Hujan Pertama Di Bulan September
Hujan
selalu menjadi event yang dinantikan. Banyak orang yang merindukan hujan. Bahkan
di musim dingin pun, hujan tetap dinanti-nantikan. Hujan seolah memiliki aura
kerinduan yang untuk semua orang. Udara dingin yang dibawanya diyakini dapat
memberikan perasaan baru pada suasana hati yang berubah. Entah karena rusaknya
mood atau karena suatu hal yang membuat perasaan berubah marah. Hujan menjadi
obat penenang.
Seperti
saat ini, saat hujan pertama di bulan september datang. Membawa angin kesejukan
untuk hati yang sejak tadi bergejolak marah. Kejadian demi kejadian berujung
pada masalah. Masalah demi masalah tidak pernah meninggalkan kita. mungkin
begitulah Tuhan mengatur pelajaran hidup untuk umatnya.
Musim
kemarau sudah mulai datang. Panasnya hari-hari di bumi tanpa hujan sanggup
membakar kulit sekaligus hati-hati yang sedang terluka. Maka ketika hujan
datang, ia laksana obat di musim panas.
Hujan,
kau ingatkan aku..
Akan
sebuah rindu
Hujan,
kau memberi aku
Akan
sebuah kesempatan
Seperti hari-hari sebelumnya, saat
hati ini menangis tak sabar. Kerinduan yang tertahan membakarnya pelan-pelan.
Mau bagaimana? Ini tidak bisa dikatakan sekarang. Ada yang namanya ‘waktu yang
tepat’. Ada yang disebut menunggu. Ada yang dikatakan penantian. Begitulah rasa
rindu ini akan bekerja. Rasanya tidak sanggup lagi, saat pertemua terakhir. Saat
kita berdua berusaha menahannya. Demi cinta kita kepada-Nya.
Hujan
memberi arti
Hujan
memberikan kesempatan
Hujan
bagaikan obat
Hanya
saja ada yang disebut kesempatan terakhir. Ketika jarak dan waktu perlahan
mengintai. Memperjelas sekat-sekat. Memperpanjangan masa penantian. Harusnya kita
tidak berhenti di sini. Biarkan waktu yang ada memberikan kesempatannya. Biarkan
hujan yang turun kini memberikan kenangannya. Untuk waktu yang kan berlalu. Untuk
jarak yang kan terpisah.
Hujan
melihat semua
Kesempatan
yang kuletakkan dalam kotak
Hujan
tidak mengerti
Pada
kenangan yang ingin terkubur
Kita
hanya tidak bisa melanjutkan lagi. Masih panjang perjalanan. Aku dan kamu. Masih
banyak impian yang menanti untuk diraih. Aku dan kamu. Hingga saat itu tiba,
sanggupkah kita bertahan. Hingga saat itu tiba, mengapa kau tidak menggenggam
tali kesempatan tadi?
Kala
hujan pertama di bulan september. Kala tali kesempatan mengulur. Aku tega
memutusnya. Untuk sebuah alasan yang tidak masuk akal. “aku masih belum berani
mengenal dunia. Aku masih tidak berani bercengkrama dengannya. Mengapa kau tega
memberikan kesempatan yang sulit?”
Kala
hujan pertama di bulan september. Saat dada ini sesak mendengar suaramu. Saat dada
ini bergetar mendengar hembusan napasmu. Aku ingin berlari kepadamu.
Kala
hujan pertama di bulan september. saat-saat terakhir aku bisa melihatmu. Saat-saat
terakhir yang diberikan waktu untuk kita. saat-saat itu, saat aku harus
melupakan perasaan ini, sejenak. Untuk waktu yang akan datang.
Hujan
kau ingatkan aku
Akan
sebuah rindu
Hujan
kau memberikan aku
Akan
sebuah cinta
Hujan
maukah engkau
Menjaga
kenangan ini, bersamamu...
Kita akan tahu betapa kita mencintai seseorang ketika waktu telah meninggalkan kenangan. Untuk dia yang pernah singgah. Biarkan hati ini menyimpanmu hingga waktu yang tepat. Bahkan, jika bukan dirimu. Itu adalah pilihan terbaik dari-Nya.
Dari seorang ukhti, Laa Tahzan.
C



Comments