak
bagus. Kenapa penerbit memilihnya? Hahaha~ siapa yang tahu. Mungkin cerita ini
ada bagusnya. Tetapi dengan kejadian yang diungkapkan di dalamnya, dimana ‘seolah’
terbesit kisah lain yang terselubung. Untuk ukuranku dan orang-orang yang
mengenalku, ini adalah cerita yang lucu. Lucu sekali sampai unsur sedihnya
menghilang begitu saja. Benarkah?
Iya! Benar sekali. Ini adalah cerita
pertama yang kutulis dengan mengikuti saran para penulis senior. “Menulislah
dari hati.” Entah itu bermakna “menulis bukan untuk uang” atau “menulislah dari
apa yang kau rasakan.” Yang jelas aku mengikuti keduanya. Menulis cerita yang
kurasakan saat hatiku terpukul. Keras oleh kejamnya kenyataan. Dan menerima
dengan ikhlas ketika penerbitan buku ini ternyata tak mendapat royalti. Yeah! I follow the rules.
Maka, buku yang seharusnya menjadi
hadiah pertamaku ini hanya tersimpan rapi di rak buku. Berdampingan dengan
buku-buku yang lain yang mulai berdebu. Aku berhenti mempromosikannya. Bahkan
nyaris tidak pernah sih. Karena aku khawatir dengan orang-orang yang mengenalku
dan membaca ceritaku dan mulai menyimpulkan kisah lain yang ‘terselubung’ di
dalamnya. Sehingga cerita sedih itu menghilang. Berganti dengan cerita lucu
yang mengocok perut. Aduh! That so stupid! Haha.
Hajiman, aku tidak akan menyerah. Cerita-cerita
seperti itu mungkin akan terlahir kembali. Keep Writing! Keep Fighting!
Karena Yang Tertulis Akan Diingat
dan Yang Terucap Akan Lenyap – ariel ‘NOAH’ <-- my favorit writer. *eh?* yeyeyeyelalalala... whatever.
*back to think about journal and
skripsweeeet ^,^
C

Comments