IBUK
Dia adalah wanita paling tegar yang pernah aku lihat. Meskipun matanya lelah, kulitnya hitam legam terbakar mentari, bulatan hitam besar menghiasi dua bola matanya. Namun, semua anak-anaknya tahu bahwa ia sangat berhati hangat. Semua yang ia lakukan sejak lahir hingga saat ini hanyalah untuk orang lain. Ia tidak memikirkan diri sendiri. Ia tidak masalah mengenakan baju sekenanya diantara teman-temannya yang harum. Ia tidak masalah. Yang penting anak dan suaminya bisa makan hari ini. Ia yang bangun sejak shubuh lalu kembali saat malam mulai naik memang jarang tersenyum. Tetapi, hatinya selalu tersenyum melihat anak-anaknya bisa tersenyum. Hatinya selalu tersenyum takkala orang yang ia tolong bisa tersenyum. Ia adalah ibuku.
Lahir di keluarga yang tidak mampu membuat Ibu tak tuntas dalam pendidikan. Saat beliau muda, ibu tidak bisa mengeyam pendidikan tinggi karena tidak memiliki uang. Ia merelakan tempatnya untuk jalan adik-adiknya maju. Beliau merelakan mimpinya agar adik-adiknya bisa duduk di bangku sekolah. Keluarganya tidak mampu untuk membiayai semua sekolahnya. Ibu mengalah. Andai Ibu tidak mengalah. Mungkin, beliau tidak akan berada di pasar sayur mayur. Mungkin, ibu akan berada di balik meja kantor yang megah. Tapi, semua yang terjadi adalah kehendak Allah yang lebih baik.
Ibuku adalah anak kedua dari enam bersaudara. Ibuku memiliki peran penting dalam keluarganya. Setelah lulus SMP, ia harus mengurus adik-adiknya selagi ibunya pergi ke pasar. Ia memasak, menyapu, mencuci dan memandikan adik-adiknya. Ia yang paling jahat dari semuanya. Ia yang selalu berteriak menyuruh adik-adiknya belajar dan jangan banyak bermain. Ia yang membuat rumah menjadi bersih. Ia yang disayang oleh Ayah dan Ibunya. Ia banyak berkorban untuk adik-adiknya. Bukan uang, bukan harta. Yang ia sumbangkan adalah kasih sayang. Ketabahannya menjalani hidup yang keras menjadi semangat untuk adik-adiknya terus maju.
Kini, kerja keras saudara dan adiknya membuahkan hasil. Tidak ada yang tidak sukses. Mereka semua menjadi orang terpandang. Mereka semua memiliki rumah sendiri. Hanya Ibu yang masih tinggal di rumah nenek. Ibu tidak memiliki rumah sendiri dengan kondisi keuangannya yang hanya cukup untuk makan esok hari. Tapi, Ibu tidak pernah mengeluh. Meskipun saudaranya ada yang akhirnya tidak menyukai Ibu. Ibu menjalani semuanya dengan penuh keikhlasan. Saat matahari mulai terbit, Ibu sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Kemudian pergi ke pasar tempatnya mengais rejeki. Saat tengah hari, Ibu pulang ke rumah untuk memasak makan siang. Kemudian Ibu pergi lagi entah kemana untuk mengais rupiah. Hingga malam datang. Ibu kembali untuk meninabobokan anak-anaknya. Kegiatannya begitu setiap hari. Terulang dan sangat melelahkan. Tapi Ibu tabah menjalaninya.
Itulah yang aku lihat saat pertama kali melihatnya kembali. Dua belas tahun yang lalu, aku berpisah dengannya. Aku hanya mengingat senyum hangat dan mata tulusnya di dalam benakku. Ingatan itu pudar termakan waktu. Hingga aku bertemu lagi dengannya saat ini. Aku menangis sedih. Ibu yang kulihat dua belas tahun yang lalu tidak seperti ini. Kelelahan membuatnya terlihat lebih tua dari usianya. Ia begitu lelah. Matanya sangat terlihat jelas betapa hidup yang ia alami sangat sulit. Hidup bersama dengan suami yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Menghidupi enam orang anak dan seorang nenek. Dengan gaji yang tidak seberapa, Ayah dan Ibu bertahan dalam keterbatasan.
Aku ingin memeluknya. Aku ingin membantunya. Aku ingin membuatkan ibu sebuah rumah. Aku ingin Ayah dan Ibu bisa beristirahat dengan tenang di dalam rumah. Aku tidak ingin di usia mereka yang semakin senja masih bekerja keras. Lihatlah Ayah. Ia sudah begitu tua namun masih memaksa untuk mengangkat batu bata. Matanya mungkin sudah kabur namun masih memaksa membangun rumah untuk orang lain.
Ibu.. maafkan anakmu ini yang selalu membantah..
Ibu... maafkan anakmu ini yang selalu melukai hatimu...
Ayah... sayangilah Ibu..
Ayah.. jangan sakiti hati Ibu...
Ayah, Ibu.. aku menyayangimu..
Ayah, Ibu.. doakan anakmu ini....
*dari seorang sahabat. Untuk semua Ibu di dunia~
Comments