Flower Boys Next Door : Kisah Wanita Pembenci Dunia
Perasaan
ini datang lagi. Sudah seperti teman datang di waktu yang terjadwal. Setiap tahun,
di setiap bulan. Perasaan yang membunuhku untuk berkarya. Perasaan yang
membunuhku untuk berpikir. Perasaan yang membunuhku menemukan impian, lagi. Perasaan
ini... aku membencinya.
Hari-hari
yang sudah membosankan. Ditambah dengan hadirnya perasaan bak teman ini. Kenapa
harus perasaan ini muncul menjadi temanku? Aku berharap memiliki teman sebesar
impianku. Menjadi orang yang berani. Karena keberanian adalah sifat yang bukan
milikku. Dimana aku bisa membelinya? Dimana aku mendapatkannya? Sehingga aku
tidak perlu lagi menyembunyikan rasa takut dibalik sifat sok baikku.
Sudah
hampir puluhan tahun. Sudah mendarah daging dalam kehidupanku. Sebuah ketakutan
untuk bertemu dengan dunia luar. Tidak heran jika impian terbesarku adalah bersentuhan
dengan dunia luar. Jangan katakan aku sombong jika bertemu denganku. Aku hanya
tidak tahu bagaimana mengusir perasaan ini sehingga aku mampu berkomunikasi
dengan baik. Itu saja. Seandainya aku mampu menemukan cara lain, aku sangat
ingin memiliki banyak teman.
Suatu
hari, sahabatku datang berkunjung setelah dua tahun tidak bertemu. Kami sangat
senang bisa bertemu. Ia tidak banyak berubah, begitu pun aku. Ia masih ‘gila’
dan hyperaktif. Aku masih pendiam dan tak banyak bicara. Sehari setelah dia
kembali, aku menemukan sebuah note kecil yang biasa kugunakan sebagai penanda. Ia
rupanya mengukir gambar kami berlima lengkap dengan sifat masing-masing. Di lembar
terakhir, aku mendapat sebuah tulisan, “selalu menyesal tidak punya teman.” Terkejut,
bagaimana ia bisa mengetahui perasaanku selama ini. Mungkin karena kami telah
berteman cukup lama. Aku menjadi bertanya-tanya, benarkah aku se-kesepian ini?
Kesepian.
Aku tidak pernah berpikir bahwa kesepian itu tidak berarti saat kamu sedang
sendiri. Dulu, aku pernah merasakan kesepian yang amat mendalam. Ketika orang
tua saya pergi selama dua bulan. Meninggalkanku berjuang sendiri di tahun
terakhir SMA. aku pun berkesimpulan, kesepian itu ketika memang benar-benar
sendiri. Ternyata aku salah. Kesepian bahkan bisa kita rasakan ketika berada di
tengah keramaian. Seperti saat ini. Saat aku belajar mengenal dunia. Aku masih
tetap merasakan perasaan ini. Ia sudah seperti teman yang melekat
bertahun-tahun dan tak mau pergi. Bagaimanapun ramainya, ia tetap menjadi
temanku. Hingga akhirnya, aku menjadi benci keramaian.
Mengapa
ia bisa menjadi temanku? Di antara tujuh milyar penduduk bumi? Kenapa ia
memilihku menjadi temannya? Kenapa ia membuatku tersiksa dengan perasaan ini? Kenapa
ia memaksaku untuk merasa nyaman dengan keadaan yang ia ciptakan. Tidakkah ia
sadar impian terbesarku adalah terbebas darinya?
Awalnya,
aku merasa seperti itu. Hanya aku seorang yang ‘beruntung’ dipilihnya. Lagi-lagi
aku salah. Diantara tujuh milyar penduduk bumi, ada segelintir orang yang
senasib denganku. Bagaikan takdir yang sudah melekat, kami semua membenci
perasaan ini. Perasaan ini hadir dengan sebab dan akibat tersendiri. Semua berawal
dari masa lalu yang kelam.
Aku
memikirkan baik-baik masa laluku. Sejak kapan perasaan ini mengikuti terus
kehidupanku. Sejak aku lahir? Sejak aku belajar berjalana? Sejak aku bertemu
teman-teman kecil? atau? Sejak saat itu...
Sejak
aku sadar di suatu pagi yang cerah. Aku mendapati diriku sendirian. Di sebuah
tempat yang asing. di sebuah tempat yang hembusan anginnya terasa berbeda. Suara
cicit burung terdengar lain. bahkan rasa air putihnya berubah. Dimana aku? Aku pikir
aku mulai menerima hadirnya perasaan ini di kala itu. Di kala aku sendirian
menghadapi dunia yang begitu besar. Di kala aku harus menentukkan sendirian bagaimana
jalan hidupku ke depan di usia yang masih begitu kecil. Tujuh tahun....
Sekarang?
Haruskah aku membencinya? Setelah ia menemaniku sepanjang tahun? Haruskah aku
mengusirnya? Setelah ia datang menjadi teman kala aku kebingungan?
Untuk angin yang
berhembus, biarkan aku merasakan denyut nadi kebahagiaan lagi.
Untuk hari yang
berganti, biarkan aku menulis cerita-cerita bahagia di sisa hidupku.
Untuk Allah Yang
Maha Esa, bisakah Engkau menjadikan perasaan ini teman yang menguntungkan? Membawa
kebahagiaan misalnya. Karena aku juga tidak tega mengusirnya pergi.
C




Comments